Minggu, 19 Agustus 2012

IMANKU, IBADAHKU, GAYA HIDUPKU

IMANKU, IBADAHKU, GAYA HIDUPKU 




Jika kehidupan Kristiani diibaratkan sebagai fundasi dan bangunan, maka kehidupan Kristiani terdiri atas susunan fundasi dasar Pokok Keimanan. Di atas dasar Pokok Keimanan ada fundasi kedua yang berdiri sebagai pilar penopang yaitu Ibadah. Dan bangunan di atas pilar tersebut adalah Gaya hidup.

Saya menyebutnya dengan istilah Ibrani Emunah (pokok keimanan) dan Avodah (ibadah) serta Halakah (gaya hidup). Persamaannya dalam bahasa Arab, Akidah (pokok kepercayaan), Ibadah (peribadatan) serta Akhlaq (gaya hidup, perilaku). Persamaan dalam Gereja Orthodox diistilahkan dengan Orthodoxia (pokok ajaran), Ortholatria (peribadatan) serta Orthopraxia (gaya hidup, perilaku).

Namun demikian tentu akan ada yang bertanya pada saya, jika demikian benar adanya, lalu mengapa Kekristenan tidak memahami hal demikian? Bukankah istilah-istilah seperti Emunah, Avodah serta Halakah adalah istilah khas milik Yudaisme? Mengapa kita sebagai orang Kristen menggunakan istilah tersebut?

Sebelum saya mengkaji perihal apa saja yang menjadi pokok keimanan dan ibadah serta gaya hidup seorang Kristen, maka saya akan menjelaskan terlebih dahulu konsep mengenai Judeochristianity.


Pemahaman Mengenai Judeochristianity


Apa itu Judeochristianity? Secara istilah, Judeochristianity berarti Kristen Yahudi.

Dalam sejarah penggunaan istilah Judeochristianity, kata ini telah mengalami perkembangan dan pergeseran makna. Istilah ini pertama kali muncul Oxford English Dictionary pada tahun 1899 dan 1910 bermakna orang-orang Kristen mula-mula yang masih menjadi bagian dari Yudaisme. Artinya, pengikut Yesus yang mula-mula adalah terdiri dari orang Yahudi. Istilah ini muncul kembali dalam sebuah surat kabar New English Weekly di bawah judul Holocaust in American Life oleh Peter Novick.

Dalam perkembangannya, istilah Judeochristianity kerap ditunggangi dengan unsur-unsur politis di Amerika. Saya sendiri lebih mendefinisikan Judeochristian atau Yudeo Kristen sebagai, Kekristenan yang menghargai dan mewujudkan nilai-nilai Yudaisme dan budaya Semitik sebagai akar Kekristenan mula-mula. Nilai-nilai Yudaisme tersebut diwujudkan dalam pokok kepercayaan, dalam ibadah dan dalam etika[1].

Yudaisme manakah yang dimaksudkan sebagai akar Kekristenan? Yudaisme Klasik atau Yudaisme Modern? Bukan Yudaisme Modern yang telah mengalami perkembangan dan dipengaruhi berbagai teori yang menolak Yesus sebagai Mesias, melainkan Yudaisme Klasik yang dimulai sejak orang Yahudi pulang dari pembuangan Babilonia pada Abad VI SM[2].

Dengan pernyataan Yudaisme sebagai akar awal Kekristenan menimbulkan pertanyaan berikutmya. Apakah Yesus seorang Kristen? Bukan! Yesus secara kemanusiaan terlahir sebagai orang Yahudi (Ibr 7:14) dari orang tua Yahudi (Mat 1:1-17; Luk 2:1-5) dan dibesarkan dalam tradisi Yahudi serta melayani dalam bingkai Yahudi dan Yudaisme al., beribadah pada hari Sabat (Luk 4:16), merayakan perayaan Yahudi (Luk 2:41-42, Yoh 7:1-13), mengajar dengan gaya rabbi Yahudi (Mat 5:1-48).

Apakah bukti bahwa Yesus seorang Yahudi?
>>>Yesus disunat pada hari kedelapan (Lukas 2:21-24), Yesus mengikuti upacara Bar Mitswah (Lukas 2:41-52), Yesus menggunakan pakaian khas Yahudi dengan Tsit-tsit (Matius 9:20), Yesus mengajar dengan gaya khas seorang rabbi Yahudi –perumpamaan, cerita, amsal, dll (Mat 5:1-48)[3].

Apakah Yudeo Kristen adalah percampuran ajaran Yudaisme dan Kristen?
>>>Bukan! Yudeo Kristen tetap membedakan antara Yudaisme dan Kekristenan. Yudaisme berpusat pada Yahweh dan Torah. Kekristenan berpusat pada Yesus dan Injil. Jadi, Yudeo Kristen berpusat pada Yahweh dan Torah sekaligus pada Yesus dan Injil.

Dengan istilah Judeochristianity atau Yudeo Kristen saya maksudkan sebagai bentuk respon dan refleksi kritis atas kehadiran Messianic Judaism yaitu gerakan diantara orang Yahudi dan Yudaisme yang telah menerima Yesus (dengan sebutan Yeshua atau Yahshua atau Yehoshua serta Yahushua) sebagai Mesias Ibrani dan tetap mempertahankan budaya Ibrani.

Karena Messianic Judaism adalah sebuah gerakan yang tumbuh dilingkungan Yudaisme dan Yahudi, maka saya merasa bahwa saya tidak harus menyebutkan diri saya dengan sebutan Messianic Judaism sekalipun saya banyak mengadopsi dan belajar pokok-pokok pikiran dalam teologi Messianic Judaism. Saya bukan berasal dari Yudaisme dan bukan pula seorang Yahudi. Saya seorang Kristen.

Saya membuat jembatan peristilahan untuk mengekspresikan sebuah keyakinan dan kajian teologi serta devosi (ibadah) yang berakar dari warisan budaya Semitik Yudaik dengan sebutan Judeochristianity atau Yudeo Kristian. Dalam beberapa tulisan terkadang saya menggunakan istilah Kristen Semitik atau Kristen Rekonstruksi.

Sebagaimana telah saya katakan dalam artikel Akar Itu Yang Menopang Kamu sbb, “Meskipun kembali ke akar iman bukan bermakna “menjadi Yahudi” dan sejenisnya, namun pemahaman tentang “Keyahudian” atau “Keisraelan” dan berbagai ekspresi ibadah, pengajaran serta tradisi-tradisi mereka, perlu dipelajari dalam terang kehadiran Yesus Sang Mesias. Hasil pemahaman mengenai “kembali ke akar Ibrani”, perlu diaktualisasikan dalam berbagai bidang penghayatan Kristiani.

Berikut beberapa bentuk aktualisasi pemahaman kembali ke akar Ibrani dalam kehidupan iman Kristiani: Dalam Ibadah (Avodah), dalam Teologi (Elohut), dalam Etika (Halakah)”.[4] Dengan kata lain, visi Back to Hebraic Root atau Kembali ke Akar Ibrani yang diusung oleh Messianic Judaism saya respon dengan mendefinisikan diri sebagai Judeochristianity atau Yudeo Kristen sebagai bentuk refleksi teologis atas pengajaran Messianic Judaism dalam Teologi dan Devosi serta Etika.

Istilah Yudeo Kristen juga saya pergunakan untuk merespon kehadiran Gereja Ortodok Timur yang juga mengekspresikan budaya Semitik dan peribadatan dengan mempergunakan bahasa Aramaik serta Arab. Baik Messianic Judaism maupun Gereja Ortodox Timur memang membawa misi untuk mengingatkan Kekristenan mengenai akar tradisi iman dan budaya mereka yaitu dari Timur khususnya budaya Semitik Yudaik.

Saya merasa lebih nyaman mempergunakan istilah Yudeo Kristen sebagai bentuk berdiri diantara Teologi Messianic Judaism dan Gereja Orthodox.

Setelah saya menjabarkan konsep mengenai apakah Judeochristianity, maka saya akan menguraikan dalil-dalil mengenai Emunah, Avodah, Halakah dari Judeochristianity tersebut.


Pokok Keimanan Kristiani (Emunah)


1 Timotius 4:6 mengatakan, “Dengan selalu mengingatkan hal-hal itu kepada saudara-saudara kita, engkau akan menjadi seorang pelayan Mesias Yesus yang baik, terdidik dalam soal-soal pokok iman kita dan dalam ajaran sehat yang telah kauikuti selama ini”. Ayat ini menegaskan pada kita bahwa sebagai seorang pengikut Mesias, kita harus terdidik dalam soal-soal pokok keimanan.

Jika seorang Kristen tidak memiliki pokok keimanan yang kokoh, maka rusaklah ibadahnya dan rusaklah gaya hidupnya akibat pemahaman dasar yang salah. Mazmur 11:3 mengatakan, “Apabila dasar-dasar dihancurkan, apakah yang dapat dibuat oleh orang benar itu?”.


Dengan demikian, pokok keimanan menempati bagian yang paling dasar dari kehidupan Kristiani. Jika dasar kehidupan Kristiani hancur, maka hancurlah ibadah dan gaya hidupnya.
Rasul Paul Yudas (Yahuda) mengatakan bahwa iman harus diperjuangkan dan rasul Paul mengatakan agar iman diteruskan serta diwariskan.

“Saudara-saudaraku yang kekasih, sementara aku bersungguh-sungguh berusaha menulis kepada kamu tentang keselamatan kita bersama, aku merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu dan menasihati kamu, supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus” (Yud 1:3).

“Aku harus memuji kamu, sebab dalam segala sesuatu kamu tetap mengingat akan aku dan teguh berpegang pada ajaran yang kuteruskan kepadamu” (2 Kor 11:2).

“Tetapi kami berpesan kepadamu, saudara-saudara, dalam nama Junjungan Agung Yesus Sang Mesias, supaya kamu menjauhkan diri dari setiap saudara yang tidak melakukan pekerjaannya dan yang tidak menurut ajaran yang telah kamu terima dari kami” (2 Tesalonika 3:6)

“Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis” (2 Tes 2:15)


Satu Tuhan dan Satu Junjungan Agung Yang Ilahi


Apakah yang menjadi pokok keimanan kita? Rasul Paul meringkas dengan susunan kredo berikut ini,” namun bagi kita hanya ada satu Tuhan saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Junjungan Agung Ilahi saja, yaitu Yesus Sang Mesias, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup”.

Karena dalam perspektif Judeochristianity nama Allah tidak tepat untuk menerjemahkan kata Yunani Theos dan kata Ibrani Elohim, maka semua kata Allah baik dalam TaNaKh maupun Kitab Perjanjian Baru dituliskan dengan Tuhan[5]

Kredo di atas dengan tegas mengatakan ADA SATU TUHAN dan ADA SATU JUNJUNGAN AGUNG ILAHI. Tuhan itu disapa Bapa. Siapakah nama Tuhan dan Bapa Surgawi itu?


Siapakah Sang Bapa itu?


Yesaya 64:8 mengatakan, “We’atta YHWH Avinu…” (dan sekarang Engkaulah YHWH Bapa kami).

Mengapa kita tidak mengenal YHWH sebagai Bapa? Karena orang Yahudi paska pembuangan enggan mengucapkan nama YHWH dan diganti dengan ungkapan euphemisme HA SHEM (Sang Nama) dan ADONAI (Tuhan). Kebiasaan ini berlanjut ketika Septuaginta (terjemahan TaNaKh dalam bahasa Yunani) menuliskan nama YHWH dengan sebutan KURIOS yang setara dengan Adonai. Kemudian Vulgata (terjemahan TaNaKh dalam bahasa Latin) menuliskan nama Tuhan dengan DOMINI. Kebiasaan ini berlanjut ketika bangsa-bangsa menerjemahkan TaNaKh dalam bahasa masing-masing, maka tradisi Yahudi paska Babilon dilestarikan yaitu mengganti nama Tuhan Yahweh dengan sapaan penghormatan. Dalam bahasa Inggris LORD, dalam bahasa Indonesia TUHAN.


Siapakah YHWH itu?


Siapakah YHWH (Yahweh) itu?

Keluaran 3:15 mengatakan, “Selanjutnya berfirmanlah Tuhan kepada Musa: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: YHWH, Tuhan nenek moyangmu, Tuhan Abraham, Tuhan Ishak dan Tuhan Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun”.

Dalam Yesaya 40:28 dikatakan, “Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? YHWH ialah Tuhan kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya”. Menurut eksposisi ayat di atas, YHWH adalah Tuhan Pencipta dan Tuhan Abraham, Ishak dan Yakub serta keturtunanya.

Apakah Makna penyapaan YHWH dengan sebutan Bapa?

Setiap huruf dalam bahasa Ibrani memiliki makna sebagaimana semua rumpun bahasa Semitik.

Kata Ibrani untuk Bapa adalah AV (אב) terdiri dari Alef (א) dan Bet (ב).

Huruf Alef merupakan huruf pertama dalam rangkaian abjad Ibrani. Huruf Alef melambangkan yang pertama ada, sumber segala sesuatu. 

Sementara huruf Bet merupakan huruf yang pertama kali muncul dalam Kitab Kejadian 1:1 “Bereshit bara Elohim et ha shamayim we et haarets” (Pada mulanya Tuhan menciptakan langit dan bumi).

Huruf Bet adalah huruf penciptaan, sang causa prima, pengada yang pertama. Makna sebutan Av (אב) adalah Dialah Sang Pengada pertama yang menyebabkan segala sesuatu ada. Dialah sumber segala sesuatu.


Mengapa Yesus mengajarkan untuk menyapa-Nya dengan sebutan Bapa? Sebenarnya penyapaan YHWH dengan sebutan Bapa Kami (Avinu) bukan hal baru sama sekali. Dalam Siddur (Buku Doa Yudaisme) ada beberapa doa yang memulai dengan sapaan AVINU. Orthodoks Judaism menyapa YHWH dengan ADONAI. Kaum Kabalist (esoterisme Yahudi) menyapa YHWH dengan EIN SOF (Tiada Akhir). Sapaan AVINU oleh Yesus hendak memberikan makna kerapatan hubungan Tuhan dan ciptaan-Nya secara lebih egaliter[6].


Dan Rasul Paul meneruskan (paradosis) apa yang telah diajarkan oleh Yesus untuk menyapa YHWH (Yahweh) dengan sebutan Bapa. Jika YHWH adalah Sang Bapa dan Tuhan Pencipta maka siapakah Yesus Sang Mesias itu?

Yohanes mengatakan, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Tuhan dan Firman itu adalah Tuhan...Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yoh 1:1)

Dari aspek hakikat (ontologi), Yesus adalah Sang Firman. Sang Firman bukanlah mahluk yang diciptakan Tuhan melainkan oleh Firmanlah segala sesuatu diciptakan (Kej 1:3, Mzm 33:6, Yoh 1:3). Keilahian Yesus terletak dari hakikat Yesus sebagai Sang Sabda yang menjelma menjadi manusia. Oleh karenanya Rasul Paul mengatakan, “...yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup” (1 Kor 8:6).


Mengapa Yesus disebut Junjungan Agung Yang Ilahi?


Namun mengapa saya menerjemahkan dengan “Junjungan Agung Yang Ilahi” terhadap Yesus? Bukankah ini menolak aspek Ketuhanan Yesus dan hanya menyamakannya dengan manusia lainnya yang memiliki gelar serupa?

Dalam keseluruhan Kitab Perjanjian Baru Yesus disapa oleh muridnya dan siapapun yang berbicara dengan beliau dengan sapaan Kurios (bhs. Yunani) atau Maran (bhs. Aram). Kata Kurios sendiri memiliki makna Tuan atau Majikan atau sebutan penghormatan sebagaimana ditunjukkan ayat-ayat berikut ini:

“Sekarang apa yang akan dilakukan oleh tuan (kurios) kebun anggur itu? Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, lalu mempercayakan kebun anggur itu kepada orang-orang lain” (Mrk 12:9)

“Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya (kurios) melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang” (Luk 12:43)

Istilah Kurios bisa ditujukan pada manusia (majikan, pemilik usaha, raja, pejabat dll) dan bisa terhadap Tuhan dan malaikat sebagaimana ayat-ayat berikut ini:

“Sebab itu segala malapetakanya akan datang dalam satu hari, yaitu sampar dan perkabungan dan kelaparan; dan ia akan dibakar dengan api, karena YHWH Tuhan (kurios ho theos), yang menghakimi dia, adalah kuat” (Why 18:8)

“Ia menatap malaikat itu dan dengan takut ia berkata: "Ada apa, Tuan? (kurios)" Jawab malaikat itu: "Semua doamu dan sedekahmu telah naik ke hadirat Tuhan dan Tuhan mengingat engkau” (Kis Ras 10:4).

Didasarkan pada analisis di atas, maka sebutan Kurios bagi Yesus dalam naskah Yunani Perjanjian Baru, seharusnya diterjemahkan dengan sebutan “Tuan” atau “Junjungan Agung”. Maka pernyataan, “Legei hautoi Kurie houte antlema ekheis kai to phrear estin bathu phosen houn ekheis to udoun to zoon” (Yokh 4:11) seharusnya diterjemahkan "Tuan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu?”. Demikian pula pernyataan, “Hosakis gar ean esthiete ton arton touton kai to poterion ton thanaton tou kuriou kataggelete akhris hou elthe (1 Kor 11:26) seharusnya diterjemahkan, “Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuan . Maka pernyataan, “Eiselthousai de oux euron to soma tou Kuriou Iesou” (Luk 24:3) pun seharusnya diterjemahkan, ““dan setelah masuk mereka tidak menemukan mayat Tuan Yesus”.

Konsekswensi logis dari pemahaman di atas, bahwa “Tuan Yesus dapat mengalami kematian sebagai manusia”, “Tubuh Tuan Yesus yang mati, dapat dikafani”. Artinya, Sang Firman yang telah menjadi manusia itu yang dijuluki “Tuan”, benar-benar logis jika mengalami kematian dan mayatnya dikafani. Namun jika “Tuhan mati” atau “mayat Tuhan dikafani”, maka akan menimbulkan pelecehan terhadap Tuhan Semesta Alam dan merendahkan hakikat-Nya yang kekal dan tidak nampak.

Apakah dengan menyebut Yesus sebagai “Tuan” atau “Junjungan Agung”, kita merendahkan hakikat Yesus yang adalah “Firman Tuhan?” apakah kita menyangkal Ketuhanan-Nya? Sekali-kali tidak! Dengan menyebut Yesus sebagai “Tuan”, kita menegaskan bahwa Dia merupakan pribadi atau sosok yang berkuasa, baik di bumi maupun di Sorga. Dengan menyebut Dia “Tuan”, kita menempatkan secara tepat panggilannya dalam kaidah tata bahasa. Dengan menyebut Yesus “Tuan”, kita menghilangkan skandalon (batu sandungan) terhadap komunitas Islam yang memiliki anggapan bahwa beberapa orang Kristen telah menyamakan begitu saya Isa dengan Allah yang dianggap sebagai Tuhan Pencipta[7].


Makna Kata Kurios Bagi Yesus


Kata Kurios berkaitan dengan kata Kuriotes yang artinya “kekuasaan”.

Kata Kuriotes muncul beberapa kali dalam Yudas 1:9, “Namun demikian orang-orang yang bermimpi-mimpian ini juga mencemarkan tubuh mereka dan menghina kekuasaan Tuhan (kurioteta) serta menghujat semua yang mulia di sorga”.

Demikian pula dalam Kolose 1:6 sbb: “Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa (kuriotetes): segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia”.

Dan akhirnya dalam Efesus 1:21 sbb: “Jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa (kuriotetos) dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang”. 

Dari kajian ayat di atas, Yesus disapa dengan Kurios (Tuan/Junjungan Agung Yang Ilahi) bermakna bahwa Dia memiliki pengaruh dan kuasa yang dinyatakan dalam ajaran dan tindakan penyembuhan dalam karya Mesianis-Nya[8].

Inilah pokok keimanan kita. Ada satu Tuhan yaitu YHWH Sang Bapa Sorgawi dan ada satu Tuan/Majikan/Penguasa/Junjungan Agung Yang Ilahi yang bernama Yesus atau Yahshua/Yeshua Sang Mesias.


Konsep Keesaan Tuhan dalam Kekristenan


Dalam perkembangannya ketika ajaran Jemaat Mesias (Gereja/Qahal) keluar dari Yerusalem dan berhadapan dengan kebudayaan pagan Yunani Romawi dengan kekuatan Filsafatnya, maka Jemaat Mesias non Yahudi mulai menggunakan alat Filsafat untuk menjawab dan menjelaskan pokok keimanan. Munculah konsili-konsili (sudang Gereja) yang berusaha menjawab berbagai permasalahan dalam doktrin dan ibadah. Dari tujuh Konsili ada 3 Konsili yang terkenal yaitu Konsili Nicea (325 Ms), Konsili Kontantinopel (381 Ms) dan Konsili Chalchedon (451 Ms).

Muncullah istilah Tritunggal rumusan Tertulianus dalam menjelaskan keesaan Bapa, Anak, Roh Kudus yaitu YHWH, Firman dan Roh-Nya yang berkarya dalam penciptaan dan penyelamatan. Pengakuan Iman atau Sahadat Rasuli yang kerap diucapkan baik di Gereja Katolik, Ortodox maupun Protestan merupakan bentuk final pengakuam iman Gereja akan Tuhan yang berkarya melalui Sang Putra dan Sang Roh Kudus.

Dari perspektif Judeochristianity, saya tidak mempergunakan istilah Tritunggal sekalipun tidak menolak kesehakikatan essensi Bapa, Anak, Roh Kudus. Saya tetap mempergunakan istilah Keesaan Tuhan sebagaimana Mesias dan para rasul menggunakan istilah tersebut.

Dalam Kitab Perjanjian Baru, Yesus kembali mengutip Shema (Mrk 12:29). Berulang kali, dalam suratnya, Rasul Paul mengungkapkan sebutan Bapa, Putra, Roh Kudus bersamaan dengan kata Esa (1 Tim 1:17, 1 Tim 2:5-6, 1 Kor 8:5-6, Gal 3:20), demikian pula Rasul Yohanes menyebutkan mengenai keesaan (Yoh 5:45) serta rasul Yudas (Yud 1:25).

Secara literal, istilah “Keesaan” adalah Firmaniah atau Scriptural.

Kedua, makna Keesaan dalam sudut pandang Scriptural adalah bahwa orang beriman harus menyembah kepada satu-satunya Tuhan yang benar, yaitu Bapa, Putra dan Roh Kudus serta bukan kepada Tuhan yang lain.

Hanya Dia lah fokus ibadah (Ul 6:13), fokus kasih (Ul 11:1), fokus doa (Mzm 143:1), fokus pujian (Mzm 66:2).

Jadi, kata “Ekhad”, bukan bermakna aritmetis semata namun bermakna metafisik.

Tuhan yang mengatasi ruang dan waktu dan yang satu-satunya berhak menerima penyembahan.

Ketiga, baik Bapa, Putra dan Roh Kudus adalah sehakikat, setara dalam kekekalan. Bapa, Putra dan Roh Kudus, keluar dari hakikat Bapa (Yoh 8:42, Yoh 15:26)[9]


Ibadah Kristiani (Avodah)


1 Timotius 4:7-8 mengatakan, “Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang”.

Kata “beribadah” dalam bahasa Ibrani dipergunakan kata Avodah. Kata Avodah muncul dalam Kitab Torah, Neviim, Kethuvim (TaNaKh atau Kekristenan lazim menyebutnya dengan Perjanjian Lama) sebanyak 145 kali. Dalam bahasa Yunani dipergunakan kata Latreuo.

Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkan kata Avodah dan Latreuo dengan “melayani”, “budak”, “mengerjakan”, “beribadah”.

“…tetapi supaya mezbah itu menjadi saksi antara kami dan kamu, dan antara keturunan kita kemudian, bahwa kami tetap beribadah (avodat) kepada YHWH di hadapan-Nya dengan korban bakaran, korban sembelihan dan korban keselamatan kami. Jadi tidaklah mungkin anak-anak kamu di kemudian hari berkata kepada anak-anak kami: Kamu tidak mempunyai bagian pada YHWH” (Yos 22:27).


“Mereka harus mengerjakan tugas-tugas bagi Akharon dan bagi segenap umat Israel di depan Kemah Pertemuan dan dengan demikian melakukan pekerjaan (avodat) jabatannya pada Kemah Suci” (Bil 3:7).

“Beribadahlah (ivdu) kepada YHWH dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai!” (Mzm 100:2).


Empat Pilar Ibadah Kristiani


Ibadah Kristiani pada awalnya berakar pada Yudaisme.

Yesus Sang Mesias adalah seorang Yahudi (Ibr 7:14) dan beribadah secara Yahudi. Demikian pula murid-murid Yesus dan para rasulnya meneruskan tata cara ibadah Yudaisme tersebut. Pilar ibadah Kristiani yang berakar pada Yudaisme meliputi sbb:[10]

1. Ibadah Harian tiga kali sehari (Tefilah Sakharit, Minkhah, Maariv – Kis 3:1; 10:3) [11]

2. Ibadah Pekanan (Sabat – Kis 13:14,27,42,44)[12]

3. Ibadah Bulanan (Rosh kodesh – Kol 2:16-17)

4. Ibadah Tahunan atau Tujuh Hari Raya (Sheva Moedim – Kis 20:16, 1 Kor 16:8)[13].

Para ahli liturgi Kristen pun mengakui bahwa beberapa tradisi liturgis dalam gereja Katholik, Orthodox dan Protestan, sebenarnya berakar dari Yudaisme. Pdt. Theo Witkamp, Th.D., menjelaskan dalam artikelnya sbb:

“Gereja Kristen dimulai sebagai suatu sekte Yahudi. Oleh karena itu, kalau kita ingin tahu tentang asal-usul dan latar belakang ibadah Kristen awal, kita terutama harus memandang kebiasaan-kebiasaan liturgis dan musikal dari agama Yahudi pada Abad Pertama Masehi”[14]

Rashid Rahman mengatakan, “Praktek ibadah harian gereja awal dilatarbelakangi oleh praktek ibadah harian Yudaisme hingga abad pertama. Latar belakang tersebut dapat berupa kontinuitas, diskontinuitas atau pengembangan dari ibadah Yudaisme”[15] Selanjutnya dikatakan, “Gereja awal tidak memiliki pola ibadah tersendiri dan asli. Mereka beribadah bersama dengan umat Yahudi dan kemudian mengambil beberapa ritus Yahudi untuk menjadi pola ibadah harian”[16]

Dalam perkembangannya, akibat suasana Anti Semit yang berkembang kuat di luar Yerusalem, Gereja dari kalangan non Yahudi (Christianoi, Kis 11:26) mulai melepaskan diri dari lingkungan Yudaisme dan Gereja dari kalangan Yahudi (Netsarim, Notsrim, Nazoraios, Kis 24:5,11). Ketika Gereja non Yahudi berkembang di luar Yerusalem, khususnya di Roma dan seluruh wilayah jajahannya dan berkembang sampai Eropa, maka Gereja mulai mengembangkan liturginya yang melepaskan banyak unsur-unsur dalam Yudaisme dan Keyahudian. Gereja tidak lagi mengenal Tefilah atau ibadah harian. Gereja menggantikan ibadat Sabat menjadi ibadat Minggu. Gereja menggantikan ibadat Sheva Moedim atau Tujuh Hari Raya menjadi Christmass dan Easter. Gereja menggantikan konsep Keesaan Tuhan menjadi Ketritunggalan Tuhan, dll.

Apa yang terjadi jika pilar-pilar yang menopang sebuah bangunan dirobohkan? Ketimpangan yang berujung pada kehancuran. Tidak heran jika selama berabad-abad Kekristenan kehilangan kesalehan dan keintiman dalam beribadah kepada Tuhan. Bangun tidur langsung berdoa tanpa mencuci muka dan tangan. Ibadah hanya seminggu sekali. Pergi ke tempat ibadah seperti hendak pergi ke pesta.

Tidak mengherankan banyak orang Kristen berpindah agama kepada Islam yang menawarkan kesalehan dan keteraturan dalam beribadah. Padahal sejatinya peribadahan Kristiani yang berakar pada Yudaisme dan yang dilestarikan oleh para rasul jika diperbandingkan dengan peribadahan dalam Islam, tiada jauh berbeda. Bahkan boleh dikatakan Islam hanya meneruskan peribadahan yang Yudaisme dan Kristen awal.


Gaya Hidup Kristiani (Halakah)


1 Timotius 4:12 mengatakan, “Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu”

Gaya hidup Kristen adalah pengejawantahan dan penerapan secara luas Pokok Keimanan dan Ibadah Kristiani. Perilaku Yesus adalah teladan sejati bagi pengikutnya. Kata perilaku dalam bahasa Arab adalah Akhlak dan dalam bahasa Ibrani Hatnahgot dan Halikot. Kata Arab Akhlak berasal dari kata Akhlaq yang merupakan jama’ dari Khulqu yang artinya perangai, budi, tabiat dan adab. Akhlak itu terbagi dua yaitu Akhlak yang Mulia atau Akhlak yang Terpuji (Al-Akhlakul Mahmudah) dan Akhlak yang Buruk atau Akhlak yang Tercela (Al-Ahklakul Mazmumah). Dalam padanan bahasa Ibrani adalah Hatnahgot tova (perilaku baik) dan Hatnaghot ra’ah (perilaku buruk).

Agar kita memiliki akhlak atau hatnihgot atau halikot yang baik, maka teladanilah akhlak Al Masih atau halikot ha Mashiakh. Rasul Petrus menuliskan sbb, “Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Mesiaspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.” (1Pet 2:21). Kata Yunani untuk Teladan adalah Hupogrammos dan dalam bahasa Ibrani adalah Mofet. Teladan yang ditinggalkan oleh Yesus Sang Mesias terekam dalam perkataan berupa ajaran dan nasihat serta perilaku beliau dalam keseharian.[17]

Sumber bagi gaya hidup Kristen adalah:
Pertama, Ajaran dan sikap hidup Yesus Sang Mesias yang terekam dalam Kitab Injil. Yesus mengajarkan hal-hal berikut:

Mengesakan Tuhan (Markus 12:29)
Memelihara Shabat (Lukas 6:5)
Memelihara Moedim (Yoh 7:37-38)
Menegakkan keadilan (Matius 23:23)
Menghormati pernikahan (Matius 19:1-12)
Mengasihi Tuhan dan sesama sebagai inti Torah (Matius 22:37-40)

Apa saja perbuatan Yesus Sang Mesias yang harus diteladani sebagai sumber gaya hidup pengikut Mesias?

Yesus menghargai orang miskin (Lukas 4:18, Yohanes 12:8)
Yesus tetap mengampuni meskipun disalibkan oleh musuh-Nya (Lukas 23:34)
Yesus menghormati kemanusiaan (Yohanes 8:1-11)
Yesus menghindari kekerasan (Yohanes 18:10)
Yesus empati terhadap orang berdosa agar mereka bertobat (Matius 9:10,13, Lukas 7:37)
dll.

Kedua, Torah sebagai sumber Halakah Mesias memerintahkan kita untuk:

Mengesakan Tuhan (Ulangan 6:4-5)
Memelihara Shabat (Keluaran 20:8-11)
Menghindari makanan yang tahor dan tame (Imamat 11:1-47)
Memelihara Moedim (hari-hari raya)
Menegakkan keadilan (Yesaya 56:1)
Membela dan melindungi janda dan anak yatim (Keluaran 22:22, Yesaya 1:17)
Memperlakukan orang miskin dengan selayaknya (Imamat 25:35)
Menghindari riba (Imamat 25:36)
Menghindari pemerasan (Imamat 19:13)
Menghindari suap (Keluaran 23:8, Ulangan 16:19)
Menjaga kebersihan (Imamat 13:1-11)
Menjaga kesehatan (Bilangan 19:14-17)
dll.[18]

Akhir dari semua uraian dalam tulisan ini adalah, biarlah kita sekalian tetap setia sampai akhirnya dalam memelihara iman, ibadah, gaya hidup kita sebagai Mesias dan mewariskan iman sebagai kekayaan yang tidak ternilai kepada anak dan cucu kita. Rasul Yohanes dengan bangga berkata, “Aku sangat bersukacita, bahwa aku mendapati, bahwa separuh dari anak-anakmu hidup dalam kebenaran sesuai dengan perintah yang telah kita terima dari Bapa” (2 Yoh 1:4).

Inilah yang harus kita hasilkan untuk keturunan kita yang akan datang.

Bukan hanya setiap memelihara iman, ibadah dan gaya hidup sebagai pengikut Mesias melainkan kita telah turut menjaga dan menegakkan kewibawaan ajaran Yesus Sang Mesias karena oleh perilaku orang Kristen sendiri, ajaran Mesias dihujat dan menjadi batu sandungan sebagaimana dikatakan:

“Semua orang yang menanggung beban perbudakan hendaknya menganggap tuan mereka layak mendapat segala penghormatan, agar nama Tuhan dan ajaran kita jangan dihujat orang’ (1 Tim 6:1)

“...hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Tuhan jangan dihujat orang” (Tit 2:5)

“Banyak orang akan mengikuti cara hidup mereka yang dikuasai hawa nafsu, dan karena mereka Jalan Kebenaran akan dihujat” (2 Ptr 2:2)


======
[1] Teguh Hindarto, Kristen Yahudi (Judeo-Christianity): Pemahaman Terminologis
http://teguhhindarto.blogspot.com/2012/02/kristen-yahudi-judeo-christianity.html

[2] Teguh Hindarto, Apakah Yahudi dan Kekristenan Berbeda?
http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/10/apakah-kekristenan-berbeda-dengan.html

[3] Teguh Hindarto, Yesus-Yahudi-Yudaisme
http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/03/yesus-yahudi-yudaisme.html

[4] Teguh Hindarto, Akar Itu Yang Menopang Kamu
http://teguhhindarto.blogspot.com/2012/01/akar-itu-yang-menopang-kamu.html

[5] Teguh Hindarto, Meninjau Ulang Penggunaan Nama Allah dalam Terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia
http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/05/meninjau-ulang-penggunaan-nama-dalam.html

[6] Teguh Hindarto, Makna Tefilah Avinu
http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/02/makna-tefilah-avinu.html

[7] Teguh Hindarto, Pemahaman Mengenai Sebutan Kurios Bagi Yesus Sang Mesias
http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/02/pemahaman-mengenai-sebutan-kurios-bagi.html

[8] Teguh Hindarto, Makna Sebutan Kurios Bagi Yesus
http://bet-midrash.blogspot.com/2011/11/makna-sebutan-kurios-bagi-yesus.html

[9] Teguh Hindarto, Pemahaman Tentang Shema Sebagai Landasan Pendidikan Ketuhanan dan Moral Kristiani

http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/02/pemahaman-tentang-shema-sebagai.html

[10] Teguh Hindarto, Pilar Ibadah Kristiani
http://bet-midrash.blogspot.com/2011/10/pilar-ibadah-kristiani.html

[11] Teguh Hindarto, Tefilah: Ibadah Harian Kekristenan
http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/02/tefilah.html

[12] Teguh Hindarto, Shabat: Ibadah Pekanan Kekristenan
http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/03/shabat-ibadah-pekanan-kekristenan.html

[13] Teguh Hindarto, Tujuh Hari Raya YHWH Sebagai Bayangan Mesias
http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/04/tujuh-hari-raya-yhwh-sheva-moedim.html

[14] Mazmur-Mazmur Kekristenan Purba Dalam Konteks Yahudi Abad Pertama, dalam Jurnal Teologi GEMA Duta Wacana, No 48 Tahun 1994, hal 16

[15] Ibadah Harian Zaman Patristik, Bintang Fajar, 2000, hal 5

[16] Ibid., hal 36

[17] Teguh Hindarto, Akhlaq Al Masih – Halikot ha Mashiakh
http://bet-midrash.blogspot.com/2011/11/akhlak-al-masih-halikot-ha-mashiakh.html

[18] Teguh Hindarto, Halakah ha Mashiakh-Syariat Al Masih (Cara Hidup Pengikut Mesias)
http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/05/halakah-ha-mashiakh-syariat-al-masih.html


Diposkan oleh Teguh Hindarto
Kamis, 01 Maret 2012





Jumat, 17 Agustus 2012

MELURUSKAN KESALAHPAHAMAN SEPUTAR KEILAHIAN YESUS

 MELURUSKAN KESALAHPAHAMAN SEPUTAR KEILAHIAN YESUS



Dalam teks Injil dan surat-surat Rasuli kita kerap menemui berbagai pernyataan YHWH dalam Kitab TaNaKh - yang lazim disebut Perjanjian Lama oleh Kekristenan – dimana berbagai pernyataan tersebut kemudian dikorelasikan dengan keilahian Yesus. Kita telah membahas di bab sebelumnya bahwa sebagaimana YHWH pernah mengucapkan kata yang diterjemahkan dalam bahasa Yunani dalam Septuaginta, dengan “Ego eimi” (Kel 3:14, Yes 46:4), lantas disimpulkanlah bahwa Yesus adalah YHWH karena Yesus berulangkali menggunakan ungkapan “Ego eimi” (Yoh 8:58; 18:4-6). Kemudian dalam naskah Septuaginta, nama YHWH diterjemahkan dengan KURIOS (Kel 3:15, Yes 42:8, Kel 20:1) demikian pula Yesus dalam Kitab Perjanjian Baru mengidentifikasi diri-Nya dengan sebutan Kurios (Yoh 13:13) dan diidentifikasi dengan julukan Kurios dalam surat-surat Rasul Paul (Roma 10:9-10, 1 Kor 12:3), maka disimpulkanlah bahwa Yesus adalah YHWH.

Ada juga yang menyimpulkan bahwa Yesus adalah Sang Bapa sendiri dengan merujuk ayat dalam TaNaKh (Kitab Perjanjian Lama) misalnya Yesaya 9:5 mengenai julukan “Bapa Yang Kekal” (Ibr: Avi Ad) dan pernyataan Yesus dalam Yohanes 8:24, “sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu." Benarkah semua pernyataan tersebut? Mari kita uji dan analisis satu persatu.

APAKAH YESUS ADALAH SANG BAPA?

Baik Kitab Injil maupun surat-surat rasuli tidak pernah menisbatkan Yesus sebagai Sang Bapa, melainkan Dia adalah Sang Anak karena hakikat Dia adalah Sang Firman yang menjadi manusia (Yoh 1:14, 18).


 Bapa menyatakan sendiri bahwa Yesus adalah Anak sebagaimana dikatakan dalam Matius 3:16-17 sbb: “Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Tuhan seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan." Jika Yesus Sang Bapa, siapa yang berkata “Inilah Anak-Ku?” Apakah Anak Tuhan berbicara kepada Anak Tuhan?


Sang Bapa dalam nubuatan mengatakan, “Aku mau menceritakan tentang ketetapan (YHWH); Ia berkata kepadaku: "Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini” (Mzm 2:7)


Malaikat yang mewartakan kelahiran Yesus mengatakan sbb: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa (Tuhan) Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, (Anak Tuhan)” (Luk 1:35)

Petrus murid Yesus menegaskan siapa Yesus dan dibenarkan oleh Yesus saat ditanya siapakah diri-Nya, sebagaimana dikatakan dalam Matius 16 :15-17, “Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak (Tuhan) yang hidup!" Kata Yesus kepadanya: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga”.

Bahkan Shatan saja mengakui bahwa Yesus adalah Anak Tuhan dengan mengatakan: “Setibanya di seberang, yaitu di daerah orang Gadara, datanglah dari pekuburan dua orang yang kerasukan setan menemui Yesus. Mereka sangat berbahaya, sehingga tidak seorang pun yang berani melalui jalan itu. Dan mereka itu pun berteriak, katanya: "Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak (Tuhan)? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?" (Mat 8:28-29)


Orang yang tidak menjadi murid Yesus pun mengakui bahwa Dia adalah Anak Tuhan sebagaimana dilaporkan dalam Matius 27:54 sbb: “Kepala pasukan dan prajurit-prajuritnya yang menjaga Yesus menjadi sangat takut ketika mereka melihat gempa bumi dan apa yang telah terjadi, lalu berkata: "Sungguh, Ia ini adalah (Anak Tuhan)"

Tidak ada satupun referensi ayat yang menegaskan secara langsung bahwa Yesus adalah Sang Bapa kecuali 2 ayat yang disalahpahami pengertiannya. Kedua ayat yang disalahpahami tersebut adalah Yesaya 9:5 yang berbunyi: “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, (Tuhan) yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai”. Ayat ini menjadi referensi nubuatan yang membuktikan sifat keilahian Mesias yang dilahirkan. Thoh Yesus tidak pernah disapa dengan sebutan “Penasihat Ajaib”, “(Tuhan) yang Perkasa”, “Bapa yang Kekal”, “Raja Damai”. Julukan profetis tersebut lebih memberikan informasi sifat keilahian Mesias atau Para Ada Mesias sebagai Sang Firman. Bukankah Firman itu tidak diciptakan melainkan menciptakan (Mzm 33:6)? Jika Dia menciptakan, maka Dia kekal. Sifat keilahian Mesias dinyatakan pula dalam Mikha 5:1 sbb: “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala”. Frasa “permulaannya sudah sejak dahulu kala” dalam bahasa Ibrani, “umotsaotaiw miqqedem” secara literal artinya “yang kehadirannya sudah sejak lampau”. Kalimat ini hendak memberikan petunjuk kekekalan Sang Mesias sebagai Firman YHWH yang berdiam bersama YHWH. Dan frasa ini hendak mengungkapkan sifat keilahian yang ditegaskan dalam Yesaya 9:5.


Ayat berikutnya yang disalahpahami adalah Yohanes 14:7-9 sbb: “Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia." Kata Filipus kepada-Nya: "(Tuan) tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami." Kata Yesus kepadanya: "Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami”. Ayat ini harus dipahami dengan membaca dan mempertimbangkan terlebih dahulu ayat-ayat yang telah dikutip sebelumnya yang menyatakan bahwa Yesus adalah Anak Tuhan (Mzm 2:7, Luk 1:35, Mat 16:15-17, Mat 8:28-29, Mat 27:54). Oleh karenanya di bawah terang pemahaman ayat-ayat sebelumnya, pernyataan Yesus ini harus dipahami dalam artian bahwa Yesus menyatakan Bapa yang tidak nampak atau Bapa yang Roh tersebut sebagaimana dikatakan dalam Yohanes 1:18 sbb: ”Tidak seorang pun yang pernah melihat (Tuhan); tetapi Anak Tunggal (Tuhan), yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya“. Dan Yesus menegaskan pada Yohanes 14:10 sbb, ”Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya”. Mengapa Yesus masih menggunakan kalimat ”Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku“ jika Dia adalah Bapa itu sendiri?


Kemudian Yohanes 8:24 mengatakan, ” Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu." Kata yang diterjemahkan ”Akulah Dia“ dalam ayat tersebut dipergunakan bahasa Yunani ”Ego eimi“. Persoalannya, apakah kata ”Ego eimi“ dalam ayat ini menunjuk pada Bapa atau menunjuk pada pengertian lain?


Sebagaimana telah diulas pada bab sebelumnya bahwa bentuk kata ”Ego eimi“ oleh Yesus dapat menunjuk dan menegaskan sifat keilahian-Nya namun disatu sisi istilah ini dapat menunjuk pada ungkapan penegasan saat seseorang berbicara. Contoh: ”Jawab malaikat itu kepadanya: "Akulah Gabriel yang melayani (Tuhan) dan aku telah diutus untuk berbicara dengan engkau dan untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu“ (Luk 1:19). Frasa "Akulah Gabriel“ dalam teks Yunani dipergunakan bentuk ”Ego eimi Gabriel“. Tidak ada yang istimewa dalam penggunaan kalimat ”Ego eimi“ pada ayat ini. Demikian pula dalam Matius 14:27 dikatakan: ”Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!". Kalimat ”Aku ini“ dalam teks Yunani dipergunakan bentuk ”Ego eimi“. Demikian pula saat Yesus menegaskan diri-Nya pada Paul di Damsyik sebagaimana dilaporkan Kisah Rasul 9:5 sbb: ”Jawab Saulus: "Siapakah Engkau, (Tuan)?" Kata-Nya: "Akulah Yesus yang kauaniaya itu“. : Kalimat, "Akulah Yesus“ dalam ayat tersebut dipergunakan bentuk ”Ego eimi Iesous“. Sekali lagi, tidak ada yang istimewa dengan penggunaan kalimat tersebut selain bentuk penegasan dan idiom Yunani yang khas. Jika membuat kesimpulan Yesus adalah Bapa berdasarkan penggunaan ”Ego eimi“, mengapa malaikat (Luk 1:19)yang menggunakan bentuk ”Ego eimi“ tidak disebut sebagai Bapa?


Dengan melakukan kajian teks di atas, sekarang kita harus memecahkan apa makna bentuk kalimat ”Ego eimi“ dalam Yohanes 8:24? Ayat 24 tidak dapat dipahami tanpa sebelumnya membaca ayat 23 dimana Yesus mengatakan,“ Lalu Ia berkata kepada mereka: "Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini“. Oleh karenanya istilah ”Ego eimi“ pada ayat 24 hendak menegaskan apa yang dinyatakan pada ayat 23 bahwa apabila orang-orang Yahudi tidak percaya bahwa Yesus adalah yang datang dari atas dan bukan dari dunia ini, maka mereka akan mati dalam dosa mereka.


APAKAH YESUS ADALAH YHWH?

Tidak ada satu referensipun dalam Perjanjian Baru yang menyatakan bahwa Yesus adalah YHWH. Masih banyak yang memiliki anggapan yang salah dan keliru dalam menalar relasi ontologis antara Bapa, Anak dan Roh Kudus dengan menyamakan begitu saja antara Yesus dan YHWH.


Penggunaan istilah Kurios kerap dijadikan alasan bahwa Yesus adalah YHWH itu sendiri. Sebagaimana kita ketahui bahwa nama YHWH (Yahweh) Tuhan Pencipta Alam yang tercantum dalam TaNaKh sekitar 6000-an, dalam naskah Septuaginta diterjemahkan dalam bahasa Yunani ”Kurios“. Ketika Kitab Perjanjian Baru merekam banyak ungkapan kata ”Kurios“ yang diucapkan sendiri oleh Yesus (Yoh 13:13) dan disematkan oleh para rasul (1 Kor 12:3, Rm 10:9-10), maka disimpulkanlah bahwa Yesus adalah YHWH sebagaima dikatakan Christopher B. Kaiser, ”Where the wording of the New Testament reflect that of the Septuagint, we may conclude that in all probability the New Testament writer had the Old Testament in mind and intended to describe Jesus as Yahweh by use of this term“ (Dimana muncul kalimat dalam Kitab Perjanjian Baru yang mencerminkan gagasan Septuaginta, maka kita berkesimpulan dengan semua kemungkinan bahwa penulis Kitab Perjanjian memiliki gagasan dan cenderung menggambarkan Yesus sebagai Yahweh dengan mempergunakan istilah tersebut)[1].


Istilah Kurios dapat ditujukan pada YHWH (Mrk 12:29, Rm 10:12), pada Raja, pada para rasul (Kis 16:31), pada malaikat (Kis Ras 10:4), pemilik pegawai (Kis 16:19), pemilik hewan (Luk 19:33). Jika Yesus adalah YHWH hanya didasarkan penggunaan kata Kurios, mengapa malaikat, para rasul dan orang-orang lain yang menggunakan istilah Kurios tidak dikatakan sebagai YHWH?


APAKAH YESUS ADALAH ELOHIM/THEOS?


Mereka yang memegang pandangan bahwa Yesus adalah Tuhan (Ibr: Elohim/Yun:Theos) mempergunakan Yesaya 9:5 (frasa “El Gibor” yang artinya “Tuhan Yang Perkasa”) dan Yohanes 10:34 dimana Yesus mengutip Mazmur 82:6 dengan mengatakan, “Tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: Kamu adalah (tuhan)?”


Namun ayat ini harus dipahami secara keseluruhan dari ayat 36 hingga 38 sbb: “Kata Yesus kepada mereka: "Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?" Jawab orang-orang Yahudi itu: "Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat (Tuhan) dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan (Tuhan)." Kata Yesus kepada mereka: "Tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: Kamu adalah (tuhan)? Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut allah -- sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan --,masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat (Tuhan)! Karena Aku telah berkata: Aku Anak (Tuhan)?”Dalam kasus pelemparan batu orang-orang Yahudi kepada Yesus, bukan dikarenakan diri-Nya menisbatkan diri sebagai Tuhan (Elohim/Theos) melainkan ucapan Yesus dianggap menyetarakan diri-Nya dengan Tuhan (ay 33). Ucapan apa yang membuat orang Yahudi tersinggung dan menuduh Yesus menyetarakan diri-Nya dengan Tuhan? Pertama, Yesus mengatakan diri-Nya berkuasa memberikan hidup yang kekal (ay 28). Kedua, Yesus menyatakan diri-Nya dan Bapa adalah satu (ay 30). Ketiga, menyatakan diri-Nya Anak Tuhan (ay 36).


Jika Yesus adalah Tuhan (Elohim/Theos) mengapa Dia justru mengajarkan pada para murid-Nya sbb: "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada (Tuhan) percayalah juga kepada-Ku” (Yoh 14:1). Demikian pula dikatakan, “Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Ada tertulis: Engkau harus menyembah (YHWH Tuhanmu), dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!" (Luk 4:8). Dan akhirnya dikatakan, “(Tuhan) itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." (Yoh 4:24).

Posted by Teguh Hindarto
----------
[1] Foundation of Faith: The Doctrine of God, Crossway Books, 1982, p. 32

Selasa, 14 Agustus 2012

MAKNA ASARA DEVARIM (SEPULUH PERINTAH) DALAM KELUARAN 20

Kamis, 01 Desember 2011

MAKNA ASARA DEVARIM (SEPULUH PERINTAH) DALAM KELUARAN 20



Teguh Hindarto

Dalam tradisi dan pemahaman orang Yahudi, perayaan Shavuot atau Pentakosta adalah perayaan panen dan sekaligus perayaan turunnya Torah di Sinai. Beberapa kebiasaan orang Yahudi menjelang dan di saat jatuh perayaan Shavuot atau Pentakosta al., membaca Kitab Suci semalam suntuk. Ada yang memilih membaca Mazmur, ada yang membaca Kitab Ruth karena berbicara mengenai pesta panen dan bayangan Mesias yang akan datang, dan ada pula yang membaca Kitab Keluaran 19-20.

Perayaan Shavuot dihubungkan dengan turunnya Torah di Sinai karena dikatakan “Pada bulan ketiga setelah orang Israel keluar dari tanah Mesir, mereka tiba di padang gurun Sinai pada hari itu juga” (Kel 19:1). Karena bulan Nisan dijadikan bulan yang pertama sebagai peringatan Pesakh dan pembebasan dari Mesir (Kel 13:4, Ul 16:1) maka tiga bulan dari bulan Nisan atau Aviv adalah bulan Siwan yang dalam kalender modern jatuh pada bulan Juni.

Kelak Tuhan YHWH menjadikan perayaan Shavuot sebagai momentum pencurahan Roh Kudus sebagai Penghibur yang menyertai orang-orang yang percaya kepada Yesus sebagai Mesias dan Anak Tuhan (Kis 2:1-47).

Beberapa hari sebelum Tuhan memberikan Torah dalam bentuk dua loh batu berisikan sepuluh perintah-Nya persiapan khusus dilakukan oleh umat Israel berdasarkan petunjuk dan pewahyuan Tuhan YHWH yaitu menyucikan diri dan dilarang bersetubuh sebagaimana dikatakan dalam Keluaran 19:10 dan 15 sbb:

“Berfirmanlah YHWH kepada Musa: "Pergilah kepada bangsa itu; suruhlah mereka menguduskan diri pada hari ini dan besok, dan mereka harus mencuci pakaiannya”

“Maka kata Musa kepada bangsa itu: "Bersiaplah menjelang hari yang ketiga, dan janganlah kamu bersetubuh dengan perempuan”

Petunjuk Tuhan YHWH di atas menjadi pedoman bagi kita sebagai umat pengikut Mesias yang hidup di Abad XXI bahwa kesucian dan kebersihan adalah prasyarat pertama datang kepada Tuhan baik dalam ibadah Tefilah atau ibadah harian maupun ibadah Shabat atau ibadah pekanan serta Moedim atau ibadah hari raya tahunan.

Itulah sebabnya jika kita mendengar sabda Tuhan diperdengarkan dan dijabarkan, seharusnya kita memiliki sikap yang hormat dan menantikan kehendak Tuhan bagi kita.

Kembali kepada peristiwa di Sinai. Apa yang terjadi ketika Torah akan diberikan kepada Bangsa Israel melalui Musa? Keluaran 19:16 mengatakan, “Dan terjadilah pada hari ketiga, pada waktu terbit fajar, ada guruh dan kilat dan awan padat di atas gunung dan bunyi sangkakala yang sangat keras, sehingga gemetarlah seluruh bangsa yang ada di perkemahan”

Peristiwa pewahyuan Torah terjadi dengan disaksikan banyak saksi yaitu orang-orang Israel di bawah gunung Sinai sekalipun gunung Sinai ditutupi awan dan kilat bergemuruh. Pewahyuan Torah bukan terjadi di tempat gelap atau di sebuah gua yang tersembunyi dimana tidak ada saksi satupun. Dan para saksi yakni bangsa Israel melihat dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana kemuliaan Tuhan YHWH menyertai turunya Torah yang diberikan kepada Musa dalam bentuk dua loh batu.

Isi dua loh batu ini disebut dengan Asara Debarim atau Sepuluh Firman. Kita mengenalnya dengan sebutan Ten Commandement atau Sepuluh Perintah. Marilah kita hayati kembali kesepuluh perintah YHWH di Sinai ini (Keluaran20:1-26)

Kesepuluh perintah ini diawali dengan preambule atau pembukaan yang mengatakan: “Ani YHWH Eloheika asyer hotsieni mi Mitsrayim mi bet Avadim” yang artinya “Akulah YHWH Tuhanmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan”. Pernyataan ini hendak menegaskan Tuhan yang membebaskan bangsa Israel memiliki nama yaitu YHWH (Yahweh) dan Tuhan yang bernama YHWH (Yahweh) adalah Tuhan yang bertindak dengan tangan-Nya sendiri untuk membebaskan umat-Nya dari perbudakan Mesir melalui Asara Negef Maskhit atau Sepuluh Tulah Kebinasaan.

Perintah yang pertama: “Lo yihye elohim akherim al panay” yang artinya “Jangan ada padamu tuhan lain di hadapan-Ku”


Dalam konteks Israel kuno, bentuk “tuhan lain” (elohim akherim) adalah patung-patung. Tuhan tidak menginginkan bangsa Israel menyembah patung dan menganggapnya sebagai Tuhan. Dalam kebudayaan modern Abad XXI bentuk-bentuk “tuhan lain” adalah materi, kedudukan, jabatan, kekayaan. Bukankah materi, kedudukan, jabatan, kekayaan terkadang menyita waktu kita dan menyebabkan Tuhan tersingkir dalam hati dan pikiran kita?

Perintah yang kedua: “Lo taashe leka fesel” yang artinya “jangan membuat bagimu patung”


“Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, YHWH, Tuhanmu, adalah Tuhan yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku”(Kel 20:3-6)

Apakah ayat ini merupakan larangan untuk membuat patung? Tepatnya larangan agar membuat patung dan sujud menyembahnya. Kalimat “lo tishtakhawe” (jangan menyembah) dan “lo taavod” (jangan beribadah) menjadi penanda bahwa bentuk-bentuk peribadatan kepada patung buatan manusia adalah perbuatan kekejian yang menimbulkan kemurkaan Tuhan YHWH?

Bagaimana dengan kecenderungan gereja tertentu yang mempergunakan patung orang kudus dan tokoh Kitab Suci sebagai sarana peribadahan? Sepanjang patung-patung tersebut diperlakukan sebagai sebuah karya seni maka tidak ada persoalan. Namun jika patung-patung tersebut menjadi sarana peribadatan individu dan komunitas maka sudah termasuk penyembahan berhala. Apalagi ada kewajiban mencium patung tersebut. Apapun alasannya.

Perintah yang ketiga: “Lo tissa et shem YHWH Eloheika lashaw” yang artinya “jangan menyebut nama YHWH Tuhanmu dengan sembarangan”.



Apakah perintah tersebut melarang kita untuk mengucapkan nama YHWH secara audible atau terdengar oleh telinga? Bukan! Maksud ayat tersebut adalah agar kita jangan sembarangan mempergunakan nama YHWH seperti bersumpah palsu demi namanya sebagaimana dikatakan dalam Keluaran 19:12 “Janganlah kamu bersumpah dusta demi nama-Ku, supaya engkau jangan melanggar kekudusan nama Tuhanmu; Akulah YHWH”.

Namun ayat di atas dimaknai oleh orang-orang Yahudi setelah mereka pulang dari pembuangan Babilonia sehingga para rabi mereka memutuskan untuk tidak menyebut nama YHWH ketika membaca Kitab Suci atau berkotbah namun menggantikannya dengan sapaan penghormatan Adonai (Tuan) dan Ha Shem (Nama Itu). Sumber larangan berasal dari Talmud yang mengatakan“…di tempat suci, seseorang mengucapkan Sang Nama sebagaimana tertulis, namun di luar tempat itu, harus dengan bentuk euphemisme” (Misnah Sotah 7:6; Berakhot Sotah 38b; Misnah Tamid 7:2).

Namun perintah tersebut justru bertentangan dengan teladan para nabi yang justru memerintahkan agar nama tersebut disebutkan dalam doa karena ada kuasa di dalam nama tersebut sebagaimana dikatakan: “Nama YHWH adalah menara yang kuat, ke sanalah orang benar berlari dan ia menjadi selamat” (Ams 18:10). Demikian pula dikatakan dalam 1 Tawarik 16:8, “Bersyukurlah kepada YHWH, panggillah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa!”

Perintah yang keempat: “Zakor et yom ha shabbat leqaddeso” yang artinya “ingatlah hari Sabat dengan menguduskannya”.


Sabat bukanlah hari ibadah Yahudi belaka. Sabat sudah ada dan ditetapkan oleh YHWH sendiri sebelum Torah diberikan pada bangsa Israel dan yang sampai hari ini dipelihara oleh orang-orang Yahudi.

Kejadian 2:1-3 mengatakan sbb: “Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya. Ketika Tuhan pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. Lalu Tuhan memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu”

Sabat adalah peringatan selesainya karya penciptaan Tuhan YHWH yang diperingati dengan berhenti dari segala aktivitas melaka atau pekerjaan yang menghasilkan keuntungan finansial. Sabat adalah hari yang diberkati dan dikuduskan oleh YHWH sendiri. Pada tahun 381 Ms Kaisar Konstantin memindahkan Sabat menjadi Minggu ketika dia memerintah sebagai kaisar Kristen pertama dan memerintahkan semua wilayah yang takluk dalam kekuasaannya mematuhi ketetapan tersebut.

Umat Kristen seharusnya tetap memelihara Sabat karena : (1) Bentuk perayaan dan peringatan terhadap karya penciptaan Tuhan yang telah selesai. (2) Karena Yesus Sang Mesias pun tetap memelihara Sabat (Luk 4:16). (3) Karena para rasul pun tetap memelihara Sabat setelah Yesus Sang Mesias naik ke Sorga (Kis Ras 13:14,27,42,44). (4) Tidak ada perintah Yesus dan rasul-rasul dalam Kitab Perjanjian Baru yang memerintahkan peribadatan pada hari Minggu.

Perintah yang kelima, “Kaved et abika we et immeka” yng artinya “hormatilah ayah dan ibumu”.


Bagaimana wujud menghormati kedua orang tua kita? Menjaga nama baiknya dan memperlakukan mereka dengan hormat serta mematuhi nasihat-nasihatnya sepanjang semua tidak bertentangan dengan perintah Tuhan. Orang Jawa memiliki falsafah “mikul dhuwur mendhem jero asmane wong tuwo” (memikul tinggi-tinggi dan memendam dalam-dalam nama baik orang tua). Kalimat ini telah mewakili makna yang dimaksudkan dalam perintah keempat ini.

Apa upah yang diperoleh saat kita menghormati orang tua kita? Umur panjang sebagaimana dikatakan, “Yaarikun yameyka al haadamah asher Eloheyka noten lak” yang artinya “supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan YHWH Tuhanmu, kepadamu”.

Perintah yang keenam, “Lo tirsakh” yang artinya “jangan membunuh”


Membunuh adalah menghilangkan nyawa orang lain. Menghilangkan nyawa orang lain berarti merusak Gambar dan Rupa Tuhan. Ada banyak penyebab orang membunuh orang lain al., kebencian dan dendam, ketakutan akan ancaman orang lain, profesi untuk memperoleh uang, penyakit kejiwaan.

Mengembangkan sikap mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama, mencegah seseorang menganggap orang lain sebagai musuh dan menghindarkan diri dari sikap membinasakan musuh.

Yesus Sang Mesias mengajarkan bahwa pengertian membunuh ternyata bukan hanya menghilangkan nyawa orang lain namun berkata-kata yang menghina dan melukai perasaan orang lain adalah pembunuhan (Mat 5:22)

Perintah yang ketujuh, “Lo tinaf” yang artinya “jangan berzinah”


Berzinah adalah memiliki hubungan tidak resmi dengan lelaki atau perempuan yang bukan suami atau istrinya. Amsal 6:32 mengatakan, “Siapa melakukan zinah tidak berakal budi; orang yang berbuat demikian merusak diri”. Orang yang berzinah memang tidak dikendalikan oleh akal sehatnya tetapi nafsunya. Tentu saja tindakan mereka dapat merusak nama baik mereka, merusak hubungan suami istri, merusak hubungan dengan anak, merusak hubungan dengan mertua.

Yesus Sang Mesias mengajarkan kepada kita bahwa perzinahan yang paling berbahaya adalah perzinahan hati dan mata sebagaimana dikatakan dalam Mat 5:28 sbb: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya”

Perintah yang kedelapan, “lo tignov” yang artinya “jangan mencuri”


Mencuri adalah mengambil yang bukan menjadi hak dan milik kita. Mencuri adalah merampas sesuatu yang diperoleh dengan kerja keras. Kita harus bekerja untuk memperoleh apa yang kita ingini dan kita harus mengendalikan diri atas keinginan kita yang tidak terpenuhi sehingga tidak terdorong untuk mencuri.

Perintah kesembilan, “Lo ta’aneh bere’aka ‘ed saqer” yang artinya “jangan mengucapkan saksi dusta terhadap sesamamu”


Dalam kasus hukum terkadang kita melihat adanya saksi-saksi palsu yang membela kepentingan orang-orang yang bersalah. Hendaklah kita tidak mengambil dalam pekerjaan kekejian tersebut. Keluaran 23:1-2 memperingatkan sbb: "Janganlah engkau menyebarkan kabar bohong; janganlah engkau membantu orang yang bersalah dengan menjadi saksi yang tidak benar. Janganlah engkau turut-turut kebanyakan orang melakukan kejahatan, dan dalam memberikan kesaksian mengenai sesuatu perkara janganlah engkau turut-turut kebanyakan orang membelokkan hukum”

Perintah kesepuluh, “Lo takhmod bet re’eka” yang artinya “janganlah mengingini milik sesamamu”.


Frasa “bet re’eka” artinya “isi rumah sesamamu” yang meliputi istrinya, hambanya, harta kekayaannya. Kecemburuan dan iri hati mendorong seseorang mengingini apa yang bukan menjadi haknya. Terjadilah pencurian, terjadilah pembunuhan. Bahkan ada yang berlomba dan terobsesi memiliki sesuatu yang dimiliki sesamannya dengan cara-cara yang melampaui batas kemampuannya. Tidak heran jika kita kerap melihat persaingan diantara tetangga karena adanya barang-barang yang mereka miliki yang belum kita miliki. Bersyukurlah dengan apa yang kita miliki dan berpikirlah positif tentang tetangga kita ketika mereka memiliki sesuatu yang tidak kita miliki.

Demikianlah Sepuluh Perintah yang tertulis dalam 2 Loh Batu yang ditulis oleh jari YHWH sendiri yang kemudian diberikan pada Musa untuk diberitahukan pada bangsa Israel.

Rabbi Moshe Maimonides (1135-1204) dalam bukunya Misney Torah menghitung bahwa jumlah keseluruhan perintah YHWH dalam Kitab Torah Musa berjumlah 613 yang terbagi dalam 365 perintah yang bersifat negatif (ditandai dengan bentuk larangan atau “lo taasheh” -janganlah) dan 248 perintah yang bersifat positip (ditandai dengan bentuk anjuran atau “taasheh” - lakukanlah).

Yesus Sang Mesias, Juruslamat dan Junjungan Agung kita Yang Ilahi meringkas menjadi dua hukum yang merupakan inti dari keseluruhan Torah yaitu mengasihi Tuhan YHWH dan mengasihi sesama manusia (Mat 22:34-40). Yesus berkata: “Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh Torah dan kitab para nabi” (Mat 2:40)

Diposkan oleh Teguh Hindarto






APAKAH HUKUM GIGI GANTI GIGI DAN NYAWA GANTI NYAWA BERTENTANGAN DENGAN AJARAN YESUS TENTANG KASIH?

Rabu, 14 September 2011

APAKAH HUKUM GIGI GANTI GIGI DAN NYAWA GANTI NYAWA BERTENTANGAN DENGAN AJARAN YESUS TENTANG KASIH?



Teguh Hindarto


Banyak orang Kristen yang menyalahpahami hukum gigi ganti gigi dan nyawa ganti nyawa bertentangan dengan hukum Kasih yang diajarkan oleh Yesus. Hukum tersebut mencerminkan kekerasan dibalas dengan kekerasan. Dengan membenturkan hukum yang tertulis dalam Torah tersebut, maka seolah-olah ajaran Yesus berlawanan dengan Torah. Benarkah pandangan tersebut?

Mari kita simak hukum YHWH dalam Imamat 24: “Juga apabila seseorang membunuh seorang manusia, pastilah ia dihukum mati. Tetapi siapa yang memukul mati seekor ternak, harus membayar gantinya, seekor ganti seekor. Apabila seseorang membuat orang sesamanya bercacat, maka seperti yang telah dilakukannya, begitulah harus dilakukan kepadanya: patah ganti patah, mata ganti mata, gigi ganti gigi; seperti dibuatnya orang lain bercacat, begitulah harus dibuat kepadanya. Siapa yang memukul mati seekor ternak, ia harus membayar gantinya, tetapi siapa yang membunuh seorang manusia, ia harus dihukum mati. Satu hukum berlaku bagi kamu, baik bagi orang asing maupun bagi orang Israel asli, sebab Akulah YHWH Tuhanmu”. Jika kita perhatikan dengan seksama pernyataan hukum di atas, justru tidak ada unsur balas dendam dan kekerasan. Sebaliknya, hukum YHWH di atas mengatur perihal penyelesaian sebuah persoalan dengan cara yang adil. Jika seseorang membunuh maka dia akan dihukum bunuh. Jika seseorang membunuh seekor ternak maka dia akan menganti dengan seekor ternak. Jika seseorang menyebabkan orang lain cacat maka maka dia akan dihukum dengan cara yang sama.


Siapa yang akan menjatuhkan hukuman? Hakim (Ibr: Softim). Hakim yang ditunjuk akan menghukum berdasarkan aturan yang telah Tuhan YHWH atur dalam Torah-Nya. Bukankah lebih tidak adil jika seseorang yang kehilangan seekor ternak dihukum mati? Bukankah tidak adil seseorang yang telah mencuri ternak dihukum mati? Jika yang hilang gigi, mengapa meminta nyawa? Dengan demikian, hukum dan aturan YHWH itu mencerminkan keadilan.

Torah melarang untuk membalas kejahatan dengan kejahatan dan membalas dendam sebagaimana dikatakan, “Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegor orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia. Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah YHWH” (Im 19:17-18).

Penjelasan dan kutipan ayat-ayat di atas merobohkan tuduhan dan kesalahpahaman orang Kristen yang mengatakan bahwa Torah mengajarkan kekerasan dan dendam.

Lalu mengapa jika hukum mata ganti mata dan gigi ganti gigi mencerminkan hukum yang adil, mengapa Yesus berkata demikian: “Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil” ?(Mat 5:38-41). Ucapan Yesus di atas bukan dimaksudkan membenturkan ajaran diri-Nya dengan Torah YHWH melainkan mengajarkan bahwa janganlah menjadikan hukum gigi ganti gigi dan nyawa ganti nyawa sebagai alasan untuk bertindak dengan main hakim sendiri. Hukum gigi ganti gigi dan nyawa ganti nyawa kerap dijadikan alasan untuk membalas dendam dan bertindak diluar hukum. Perhatikan film-film bernada kekerasan dan laga, selalu memasukkan gagasan balas dendam individu yang dirugikan.

Yesus mengajarkan agar kita memutus rantai dendam dan keinginan nafsu untuk menuntut pembalasan atas kejahatan yang dilakukan seseorang terhadap kita. Dengan mengampuni, maka kita memutus rantai dendam dan pembalasan.

Frasa “kamu telah mendengar” (bukan, “kamu telah membaca”) menunjukkan bahwa Yesus mengritik penafsiran terhadap ayat-ayat dalam Torah yang tidak tepat dan bukan mengritik Torah itu sendiri. Jika Yesus memposisikan diri-Nya melawan dan membatalkan pernyataan Torah, seharusnya Dia berkata, “Ada tertulis. Namun Aku berkata kepadamu”.

Kajian kita atas teks-teks Torah dan ucapan Yesus Sang Mesias Juruslamat kita membuktikan bahwa hukum mata ganti mata, gigi ganti gigi dan nyawa ganti nyawa bukan hukum kekerasan dan balas dendam. Sebaliknya adalah hukuk keadilan yang harus ditegakkan. Yang berhak memutuskan keadilan adalah lembaga peradilan hukum yang telah ditunjuk. Di atas segalanya, Yesus mengajarkan agar kita memutus rantai dendam dan nafsu membalas dengan cara mengampuni. Mengampuni adalah jalan menuju pembebasan dari perbuadakan nafsu dendam dan amarah.
Diposkan oleh Teguh Hindarto




SIAPAKAH NAMA BAPA SURGAWI DAN PUTRA-NYA?

Sabtu, 17 September 2011

SIAPAKAH NAMA BAPA SURGAWI DAN PUTRA-NYA? 


 Teguh Hindarto


Ada sebuah ayat yang menarik untuk direnungkan. Ayat ini merupakan sebuah teka-teki untuk dipecahkan. Amsal 30:4 mengatakan sbb: “Siapakah yang naik ke sorga lalu turun? Siapakah yang telah mengumpulkan angin dalam genggamnya? Siapakah yang telah membungkus air dengan kain? Siapakah yang telah menetapkan segala ujung bumi? Siapa namanya dan siapa nama anaknya? Engkau tentu tahu!”. Jika ada sebutan Anak maka ada sebutan Bapa, sekalipun dalam istilah Ketuhanan istilah Bapa dan Anak tidak menunjuk pada istilah bologis melainkan metafisis.

Ayat yang setara dengan Amsal 30:4 adalah Wahyu 14:1 yang menuliskan sbb: “Dan aku melihat: sesungguhnya, Anak Domba berdiri di bukit Sion dan bersama-sama dengan Dia seratus empat puluh empat ribu orang dan di dahi mereka tertulis nama-Nya dan nama Bapa-Nya”

Sebelum kita menjawab teka teki dalam Amsal 30:4, kita akan mengkaji perbedaan teks sumber berbahasa Yunani. Dalam manuskrip Byzantine (salah satunya dalam The New Testament in the Original Greek) tertulis demikian:

το ονομα αυτου και το ονομα του πατρος αυτου
(to onoma autou kai to onoma tou patros autou= nama Bapa-Nya dan nama Anak-Nya)

Namun dalam manuskrip Alexandrian (salah satunya dalam Stpehanus – Robert Estinne’s- 1550 NT)

το ονομα του πατρος αυτου
(to onoma tou patros autou=nama Bapa-Nya)

Terhadap perbedaan teks tersebut, saya lebih menerima pernyataan dalam manuskrip Alexandrian dimana yang disematkan dalam dahi pengikut Anak Domba adalah nama Bapa-Nya. Dan ini didukung oleh kesaksian Wahyu 22:3-4 yang mengatakan bahwa hanya satu nama yang akan disematkan di dahi pengikut Anak Domba, bukan dua sebagaimana dikatakan:

“Maka tidak akan ada lagi laknat. Takhta Tuhan dan Anak Domba akan ada di dalamnya dan hamba-hamba-Nya akan beribadah kepada-Nya, dan mereka akan melihat wajah-Nya, dan nama-Nya akan tertulis di dahi mereka”. Maka dapat disimpulkan bahwa yang disematkan di dahi pengikut Anak Domba adalah nama Sang Bapa. Siapakah nama Sang Bapa?

Yesaya 64:8 mengatakan dalam bahasa Ibrani:

ועתה יהוה אבינו
(we’attah YHWH Avinu= Dan sekarang ya YHWH, Engkaulah Bapa kami)


YHWH (bentuk Tetragramatton atau empat huruf konsonan bagi YAHWEH) adalah nama Tuhan (Elohim) dan Bapa Surgawi. Dalam Yudaisme ada doa saat Yom Kippur yaitu AVINU MALKEINU (Bapa kami, Raja kami). Sebutan AV (Bapa) bagi YHWH memang kurang populer dalam Yudaisme. Namun dalam Kekristenan, sebutan AV menjadi sebutan familiar untuk YHWH sebagaimana diajarkan oleh Yesus sbb:

πατερ ημων ο εν τοις ουρανοις
(Pater hemoon ho en tois ouranos)

אבינו שבשמים
(Avinu shebashamayim)

ܐܰܒ݂ܽܘܢ ܕ݁ܒ݂ܰܫܡܰܝܳܐ
(Avun d’bashmaya)

Jika kita memahami siapa nama Bapa yaitu YHWH, maka membaca Amsal 30:4 yang dimaksud dengan מה־שׁמו (mah shemo) adalah YHWH Sang Bapa. Lalu siapakah nama anak-Nya מה־שׁם־בנו (mah shem beno)?

Malaikat memberikan konfirmasi nama Anak Tuhan yaitu Sang Firman yang menjadi manusia sbb: “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus” (Luk 1:31).

Bukan hanya nama-Nya melainkan julukan-Nya sbb: “Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Tuhan Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Tuhan” (Luk 1:35).

Nama Anak-Nya adalah יהושׁע - YAHSHUA (ישוע - YESHUA dalam bahasa Ibrani) atau YESHU (ܕ݁ܝܶܫܽܘܥ dalam bahasa Aramaik) atau IESOUS (ιησουσ - dalam bahasa Yunani) (يَسُو - YASHU dalam bahasa Arab).

Dengan demikian kita telah memecahkan teka-teki dalam Amsal 30:4 bahwa nama pribadi yang mengumpulkan angin dalam genggaman tangan-Nya. Dialah Tuhan YHWH (Yahweh) dan Putra-Nya, Sang Firman yang menjadi manusia adalah Yesus (Yahshua/Yeshua).

Diposkan oleh Teguh Hindarto






TAFAKUR DAN MEDITASI DALAM PERSPEKTIF KRISTEN

Jumat, 20 Juli 2012

TAFAKUR DAN MEDITASI DALAM PERSPEKTIF KRISTEN

Teguh Hindarto



Seseorang bertanya pada saya, “bolehkah kita bermeditasi? Sebelum saya menjawab pertanyaan tersebut, marilah kita lihat satu kata Ibrani יהגה - Yehgeh (Bentuk imperfek dari Khaga). Kata Ibrani Yehgeh dibeberapa tempat dan diterjemahkan secara beragam dan dalam beberapa versi terjemahan berbahasa Inggris diterjemahkan denganMeditate (merenungkan). Kita simak sbb:

Merenungkan/Meditate (Mzm 1:1-2)

“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Torah YHWH, dan yang merenungkan(yehgeh) Torah itu siang dan malam.”

Melahirkan (Ayb 27:4)

“Maka bibirku sungguh-sungguh tidak akan mengucapkan kecurangan, dan lidahku tidak akan melahirkan (yehgeh)tipu daya”

Mengucapkan (Mazmur 37:30)
“Mulut orang benar mengucapkan (yehgeh) hikmat, dan lidahnya mengatakan hukum”


Mengatakan (Ams 8:7)

“Karena lidahku mengatakan (yehgeh) kebenaran, dan kefasikan adalah kekejian bagi bibirku”

Menimbang (Ams 15:28)

“Hati orang benar menimbang-nimbang (yehgeh) jawabannya, tetapi mulut orang fasik mencurahkan hal-hal yang jahat”

Memikirkan (Ams 24:2, Yes 33:18)

“Karena hati mereka memikirkan (yehgeh) penindasan dan bibir mereka membicarakan bencana”

“Dalam hatimu engkau akan memikirkan (yehgeh) kengerian yang sudah-sudah: "Sudah lenyapkah juru hitung, sudah lenyapkah juru timbang, dan sudah lenyapkah orang yang menghitung menara-menara?"

Mengeram (Yes 31:4)

“Sebab beginilah firman YHWH kepadaku: Seperti seekor singa atau singa muda menggeram (yehgeh) untuk mempertahankan mangsanya, dan tidak terkejut mendengar teriakan seluruh pasukan gembala yang dikerahkan melawan dia, dan tidak mengalah terhadap keributan mereka, demikianlah TUHAN semesta alam akan turun berperang untuk mempertahankan gunung Sion dan bukitnya.


Mengaduh (Yer 48:31)
“Sebab itu aku akan meratap karena Moab, akan berteriak karena Moab seluruhnya, dan akan mengaduh (yehgeh)karena orang-orang Kir-Heres!”

Dari aspek kajian bahasa, meditasi artinya aktifitas merenungkan dan memikirkan. Jika dihubungkan dengan Tuhan dan Firman-Nya, maka kita merenungkan, memikirkan, memperkatakan Nama Tuhan dan Firman-Nya. Dalam Teologi Islam aktifitas ini disebut dengan Tafakur dan Tadzakur dari kata Fikr dan Dzikr yang artinya kurang lebih merenungkan, memikirkan Tuhan dan Firman-Nya.

Setiap agama memiliki sistem meditasi. Yang jadi persoalan bukan meditasinya melainkan meditasi manakah yang kita lakukan? Meditasi Budhisme? Meditasi Hinduisme? Meditasi Islam? Meditasi Kristen? Setiap meditasi ada Akidah atauEmunah yang mendasarinya.
Dari perspektif Judeochristianity, kita diperbolehkan melakukan meditasi atau tafakur yaitu meditasi terhadap Nama Tuhan dan Firman-Nya sebagaimana petunjuk dalam Mazmur 1:2.


Kajian terhadap kata Ibrani Yehgeh menunjukkan bahwa kata ini muncul bukan dalam pengertian mistis dan pasif melainkan aktif dan dinamis serta penuh kesadaran. Kata Yehgeh bisa menunjuk pada aktifitas pikiran yang merenungkan Firman Tuhan dan bisa pula menunjuk pada aktifitas mengucapkan atau berkata-kata mengenai Nama Tuhan dan Firman Tuhan.

Mengucapkan atau memperkatakan Firman dalam budaya Semitik Yudaik kadang dilantunkan dalam nada-nada tertentu. Budaya ini dilestarikan dalam Agama Islam dan agama-agama lainnya seperti Budha dan Hindu. Dengan melantunkan ayat-ayat Firman Tuhan maka akan menentramkan hati dan fikiran serta memfokuskan kita pada Kasih dan Kuasa Tuhan semata.

Pemazmur mengatakan, “...tetapi yang kesukaannya ialah Torah YHWH, dan yang merenungkan (yehgeh) Torah itu siang dan malam.”(Mzm 1:2). Ayat ini mendorong kita untuk merenungkan, memikirkan, memperkatakan Firman Tuhan yaitu Torah baik siang maupun malam.

Pikiran yang dipenuhi dengan Firman Tuhan akan menolong kita untuk mengalami kesadaran dan keterhubungan terhadap Tuhan. Pikiran yang dipenuhi dengan sabda-sabda Tuhan akan menyegarkan diri kita sebagaimana dikatakan dalam Mazmur 19: 8-9 mengatakan, “Torah YHWH itu sempurna, menyegarkan jiwa (meshivat nafesh); peraturan YHWH itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman (makhimat petiy) Titah YHWH itu tepat, menyukakan hati (mesyakhey lev); perintah YHWH itu murni, membuat mata bercahaya (me’irat ‘enayim)”. Pikiran yang dipenuhi isi hati Tuhan yang terkandung dalam Firman-Nya akan membuat jalan yang kita tempuh menjadi terang benderang sebagaimana dikatakan dalam Mazmur 119:105, “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (ner leragliy devareka we’or lintivati).


Diposkan oleh Teguh Hindarto




Senin, 06 Agustus 2012

YHWH, Abinu Loves You

YHWH, Abinu Loves You

Joh 3:16 For YHWH so loved the world, that he gave his only begotten Son, that whosoever believeth in him should not perish, but have everlasting life.
Joh 3:17 For YHWH sent not his Son into the world to condemn the world; but that the world through him might be saved.
Joh 3:18 He that believeth on him is not condemned: but he that believeth not is condemned already, because he hath not believed in the name of the only begotten Son of YHWH.
Joh 3:19 And this is the condemnation, that light is come into the world, and men loved darkness rather than light, because their deeds were evil.
Joh 3:20 For every one that doeth evil hateth the light, neither cometh to the light, lest his deeds should be reproved.
Joh 3:21 But he that doeth truth cometh to the light, that his deeds may be made manifest, that they are wrought in Elohim.