Minggu, 30 September 2012

Redefinisi Nama 3: TUHAN YANG MENYATAKAN KEBERADAAN DIRI-NYA

Redefinisi Nama 3: TUHAN YANG MENYATAKAN KEBERADAAN DIRI-NYA  


Seri Redefinisi dan Rekonsepsi Nama Allah dan Urgensi Penggunaan Nama Yahweh Dalam Komunitas Kristiani


PROBLEMATIKA NAMA TUHAN

Ada beberapa kelompok pemikir yang menolak anggapan bahwa Yang Maha Kuasa atau Tuhan itu memiliki sebuah nama. Diantaranya adalah Komarudin Hidayat dalam bukunya, Agama Masa Depan. Beliau menjelaskan : “Persoalan pertama yang harus diselesaikan adalah, apakah hubungan antara nama [ism, name] dan yang dinamakan [al musama, the name]? Apakah nama identik dengan yang diberi nama? Apakah ia sekedar tanda petunjuk? Seberapa jauh sebuah nama bisa menunjuk dan menjelaskan sesuatu yang ditunjuk? Karena Tuhan itu Maha Absolut dan Maha Gaib, seberapa jauh bahasa manusia mampu menangkap dan memahami Tuhan?…disana tetap terdapat suatu jarak antara proposisi kognitif yang dibangun oleh nalar manusia disatu sisi san hakikat Tuhan yang tidak terjangkau pada sisi lain?” [f1] Pendapat diatas didasarkan pada pemikiran seorang Sufi bernama Ibn Al Arabi. Beliau menjelaskan bahwa Tuhan tidaklah memiliki sebuah nama. Jika Tuhan memiliki sebuah nama, berarti Tuhan dibatasi oleh nama tersebut. Jika Tuhan dibatasi, berarti bukan Tuhan[f2].

YANG MAHA KUASA MENYATAKAN SIAPA DIRINYA

Kitab Suci TaNaKh dan Besorah memberikan sebuah eksposisi yang tegas dan kongkrit, mengenai bagaimana Tuhan memperkenalkan hakikat diriNya dan keberadaanNya serta namaNya. Realitas ini dengan jelas diungkapkan dalam Keluaran 3:13-15. Ketika Musa hendak diutus Yang Maha Kuasa, dia memberanikan diri bertanya mengenai nama pribadi Yang Maha Kuasa yang telah mengutusnya. Musa bertanya kepadaNya, “Mah shemo?” Dalam tata bahasa Ibrani, untuk menanyakaan sesuatu atau seseorang, biasanya digunakan bentuk tanya “mi?. Namun penggunaan kata “ma” , bukan hanya bermaksud menanyakan nama secara literal namun hakikat atau pribadi dibalik nama itu[f3]. Pertanyaan Musa adalah pertanyaan yang bersifat Ontologis Eksistensial yang juga mewakili pertanyaan kita tentang namaNya.

Jawab atas pertanyaan diatas, rupanya telah berusaha dijawab oleh manusia yang relatif dan telah kehilangan kemuliaan Yang Maha Kuasa, sepanjang abad. Uraian-uraian filosofis yang sempat dikutip dan dipaparkan oleh Komarudin Hidayat, merupakan salah satu upaya yang dilakukan manusia untuk memahami keberadaan Sang Pencipta. Kesimpulan mereka, bahwa realitas Ketuhanan dialami oleh hampir seluruh sistem religi. Oleh karenanya, klaim pengalaman akan Keilahian dalam suatu sistem keyakinan, tidak dapat dibenarkan. Tuhan itu universal dan ada dalam setiap agama-agama. Nama Tuhan dalam agama-agama bukanlah namaNya yang sebenarnya namun simbol ghaib yang dinamakan. Pernyataan diatas, akan dihadap mukakan dengan pernyataan Kitab Suci. Keluaran 3:14 merekam jawaban Yang Maha Kuasa kepada Musa.

Dalam teks Ibrani dijelaskan, “Ehyeh Asyer Ehyeh”. Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkan dengan “Aku adalah Aku”. Terjemahan ini kurang memadai maksud yang dikandung dalam bahasa aslinya.

DR. Harun Hadiwyono dalam bukunya Iman Kristen, menyatakan bahwa kata “Ehyeh” bermakna “Aku Berada” . Akar kata “Ehyeh” berasal dari “Hayah” yang menurut para ahli merupakan rangkuman dari kata “berada” atau “menjadi” dan “bekerja” [f4] G. Johanes Boterweck dan Helmer Ringren dalam Theological Dictionary of The Old Testament menjelaskan, bahwa kata “Hayah” digunakan dalam Perjanjian Lama dan diterjemahkan dengan opsi sbb: {1} “Exist, be Present” {2}”Come into Being” {3} Auxilaries Verb[f5]

DR. Harun Hadiwyono selanjutnya menegaskan implikasi sebutan “Ehyeh” oleh Yang Maha Kuasa, yaitu bahwasanya Tuhan bagi Musa dan Israel bukanlah Tuhan yang tidak bergerak, bukan Tuhan yang mati melainkan Tuhan yang hidup dan penuh dinamika[f6] Ungkapan dalam Keluaran 3:14 merupakan suatu penyingkapan tabir kepada manusia, dalam hal ini kepada Musa, mengenai hakikat Yang Maha Kuasa dan keberadaanNya yang dituangkan dalam ungkapan kata kerja “Ehyeh” . Banyak yang memahami ayat ini sebagai penolakan Tuhan untuk menjawab pertanyaan Musa, sehingga Dia memberikan teka-teki dengan ucapan “Ehyeh” . Demikianlah Stefan Leks dalam bukunya, Menuju Tanah Terjanji, menjelaskan:
“Maka jelaslah ungkapan Alkitabiah ini menegaskan akan adanya Tuhan, tetapi sebenarnya tidak memberi jawaban siapakah nama Tuhan itu” [f7]
Pengungkapan nama Tuhan, terekam dalam Keluaran 3:15 yang dalam teks Hebraik berbunyi: “Yahweh Elohei Avotekem, Elohei Abvraham, we Elohei Yitshaq we Elohei Yaakov, shelakhmi aleikem. Ze shemi le olam we ze zikri le dor dor”. Frasa “Ze shemi le olam we ze zikri le dor dor” , meredam semua perbantahan manusia tentang namaNya. Musa tidak berspekulasi tentang namaNya. Juga tidak menamai gejala ajaib yang ada dihadapanNya, namun Dia mendengar Yang Maha Kuasa menyatakan namaNya.

Nama Yang Maha Kuasa adalah YHWH. Ada banyak penafsiran tentang Nama YHWH. Ada yang berpendapat bahwa Tetragrammaton [empat huruf] tersebut diucapkan Jehovah. Adapula yang berpendapat Yahuweh dan Yahveh. Namun indikasi kuat pengucapan YHWH adalah Yahweh, sebagaimana disitir dalam Ensiklopedia Judaica Vol III pada ulasan sebelumnya. Fakta ini diperkuat dengan ungkapan pujian “HaleluYah” yang merupakan bentuk singkat dari “Hallel” [pujilah] dan “Yah” [Yahweh]. Demikian pula nama-nama para nabi di Israel mengandung unsur-unsur nama Yahweh al., ObadYah, NehemYah, ZekharYah, MikhaYah, dll. Implikasi teologis Keluaran 3:15 adalah Yang Maha Kuasa memiliki suatu nama. Nama mencerminkan otoritas dan pribadi yang tersembunyi. Pengungkapan ini menepis spekulasi mengenai nama Tuhan yang dianggap beragam.

NAMA YAHWEH DALAM KITAB PERJANJIAN BARU

Sebagaimana telah kita ketahui bahwa Kitab Suci TaNaKh dan Besorah ditulis dalam bahasa Ibrani. Mengapa demikian? Karena sejarah ketuhanan beserta pewahyuannya terjadi dalam konteks peradaban Ibrani, melalui bangsa Ibrani, melalui para nabi yang berbahasa Ibrani [Kel 3:18; Yes 2:3; Yoh 4:22; Mzm 147:19-20]. Bahkan Kitab Perjanjian Baru yang selama ini diklaim dituliskan dalam bahasa aslinya yaitu Yunani, mulai mengalami peninjauan ulang. Fakta dilapangan membuktikan bahwa Perjanjian baru dituliskan dalam Bahasa Yunani. Hal ini ditunjukkan dalam jumlah codek, manuskrip dan papirus serta perkamen yang merekam salinan Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani. Namun beberapa ahli Perjanjian Baru mulai banyak yang meragukan pernyataan bahwa Bahasa Yunani sebagai bahasa asli Perjanjian Baru.

David Bivin dan Roy Blizard, dalam bukunya Understanding The Dificult Word of Jesus menjelaskan sbb:
“Many scholar in Israel now convinced the spoken and writen language of the Jews in the land of Israel at the time of Jesus was indeed Hebrew; and that sinoptic Gospels were derived from original Hebrew sources” [f8]
Pernyataan diatas, didukung oleh Jehoshua M. Grintz[f9] dan juga Prof David Flusser[f10] serta Mathew Black[f11]. Pernyataan mereka merujuk pada kesaksian tertulis para penerus tradisi rasuli seperti Ireneus, Origen, Eusebeius, Ephipanius serta Jerome[f12]. Baru-baru ini dipublikasikan terjemahan karya DR. James Trimm selama 10 tahun. Judul karya Trimm bernama, The Hebraic Root New Testament Version. Menurut Trimm, naskah terjemahannya, didasarkan pada manukrip Perjanjian Baru berbahasa Ibrani dan Aram yang usianya lebih tua dari naskah Tunani. Rujukan Trimm didasarkan pada naskah versi Shem Tob, versi Munster, versi Du Tillet serta Crawford ditambah Old Syriac serta Peshita Aramaic[f13]

Dalam naskah Ibrani-Aram Perjanjian Baru, digunakan terminologi Eloah untuk Yahweh, Adon untuk Yeshua. Bahkan nama Yahweh dicantumkan dalam beberapa nats Perjanjian Baru. Contoh:
“And was there until the death of Herod: to fulfil what was spoken from YHWH by the prophet, who said…” [MatitYah 2:15]

“How he entered the house of Eloah and ate the bread of the table of YHWH, which was not authorized to eat except for the cohenim and gave also to those who were with him?” [Markos 2:26]

“And when Yosef and Miriam had completed everything as [was] in the Torah of YHWH, they returned to Galil, to their city, Natzaret” [Luka 2:39]

“In the beginning was the Word and the Word was with Eloah and Eloah was the Word” [Yokhanan 1:1]

“That the Eloah of our Adon Yeshua the Messiah, the Father of glory, may give you the spirit of wisdom and the revelation in his knowledge” [Ephesian 1:17]
Fakta ini menyanggah bahwa dalam naskah Perjanjian Baru tidak ditemui nama Yahweh, melainkan telah diganti dengan Kurios. Penggantian nama Yahweh dengan Kurios, bukanlah kehendak Roh Kudus[f14], melainkan mengacu pada tradisi penerjemahan TaNaKh dalam bahasa Ibrani ke bahasa Yunani yang disebut Teks Septuaginta[f15]. Teks Septuaginta telah mengganti nama Yahweh menjadi “Kurios” yang artinya “Majikan” atau “Tuan” atau “Penguasa” .

NAMA YAHWEH DALAM INSKRIPSI KUNO

Bukti-bukti tidak hanya datang dari rekaman Kitab Perjanjian Baru dalam bahasa Ibrani maupun Aram. Inskripsi [tulisan kuno pada batu] yang ditemukan di Timur Tengah memberikan sejumlah data dan fakta yang meneguhkan eksistensi dan penggunaan nama Yahweh dalam kehidupan zaman lampau.

Tahun 1961, pada dinding sebuah gua kuno, tidak jauh dari Yerusalem Barat Daya, ditemukan prasasti Ibrani dari Abad VIII sm. Prasasti ini memuat pernyataan, “Yahweh adalah Elohim dari seluruh bumi” [f16]
Tahun 1966, di Israel Selatan, yaitu Arad, ditemukan keramik dengan tulisan kuno Ibrani. Umur tulisan paruh kedua Abad VII sebMs. Salah satu tulisan itu adalah surat pribadi kepada seorang bernama Eliashib. Tulisan tersebut berbunyi: “Kepada Tuanku, Eliashib, kiranya Yahweh menuntut perdamaian dari anda” . Kalimat tersebut diakhiri dengan, “ia berdiam dalam rumah Yahweh” [f17]
Tahun 1935-1938, ditemukan surat-surat dalam kepingan keramik di Lachis. Surat itu nampaknya ditulis oleh seorang pejabat pos depan Yudea kepada atasannya selama perang antara Israel dan Babel, akhir Abad VII sm. Dari delapan kepingan, tujuh diantaranya memulai beritanya dengan salam: “Biarlah Yahweh membuat Tuanku melihat musim ini dalam keadaan darurat” [f18]
Batu Moab yang tersimpan di Musium Louvre Prancis menuliskan nama Yahweh. Pada batu tersebut merekam ucapan Raja Nebo saat menghancurkan Bait Suci, “Aku merebut disana altar Yahweh dan menyeretnya dihadapan Kamos” [f19]
Pdt. Charles Forster melaporkan temuan prasasti Sinai yang melaporkan terbelahnyaa Laut Teberau dan berjalannya orang Israel didalamnya. Pada prasasti tersebut dikatakan bahwa “Yahweh adalah pelindung dan pendamping mereka” [f20]

NAMA YAHWEH DALAM TERJEMAHAN MODERN

Akhir-akhir ini telah diterbitkan Kitab Suci terjemahan berbahasa Inggris yang mencantumkan nama Yahweh dan Yahshua [Yeshua] dalam teks terjemahannya. Adapun Kitab-kitab tersebut al., THE SCRIPTURES, The Institute for Scripture Research, Northriding Republic of South Afrika, 2000. THE WORD OF YAHWEH, Assembly of Yahweh, 2000 THE HEBRAIC NEW TESTAMENT VERSION, Society for Advancement of Nazarene Judaism, 2001. THE RESTORATION SCRIPTURES, YATI Publishing Margate FL, North Miami Beach, Florida, 2004.

Di Indonesia ada usaha untuk mengembalikan nama Yahweh dan Yahshua [Yeshua] antara lain dengan menerbitkan KITAB SUCI TORAT DAN INJIL, Beth Yeshua ha mashiah, 2000. Ada lagi KITAB SUCI UMAT PERJANJIAN, jaringan Gereja-gereja Pengagung nama Yahweh, 2002. Karena berbagai kendala teknis, maka kehadiran Kitab ini di Indonesia, khususnya dibeberapa wilayah, masih menimbulkan kontroversi.

KESIMPULAN

Fakta historis dan etimologis, telah membuktikan bahwa nama Allah bersumber dari dunia Arab pra Islam. Upaya menghubungkan akar kata Allah, dengan istilah El, Eloah dan Elohim dalam tradisi semitik, masih menimbulkan pro dan kontra yang belum final. Penggunaan nama Allah dalam tradisi Kristen Arabia tidak orisinil, melainkan adopsi bahasa. Demikian pula penggunaannya dalam tradisi Kristen di Indonesia.

Eksposisi exegetis sejumlah nats dalam TaNaKh dan Perjanjian Baru, mengarah pada pernyataan konklusif bahwa Sang Pencipta, Yang Maha Kuasa, Bapa Surgawi yang telah mengutus PutraNya Yang Tunggal adalah Yahweh. Realitas ini perlu ditanggapi oleh gereja atau komunitas Kristiani dengan melakukan usaha redefinisi dan rekonsepsi terhadap nama Allah dan mulai memberi perhatian akan urgensi serta relevansi penggunaan nama Yahweh dalam teks terjemahan Kitab Suci dan devosi komunal [ibadah, pujian, doa].

Upaya redefinisi adalah upaya yang selaras dengan pernyataan Yahshua [Yesus] sebagaimana disabdakan, “barangsiapa tinggal dalam FirmanKu, Dia akan mengetahui Kebenaran dan kebenaran itu akan memerdekakan diriNya” [Yoh 8:32]. Demikianlah rasul Paul menjelaskan, “Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami betapa lebarnya dn panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Mesias [Kristus] dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melapaui segala pengetahuan” [Ef 3:18-19]. Sampai dimanakah pengenalan dan pengetahuan serta pemahaman akan Kebenaran dan kasih Mesias? Tidak ada batasnya. Disinilah landasan epistemologis perlunya upaya tanpa henti redefnisi pemahaman, pengenalan dan pengetahuan terhadap Kebenaran [dan bukan Kebenaran itu sendiri yang diredefinisi, karena Kebenaran tetap ada dan tiada perubahan]. Kesimpulan ini saya tutup dengan mengutip tulisan DR. Dieter Becker. Beliau menjelaskan bahwa salah satu fungsi dogmatika adalah: “fungsi produktif kontekstual,…Dogmatika harus menginterpretasikan Kitab Suci dan dogma terus menerus secara baru. Dogmatika tidak boleh tinggal dalam pertimbangan-pertimbangan historis saja. Keputusan-keputusan dari sejarah gereja dan sejarah misi membutuhkan penerjemahan kebenarannya kedalam situasi yang baru[f20]. Bersediakah kita dengan keberanian melakukan lompatan eksistensial untuk meredefinisi berbagai dogmatika yang telah tidak relevan dalam kehidupan beriman?

Footnote: [f1] : Gramedia Pustaka Tama, 2003, hal 73
[f2] : Ibid., hal 80
[f3] : J.D. Douglas, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jild I, Yayasan Bina Kasih OMF, 1994, hal 39
[f4] : BPK 1998, hal 39
[f5] : Vol III, Grand Rapids Michigan, 1978, p.373
[f6] : Loc.Cit., Iman Kristen, hal 39
[f7] : Nusa Indah Ende Flores, 1978, hal 30
[f8] : Destiny Image Publishers, 2001, p.17
[f9] : Hebrew As the Spoken and Writen Language in the Last days of the Second Temple, Journal of Biblical Literature, Vol LXXIX, 1960, p.32-47
[f10] : Op.Cit., Understanding the Dificults Word of Jesus, p.18
[f11] : An Aramaic Approach to the Gospels and Act, 3 rd ed. Oxford, 1967
[f12] : Op.Cit., Undestanding the Dificult Word of Jesus, p.23-24
[f13] : The Hebraic Root New Testament Version, Society for the Advancement of Nazarene Judaism, 2001, p.xxviii-xxxi
[f14] : Pdt. Josias Lengkong, MTh., Ph.D., Solusi Atas Kontroversi Penggunaan Nama Allah, hal 2 [makalah disampaikan di Hotel Indonesia, 25 Agustus 2000]
[f14] : Yisrael Hawkins, Why Aren’t Your Prayer Answered Today? The House of Yahweh Publications, 1995, p.10
[f15] : Israel Explorations Journal, Vol III, No 2
[f16] : Israel Explorations Journal, Vol XVI, No 1
[f17] : Nama Ilahi Yang Akan Kekal Selamanya, Watch Tower Bible & Tract Society of pensilvania, 1984, hal 13
[f18] : Ibid.
[f19] : Grant R. Jefrey, Tanda Tangan Allah, YPI Immanuel, 1999, hal 62-64
[f20] : DR. Dieter Becker, Pedoman Dogmatika, BPK 1993, hal 7


Pdt. Teguh Hindarto, MTh.
Disampaikan pada Forum Panel Diskusi
Di Auditorium Duta Wacana-Yogyakarta
Tgl 20 Oktober 2003


Re-posted with permission from:  Pdt. Teguh Hindarto, MTh.


Finally I want to say:


"YHWH ELOHEINU WE AVOTENU YEVAREK ETKEM
BE SHEM YAHSHUA MOSHIENU.
AMN.”







Redefinisi Nama 2: BAGAIMANA NAMA ALLAH DAPAT TERCANTUM DALAM TERJEMAHAN KITAB SUCI LEMBAGA ALKITAB INDONESIA?

Redefinisi Nama 2: BAGAIMANA NAMA ALLAH DAPAT TERCANTUM DALAM TERJEMAHAN KITAB SUCI LEMBAGA ALKITAB INDONESIA?  


Seri Redefinisi dan Rekonsepsi Nama Allah dan Urgensi Penggunaan Nama Yahweh Dalam Komunitas Kristiani


PEMAHAMAN TENTANG TERMINOLOGI IBRANI – YUNANI UNTUK KETUHANAN

Kitab Suci TaNaKh dan Besorah, dituliskan dalam bahasa Ibrani dan sebagiannya dalam bahasa Aram. Kemudian disalin dalam Lingua Franca [bahasa percakapan] pada waktu itu, yaitu bahasa Yunani. Inti keseluruhan Kitab Suci hendak memberikan kesaksian mengenai karya penyelamatan Elohim Yahweh lakukan mengenai suatu bangsa, yaitu Israel atau bangsa Ibrani. Dalam periode leluhur Israel, Elohim Yahweh berbicara kepada bangsa Israel untuk menjadikan alat penyelamatan, melalui pengutusan Abraham, Ishak dan Yakub beserta keturunannya. Mereka berbicara tentang Juruslamat [Mesias] dalam bentuk profetik dan tipologis.

Dalam zaman Perjanjian Baru, Elohim Yahweh berbicara kepada Israel, melalui PutraNya Yang Tunggal, Mesias yang dijanjikan. Adapun Mesias lahir dari keturunan Daud [Mik 5:1], secara antropologis, Mesias berasal dari suku Yhuda [Ibr 7:14]. Ajaran Sang Mesias, Yahshua [Yesus] diucapkan dalam bahasa Ibrani [dengan beberapa dialek Aram], kepada orang-orang Ibrani. Ajaran Sang Mesias dituliskan kemudian dalam bahasa Ibrani. Paska kenaikkan Mesias ke Sorga dan berita Kabar Baik harus disampaikan kepada bangsa-bangsa, maka Kabar Baik mulai disalin dan diterjemahkan dalam bahasa Yunani sebagai lingua franca pada waktu itu, dikarenakan Yerusalem merupakan wilayah jajahan Romawi yang menerapkan budaya Helenisme dengan bahasa pengantar Yunani.



Dalam Kitab TaNaKh, dapat dijumpai sejumlah istilah Ketuhanan dalam bahasa Ibrani, yaitu: El [Kej 33:20], Eloah [Hab 3:3], Elohim [Kej 1:1], Adonai [Yes 61:6]. Adapun nama Elohim yang disembah Israel adalah bernama Yahweh [Kel 3:15,18].

El : Yang Maha Kuat
Eloah : Yang Maha Kuasa. Sesembahan, Tuhan
Adon : Tuan
Adonai : Majikan, Penguasa, Tuhan
Elohim : Memiliki makna ganda. Pertama, merupakan istilah netral untuk mensifatkan tentang sesuatu yang disembah, baik oleh orang Israel yang monoteistik maupun diluar Israel yang politeistik. Contoh: “ki kol elohei ha amim elilim…” [1 Taw 16:26] dan “we syem elohim akherim lo tazqiru…” [Kel 23:13]. Kedua, untuk menandai jamak kehormatan bagi Yahweh Sang Pencipta. Contoh: “Yahweh, hu ha Elohim” [1 Raj 18:39].

Dalam Perjanjian Baru, padanan yang setara dengan Eloah atau Elohim, dalam bahasa Yunani adalah Theos [Yoh 1:1] dan Kurios [Yoh 4:11] serta Despotes [2 Ptr 2:1]. Naskah Septuaginta, yaitu Kitab TaNaKh dalam bahasa Yunani yang disusun pada Abad 3 seb.Ms, menggunakan kata ganti Theos setiap kali menerjemahkan Eloah atau Elohim. Setiap suku bangsa memiliki sejumlah terminologi khas yang orisinil untuk mensifatkan mengenai sesuatu yang disembah, yang mana setara dengan istilah El, Eloah, Elohim dan Theos, Kurios. Di Eropa digunakan istilah God, di Spanyol digunakan istilah Dei, dibeberapa suku di Indonesia seperti Nias, digunakan kata Lowalangi, di Batak Karo digunakan Jahoba, di Kalimantan digunakan Jubata, di Ambon digunakan Tete Manis, di tanah Jawa digunakan banyak nama al, Murbeng Jagad, Hyang Widi, dll.

KRONOLOGI HISTORIS MASUKNYA NAMA ALLAH DALAM TERJEMAHAN KITAB SUCI

Dalam buku, Hidup Bersama di Bumi Pancasila, diterangkan bagaimana kronologi masuknya agama Islam dan Kristen di Nusantara[f1]. Dijelaskan dalam buku tersebut bagaimana Islam telah lebih dahulu masuk ke Nusantara dalam dua tahap. Tahap pertama [tidak terlalu signifikan pengaruhnya] pada Abad VII-VIII oleh pedagang Arab menuju Sumatera. Tahap kedua [signifikan pengaruhnya] pada Abad XIII dibawa oleh pedagang Gujarat yang dipengaruhi mistik Persia.

Selanjutnya Portugis yang beragama Katholik, masuk nusantara pada tahun 1512. Kemudian berturut-turut masuk armada Belanda pada tahun 1596, yang kemudian membentuk kongsi dagang VOC, pada tahun 1602. Karena kebangkrutan VOC, maka sekitar tahun 1800-an, pemerintah Hindia Belanda mulai mengambil alih kepemimpinan, termasuk masalah misi dan keagamaan. Pada masa ini, mulailah muncul lembaga misi dan proses penerjemahan Kitab Suci pun dimulai.

Merujuk pada makalah DR. P.D. Latuihamalo yang dibacakan oleh DR. Katopo dalam Sarasehan Terjemahan Alkitab mengenai kata TUHAN dan ALLAH yang diselenggarakan di Bandung, Tgl 5 Juni 2001, kita mendapatkan informasi sbb: [f2] Tahun 1629, Albert Corneliz Ruyl, seorang pegawai tinggi VOC berpangkat Onderkoftman, menerjemahkan Kitab Injil Matius dari bahasa Yunani kebahasa Melayu dan bahasa Belanda. Adapun transkripsi terjemahan mengenai konsep Ketuhanan sbb:
Theos diterjemahkan menjadi Allah [Mat 4:4]
Iesous diterjemahkan menjadi Yesus [Mat 1:1]
Christos diterjemahkan menjadi Christus [Mat 16:16]
Abraam menjadi Ibrahim [Mat 1:1]

Pada tahun 1733, Melchior Lejdecker dan H.G. Klinkert pada tahun 1879 menerjemahkan dengan pola sbb:
Theos diterjemahkan menjadi Allah [Mat 4:4]
Iesous diterjemahkan menjadi Isa [Mat 1:1]
Christos diterjemahkan menjadi Al Masih [Mat 16:16]

Sementara Bode menolak menggunakan nama Isa dan Al Masih, namun beliau tetap menggunakan nama Allah sebagai ganti Theos atau Elohim. Dikarenakan dari sejak Ruyl, Lejdecker sampai Bode, tetap menggunakan nama Allah sebagai translasi dari Theos dan Elohim, maka Lembaga Alkitab Indonesia berketetapan bahwa penggunaan nama Allah tetap sah dan relevan sebagai terjemahan untuk Theos dan Elohim Lembaga Alkitab Indonesia, yang berdiri sejak tahun 1954, tetap mempertahankan nama Allah yang sudah tercantum dalam teks terjemahan kuno diatas dengan dua pertimbangan yaitu:
Sudah lama diterima oleh umum
Allah, bukan dipahami sebagai nama diri tetapi sebagai nama jenis, sebagaimana Elohim, Theos, God, Deo

Selanjutnya beliau mengatakan bahwa sejak diterjemahkannya Kitab Suci dalam bahasa Portugis [th 1748-1753], sudah dipergunakan nama JEHOVAH. Pada tahun 1839, P.Janz menerjemahkan dalam bahasa Jawa dengan transliterasi JEHUWAH. Zendeling Rinsje di tanah Batak menggunakan Djahoba. Demikian pula di Nias, digunakan Jehofa. Sementara Lejdecker menggunakan HUWA untuk YAHWEH dan Klinkert menggunakan HOEWA dan JEHOEWA, TOEHAN HOEWA dan Tuhan HOEWA.

Dalam Konferensi para penerjemah Alkitab pada tahun 1952 di Jakarta, ditetapkanlah supaya nama HUWA ditiadakan dan diganti menjadi TUHAN. Alasan terhadap persoalan tersebut adalah mengacu pada disertasi doktoral DR. H. Rosin, dosen STT Jakarta, tahun 1955 di Geneva Universiteit, bahwa empat huruf [tetragrammaton] YHWH, tidak dapat diucapkan [unpronounciable]. Karena tidak dapat diucapkan, maka petunjuk terarah adalah dengan menggunakan huruf kapital semua, TUHAN. Renungkan: LAI tetap mempertahankan penggunaan nama Allah dengan alasan nama itu telah dipakai sejak Ruyl, Lejdecker, Klinkert serta Bode. Anehnya, mengapa nama Yahweh yang telah dituliskan sejak masuknya Portugis ke Indonesia, tidak dapat dipertahankan? Jika empat huruf YHWH tidak dapat diucapkan, mengapa para penerjemah diatas, bahkan penerjemah dalam bahasa daerah sudah menggunakan nama Jehovah, Jehowa, Hoewa atau Huwa? Logiskah jika Musa, Ishak dan Yakub serta leluhur Israel tidak dapat mengucapkan nama Yahweh, padahal mereka berkomunikasi dengan Sang Pencipta secara audible? Jika naskah Kitab Suci berbahasa Ibrani dapat diterjemahkan dalam berbagai bahasa, mengapa nama Yahweh tidak dapat dituliskan? Bagaimana mungkin ada bahasa yang tidak dapat diterjemahkan dan ditransliterasikan? Dengan alasan apa Sang Pencipta memberitakan namaNya yang abstrak??


MEMPERTIMBANGKAN DOKUMEN 1939

Tahun 1896, telah beredar Injil dalam bahasa Melayu dengan judul WASIYAT YANG BEHAROE: ijaitoe Segala Kitab Perdjanjian Jang Beharoe ataw Indjil Toehan kita ISA AL MASIH. Kitab ini dicetak di Amsterdam, Belanda.

Tahun 1940, akhirnya dimunculkan revisi kitab dengan jududl muka, KITAB PERDJANJIAN BAHAROE, diterjemahkan dari bahasa Grika kepada bahasa Melayoe, dikeloearkan oleh Belandja British and Foreign Bible Society, London-National Bible Society of Scotland Edinburg-Nederlandsch Bijbel genootschap, Amsterdam. Kitab ini dicetak di Semarang, Jawa Tengah, Indonesia. Pada kata pengantar kitab terbitan tahun 1940, terlampir pandangan komite penyalin yang menuliskan pandagannya pada tahun 1939 di Sukabumi. Dalam kata pengantar tersebut, ada empat hal yang menarik untuk dicermati.

KETERLIBATAN ASISTEN MELAYU ISLAM DALAM KOMITE PENYALIN [dok, hal 1]
“Maka bagi maksud itoe, sedia ditetapkanja pada akhir tahoen 1930 soetaoe Comite Penjalin di Soekaboemi, yang sedang mengerdjakan salinan baharoe itoe dibawah pimpinan…dan berganti-ganti doea oerang assistant Melajoe djati dari tanah Melajoe…”

KESUKARAN DALAM PENERJEMAHAN DAN KEBUTUHAN UNTUK KOREKSI TANPA BATAS [dok, hal 2]
“Maka ta’dapaat tiada pembatja telah paham akan kesoekaran Comite Penjalin itoe mengadakan persatoean bahasa bagi pengertian yang am. Oleh sebab itoe djoega dipinta kepada pembatja yang insaf akan mengingatkan segala toentoetan terdjemahan yang sukar itu”.

ALLAH, NAMA TUHAN [dok. Hal 3]
“Karena ma’na Toehan menoeroet perasaan orang Arab dan orang Melajoe djati ialah Allah. Demikian djuga menurut djalan bahasa Arab dan logat Melajoe djati, adalah perkataan Allah itoe boekanja sedjenis nama yang dinamakan, seperti pada perasaan disebelah barat tentang perkataan God. Oleh jand demikian maka perkataan Allah yang bersamboeng dengan koe, moe, nja, dengan toedjoean poenja, itoe bersalahan dengan perasaan orang Melajoe yang diloear golongan Keristen”

KETERGANTUNGAN PADA BAHASA ARAB MELAYU [dok. Hal 5]
“Kadang-kadang penjalin terpaksa menggoenakan bahasa Melajoe, sebab tiada ada kata Melajoe djati yang boleh mensifatkan pengertian ataw toedjoean nas asli dengn sebetul-betulnya”

Dari eksposisi historis diatas, dapat kitaa menyimpulkan bahwa penggunaan nama Allah yang tercantum dalam Kitab Suci TaNaKh maupun Besorah, sebenarnya bermula dari proses penerjemahan dengan melalui suatu adopsi sesembahan orang Melayu yang beragama Islam. Proses adopsi tersebut, bukan didasarkan pada suatu pemahaman teologis yang mendalam, melainkan hanya didasarkan pada proses kontekstualisasi semata, tanpa mengkaji dan mempertimbangkan bahwa nama Allah bukanlah istilah pengganti yang tepat untuk Elohim, Theos atau God. Kita juga melihat bagaimana sejumlah perbendaharaan bahasa Indonesia masih sangat terbatas dan terus mengalami perkembangan sehingga mengalami kesukaran dalam penerjemahan yang mengakibatkan banyak meminjam unsur Arab. Berlandaskan kenyataan diatas, terjemahan Kitab Suci yang ada bukanlah hasil karya yang harus dikeramatkan, melainkan karya terjemahan yang harus terus diselaraskan secara relevan dengan perubahan zaman.

Masih kita jumpai dibeberapa nats Kitab Suci terjemahan LAI yang masih mengandung unsur kata yang tidak jelas maknanya seperti ‘terbantun’ [Yud 1:12], ‘galah rangsang’ [Kis 26:414], ‘mati bulur’ [Ray 4:5]. Bahkan ada sejumlah nats terjemahan yang kuirang atau tidak cocok dengan bahasa aslinya. Mengenai terminologi Ketuhanan, terasa rancu sekali jika kita menderetkan kata-kata seperti TUHAN dengan Tuhan, ALLAH dengan Allah dan allah, padahal pengucapannya sama. Bagaimana anda menjelaskan perbedaan antara ALLAH, Allah dan allah dalam terjemahan Kitab Suci berbahasa Indonesia versi LAI, padahal semua diucapkan sama?

Footnote:


Pdt. Teguh Hindarto, MTh.
Disampaikan pada Forum Panel Diskusi
Di Auditorium Duta Wacana-Yogyakarta
Tgl 20 Oktober 2003

[f1] : Bambang Ruseno Oetomo, PSAK, 1993, hal 33-35
[f2] : Latar Belakang Historis Terjemahan LAI Mengenai Nama: YHWH=TUHAN;Elohim=Allah, PGPK, hal 1-3


Re-posted with permission from: Pdt. Teguh Hindarto, MTh.



Finally I want to say:
"YHWH ELOHEINU WE AVOTENU YEVAREK ETKEM
BE SHEM YAHSHUA MOSHIENU.
AMN.”





Redefinisi Nama 1: ALLAH: DARI ARABIA PRA ISLAM HINGGA INDONESIA MODERN

Redefinisi Nama 1: ALLAH: DARI ARABIA PRA ISLAM HINGGA INDONESIA MODERN  

Seri Redefinisi dan Rekonsepsi Nama Allah dan Urgensi Penggunaan Nama Yahweh Dalam Komunitas Kristiani



PEMAHAMAN TENTANG ARABIA PRA ISLAM

Arabia pra islam, artinya dunia Arab sebelum tersentuh nilai-nilai dan ajaran Islam yang diajarkan oleh Muhamad bin Abd’llah. Adapun karakteristik dunia Arabia pra Islam adalah:[f1]
Secara Politis: Dikelilingi oleh tiga kerajaan besar dan berpengaruh yaitu, Sasanid Persia, Byzantium di Roma dan Abysinia di Afrika.
Secara Sosial : Pola kehidupan masyarakat yang masih menonjol kesukuannya [tribal humanism].
Secara Kultural : kehidupan masyarakat yang masih dikuasai kebodohan.
Secara Spiritual : Merebaknya animisme [kepercayaan bahwa setiap benda didiami roh], dinamisme [kepercayaan pada daya-daya gaib pada benda atau tempat tertentu], fetisisme [kepercayaan pada jin-jin yang bersifat baik maupun jahat], hanifisme [tendensi monoteistik yang bersifat asketik] serta perbauran komunitas Yahudi dan Kristen yang datang pada Abad 1 Ms. Adapun komunitas Yahudi dan kristen berdomisili di Medinah.

NAMA ALLAH PRA ISLAM

Sebelum Islam berkembang sebagai agama definitif yang diproklamirkan oleh Muhamad dengan sahadat “La Ilah ila Allah” , adapun nama Allah itu sendiri telah jauh dikenal didunia Arabia. Berikut pernyataan maupun komentar para ahli, baik dari kalangan Islam maupun Kristen Barat yang meneliti keislaman [Orientalisme]. Allah adalah nama dewa yang mengairi bumi dan ternak[f2], nama dewa yang disejajarkan dalam sumpah-sumpah orang Quraish[f3], nama dewa tertinggi suku badui Arab[f4], nama dewa tertinggi diantara sekian banyak dewa lain yang disembah penduduk Mekkah pra Islam[f5], nama dewa bulan pra Islam dengan simbolisasi bulan sabit[f6], kata nama yang diterapkan hanya untuk menyatakan dewanya orang Arab secara khusus[f7], nama dewa jaman pra Islam yang sama artinya dengan nama dewa Bel dari Babilonia[f8].

ASAL USUL NAMA ALLAH

Mengenai asal-usul nama Allah itu sendiri, masih menjadi bahan perdebatan baik dikalangan Kristen maupun Islam. Kita akan melihat sekilas pemetaan silang pendapat mengenai asal-usul nama Allah dibawah ini.

Pandangan Islam: Allah, berasal dari kata Al [definite article, The] dan Ilah [generic name, God]. Penyingkatan dari kata Al dan Ilah menjadi Allah, untuk menandai sesuatu yang telah dikenal. Dalam perkembangannya, untuk mempermudah hamzat yang berada diantara dua lam [huruf ‘LL’], huruf ‘I’ tidak diucapkan sehingga berbunyi Allah dan menjadi suatu nama yang khusus dan tidak berakar[f9]. Ada pula yang berpendapat bahwa Allah berasal dari Al Ilahah, Al Uluhah dan Al Uluhiyah yang bermakna ibadah atau penyembahan[f10]. Yang lain mengajukan bahwa Allah berasal dari kata Alaha yang berarti menakjubkan atau mengherankan karena segala perbuatannya[f11]. Sementara ada yang berargumentasi bahwa Allah berasal dari kata, Aliha ya’lahu yang bermakna tenang[f12]. Kelompok pemikir dari Kufah mengatakan bahwa Allah, berasal dari Al-Lah, yang diambil dari verba noun lah yang berasal dari kata lahaya yang bermakna menjadi tinggi[f13]. Sedangkan Ibn Al Arabi menyatakan bahwa Tuhan itu tidak bernama, tetapi Dzat yang dinamakan oleh umatNya. Penamaan terhadap Tuhan, berarti melimitasi eksistensi Tuhan[f14].

Pandangan Kristen : Ada yang beranggapan bahwa Allah adalah berasal dari sumber Syriac, Alaha[f15]. Sementara yang lain berpendapat bahwa Allah berasal dari akar kata rumpun semitis El, Eloah dan Elohim serta Alaha. Bentuk Arabnya Ilah, lalu mendapat imbuhan Al yang berfungsi sebagai definite article [The God- Al Ilah-Allah] [f16]. Kata Allah berasal dari Al dan Ilah. Akar kata ini terdapat dalam semua bahasa semitis, yaitu dua konsonan alif dan lam serta ucapan yang lengkap dengan huruf hidup adalah sesuai dengan phonetik masing-masing[f17]. George Fry dan James R. King menyampaikan, “the name by which God is known to muslim, Allah is generally thought to be the proper noun form of the Arabic word for God, Ilah. Al, meaning The ini Arabic word. This word is related to the Hebrew from El and Elohim[f18]. J. Blau menjelaskan bahwa kata Allah adalah murni dari konteks Arab dan bukan dari sumber Syriac[f19].

PENGGUNAAN NAMA ALLAH DALAM KEKRISTENAN DI INDONESIA

Nama Allah, yang berasal dari dunia Arabia pra Islam, ternyata masih diperdebatkan mengenai akar kata maupun artinya. Nama Allah, telah diadaptasi oleh Kekristenan di Indonesia, melalui teks terjemahan Kitab Suci berbahasa Melayu yang telah berlangsung sejak tahun 1629 [A.C. Ruyl], Th 1733 [M.Lejdecker], Th 1879 [H.G. Klinkert] sampai berdirinya Lembaga Alkitab Indonesia, yaitu Th 1954 hingga saat ini.

Sehubungan dengan pengadaptasian nama Allah, para penerjemah terdahulu menggunakan jasa kaum muslim Melayu untuk menerjemahkan beberapa kata tertentu dari bahasa Belanda yang dibawa para pekabar Injil[f20]. Hasil Pengadaptasian tersebut menjadikan nama Allah yang adalah nama diri [personel name] dari dewa pra Islam dan Asma Tuhan yang disucikan oleh komunitas Islam, hingga hari ini, menjadi nama jenis [generic name]. Contoh: dalam teks Hebraic dari Kejadian 1:1 berbunti, “Beresyit bara Elohim et ha shamayim wqe et ha arets” , maka dalam teks Lembaga Alkitab Indonesia menjadi, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” . Demikian pula dengan nama Yahweh [YHWH] yang adalah nama diri Sang Pencipta [Mzm 121:1-2], nama Bapa Surgawi [Yes 64:8] dan nama Sesembahan yang benar [Yer 10:10], telah berganti menjadi TUHAN [dengan huruf kapital semua] dan ALLAH [dengan huruf kapital semua]. Perhatikan contoh berikut: “Ani Yahweh, hu syemi” [Yes 42:8], telah diterjemahkan menjadi, “Aku ini TUHAN, itulah namaKu” . Demikian pula frasa, “Adonai Yahweh diber, mi lo yinaven?” [Amos 3:8], telah diterjemahkan oleh LAI menjadi, “Tuhan ALLAH telah berfirman, siapakah yang tidak bernubuat?”

Istilah Elohim telah diterjemahkan menjadi Allah kurang lebih 6000 kali. Nama Yahweh, telah diubah menjadi TUHAN sebanyak kurang lebih 3000 kali. Sementara nama Yahweh menjadi ALLAH, sebanyak kurang dari 3000 kali. Renungkan: Patutkah nama diri Sang Pencipta diganti dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia? Jawaban atas pertanyaan ini, akan membawa anda pada implikasi yang kompleks.

KEBERATAN DARI SISI FILOLOGIS DAN GRAMATIKAL

Pada bagian sebelumnya, telah dipaparkan kajian asal-usul nama Allah dari perspektif historis maupun etimologis. Pada bagian ini akan kami perdalam dengan menyaksikan tinjauan kritis mengenai akar kata nama Allah yang dihubungkan dengan ungkapan semitik El. Eloah, Elohim [Ibr], Elah [Aram], Ilanu [Akkadian].

Allah, bukan bentukan atau kontraksi dari Al dan Ilah. Jika benar Allah adalah kontraksi dari Al dan Ilah, mengapa logika ini tidak berlaku untuk kata Arab lainnya seperti, Al dan Iman, mengapa tidak menjadi Alman? Al dan Ilmu mengapa tidak menjadi Almu? Bambang Noorsena pernah membantah dengan menyatakan bahwa kasus penyingkatan Al dan Ilah, hanya terjadi dalam bahasa Arab[f21]. Renungkan: mengapa penyingkatan ini menjadi sangat istimewa pada kata Al dan Ilah?

Allah, bukan berasal dari rumpun kata semitis El, Eloah dan Elohim. Jika Allah adalah rumpun semitis dengan istilah Ibrani, El, Eloah dan Elohim, maka bentuk gramatika jamak untuk Allah itu apa? Dalam terminologi Hebraik, penjamakan kata benda, selalu digunakan akhiran “im” [jika gendernya maskulin] atau “ot” dan “ah” , [jika gendernya feminin] [f22]. Kata “khay” [hidup] bentuk jamaknya adalah “khayim” [kehidupan]. Kata “Eloah” , bentuk jamaknya “Elohim” . Demikian pula dalam bahasa Arab, istilah Ilah [yang sepadan dengan Eloah], bentuk jamaknya adalah Alihah [Ilah-ilah]. Adakah bentuk jamak dari Allah? [f23] Renungkan: Adakah tata bahasa yang membenarkan bahwa nama diri ditulis dalam bentuk jamak?

Dalam Kitab Suci TaNaKh, tidak ada ditemui kata Allah dalam konotasi nama diri. Dalam naskah TaNaKh berbahasa Ibrani, ada sejumlah kata yang berkonotasi dengan Allah, namun sesungguhnya bukan. Contoh:

Alla [], huruf ‘h’ diakhir kata tidak diucapkan karena tidak ada titik pengeras atau dagesh forte. Artinya, “sumpah” [1 Raj 8:31]
Alla [], huruf ‘h’ akhir tidak diucapkan. Artinya, “pohon besar” [Yos 24:26]
Ela [], huruf ‘h’ diakhir kalimat tidak diucapkan. Artinya, “nama suatu kaum” [Kej 34:41] dan “nama raja di Israel” [1 Raj 16:6-8]
Elaha [, Dan 5:21], Elah [, Dan 2;47a], Elahakhon [ Dan 2:47b], adalah varian bahasa Aram yang artinya sama dengan Eloah dalam bahasa Ibrani. Baik Elah, Elaha atau Elahakhon dapat menunjuk pada terminologi Sesembahan Israel Yang Sejati atau terminologi umum untuk sesembahan diluar Israel
Eloah [, Hab 3:3], Elohei [, 1 Taw 16:26], Elohim [, Kej 1:1], artinya Yang Maha Kuasa atau Sesembahan. Dalam bahasa Inggris diterjemahkan God dan dalam bahasa Yunani diterjemahkan Theos.
El [, Kej 33:20] artinya Yang Maha Kuat

Dalam Kitab Perjanjian Baru [Beshorah-Injil], tidak ditemui kata-kata yang menunjuk pada nama diri Allah. Ketika Yahshua [Yesus] berteriak di kayu salib saat kematianNya, Dia berseru: “Eli-Eli Lama Shabakhtani?” [Mat 27:46]. Kata “Eli’, merupakan bentuk singkat dari “Elohim” dan “Anokhi” atau “Ani” [saya]. Kebiasaan menyingkat kalimat seperti ini biasa terjadi dalam tradisi Israel. Perhatikan dalam Keluaran 15:2 yang selengkapnya dalam naskah Hebraik: “ze Eli, weanwehu Elohei abi waaromenhu” . Kata “Eli” dalam ayat tersebut diartikan “Sesembahanku” atau “Tuhanku”. Seruan Eli-Eli lama sabakhtani dalam Matius 27:46 dalam Kitab Suci berbahasa Arab dituliskan, “Ilahi-Ilahi limadza taroktani?” dan bukan “Allahi-Allahi limadza taroktani?” .

MENANGGAPI SOAL EKSISTENSI INSKRIPSI NAMA ALLAH DI KALANGAN KRISTEN ARABIA SELATAN

Patut diakui adanya fakta, bahwa di Arabia Utara pra Islam, telah ditemui sejumlah komunitas Kristiani non Khalsedonian yang telah lebih dahulu menggunakan nama Allah, dalam pengertian Al Ilah yang Esa, sebagaimana ditemui dari sejumlah inskripsi yang menurut Bambang Noorsena dipengaruhi Kekristenan[f24]. Adapun inskripsi-inskripsi tersebut adalah : Inskripsi Namarah [th 328 Ms], ditulis dalam huruf Aram Nabatea, sebua peralihan ke huruf Arab. Inskripsi Ummul Jimmal [th 250 Ms], ditulis dalam huruf Aram. Inskripsi Zabad [th 512 Ms], ditulis dalam huruf Yunani, Aram dan Arab. Ditemukan disebuah gereja kuno dengan diawali kata, “Bismi’llah”. Inskripsi Haran [th 568 Ms], ditemukan disebuah gereja kuno dengan huruf Arab serta ada tanda salibnya, sebagai ciri kekristenan. Inskripsi Ummul Jimmal [th 500 Ms] dengan tulisan Arab, “Allah Ghafran” [Allah mengampuni]

Terhadap fakta ini, terlebih dahulu kita melakukan kilas balik. Komunitas Yahudi dan Kristen telah ada di Arabia sekitar Abad 1 Ms. Sedangkan nama Allah yang terkadang dihubungkan dengan eksistensi Ka’bah pra Islam, telah lama ada jauh sebelum komunitas Kristiani maupun Yahudi. Konsekwensi logisnya, tentulah Yahudi dan Kristenlah yang telah mengadopsi kata tersebut dan menghubungkannya dengan terminologi Ibrani Eloah dan Elohim. Renungkan: Jika telah terjadi proses adopsi terminologi, berarti penggunaan nama Allah dalam komunitas Yahudi dan Kristen Arab pra Islam, tidaklah orisinil. Apalagi nama Allah, bagi komunitas Arabia pra Islam, dihubungkan dengan nama dewa-dewa tertentu yang bersifat paganistik, sebagaimana telah dipaparkan diawal kajian ini.

Footnote:



Pdt. Teguh Hindarto, MTh.
Disampaikan pada Forum Panel Diskusi
Di Auditorium Duta Wacana-Yogyakarta
Tgl 20 Oktober 2003
[f1] : Pdt. Djaka Soetapa, Th.D., UMMAH: Komunitas Religius, Sosial dan Politis dalam Al Qur’an, Yogyakarta: Duta Wacana University Press, 1991, hal 55-101
[f2] : Muhamad Wahyudi Nafis, Passing Over, Jakarta: Gramedia Pustaka Tama, 1998, hal 85 – mengutip R. Al Faruqi dalam Cultural Atlas of Islam, 1986, p.65
[f3] : K.H. Moenawar Khalil, Kelengkapan Tarekh Muhamad, Jil IA, hal 269
[f4] : Prof. DR. K.H. Kraemer, Agama Islam, Djakarta: BPK, 1952, hal 11
[f5] : Huston Smith, Agama-Agama Manusia, Yayasan Obor Indonesia, 1991, hal 258
[f6] : DR. Robert Morey, Islamic Invasion, Harvest House Publisher, 1992, p.211-218
[f7] : James Hastings, Encylopedia of Religion and Ethic, T&T Clark, 1908, p.326
[f8] : Thomas O’Brian, Paul Meagher, Encylopedia of Religion, Corpus Pub, 1979, p.117
[f9] : DR. Quraish Shihab, Menyingkap Tabir Ilahi, Lentera Hati, 1998, hal 3-9
[f10] : Ibid
[f11] : Ibid
[f12] : Ibid
[f13] : DR. Djaka Soetapa, Penterjemahan Kata Yahweh dan Elohim menjadi TUHAN dan Allah dalam Perspektif Teologi Islam, hal 2 [Makalah disampaikan pada Sarasehan Terjemahan Alkitab Mengenai Kata TUHAN dan ALLAH, PGPK, Bandung, 5 Juni 2001]
[f14] : DR. Kautzar Azhari Noer, Tuhan Kepercayaan [Artikel Koran Jawa Pos, 23 September 2001
[f15] : Arthur Jefrey, The Foreign Vocabulary of the Qur’an, Baroda:Oriental Institute, 1938, p.66
[f16] : Bambang Noorsena, Mengenai Kata Allah, Institute for Syriac Christian Studies, Malang, 2001, hal 9
[f17] : Olaf Schumman, Keluar dari Benteng Pertahanan, Rasindo, hal 172-174
[f18] : George Fry and James R. King, Islam: A Survey of The Muslim Faith, Baker Book House, 1982, p.487
[f19] : Arabic Lexicographical, Miscelani, 1972, p. 173-190
[f20] : Kitab Perdjanjian Beharoe, 1940, hal 1
[f21] : Op.Cit., Mengenai Kata Allah, hal 16-17
[f22] : DR. D.L. Baker, Pengantar Bahasa Ibrani, BPK 1992, hal 89
[f23] : Teguh Hindarto, STh., Kritik dan Jawab Terhadap Efraim Bambang Noorsena, SH. [Artikel di Majalah BAHANA No 09, 2001, hal 13]
[f24] : Op.Cit., Mengenai Kata Allah, hal 62-69


Re-posted with permission from: Pdt. Teguh Hindarto, MTh.



Finally I want to say:
"YHWH ELOHEINU WE AVOTENU YEVAREK ETKEM BE SHEM YAHSHUA MOSHIENU. AMN.”

 



Kamis, 27 September 2012

MENINJAU ULANG PENGGUNAAN NAMA ALLAH DALAM TERJEMAHAN VERSI LEMBAGA ALKITAB INDONESIA (LAI)

MENINJAU ULANG PENGGUNAAN NAMA ALLAH DALAM TERJEMAHAN VERSI

LEMBAGA ALKITAB INDONESIA (LAI)  



KERANCUAN TERMINOLOGIS

Lembaga Alkitab Indonesia membedakan sebutan Allah, TUHAN dan ALLAH dalam terjemahan kitab suci yang mereka kerjakan, sayangnya tidak memberikan keterangan mengapa ada pemberian huruf kapital pada kata TUHAN dan ALLAH. Namun jika kita mengkaji dengan seksama, penggunaan kata Allah dan kapitalisasi pada kata TUHAN dan ALLAH, sangatlah rancu. Di mana letak kerancuan tersebut? Mari kita mengkaji lebih jauh.

Saya kutipkan petikkan terjemahan Kitab Kejadian 15:1-21 versi Lembaga Alkitab Indonesia sbb:1

“Kemudian datanglah firman TUHAN kepada Abram dalam suatu penglihatan: "Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar." Abram menjawab: "Ya TuhanALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu." Lagi kata Abram: "Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku." Tetapi datanglah firman TUHAN kepadanya, demikian: "Orang ini tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu." Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: "Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya." Maka firman-Nya kepadanya: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. Lagi firman TUHAN kepadanya: "Akulah TUHAN, yang membawa engkau keluar dari Ur-Kasdim untuk memberikan negeri ini kepadamu menjadi milikmu." Kata Abram: "Ya Tuhan ALLAH, dari manakah aku tahu, bahwa aku akan memilikinya?" Firman TUHANTUHAN, dipotong dua, lalu diletakkannya bagian-bagian itu yang satu di samping yang lain, tetapi burung-burung itu tidak dipotong dua. Ketika burung-burung buas hinggap pada daging binatang-binatang itu, maka Abram mengusirnya. Menjelang matahari terbenam, tertidurlah Abram dengan nyenyak. Lalu turunlah meliputinya gelap gulita yang mengerikan. Firman TUHAN kepada Abram: "Ketahuilah dengan sesungguhnya bahwa keturunanmu akan menjadi orang asing dalam suatu negeri, yang bukan kepunyaan mereka, dan bahwa mereka akan diperbudak dan dianiaya, empat ratus tahun lamanya. Tetapi bangsa yang akan memperbudak mereka, akan Kuhukum, dan sesudah itu mereka akan keluar dengan membawa harta benda yang banyak. Tetapi engkau akan pergi kepada nenek moyangmu dengan sejahtera; engkau akan dikuburkan pada waktu telah putih rambutmu. Tetapi keturunan yang keempat akan kembali ke sini, sebab sebelum itu kedurjanaan orang Amori itu belum genap." Ketika matahari telah terbenam, dan hari menjadi gelap, maka kelihatanlah perapian yang berasap beserta suluh yang berapi lewat di antara potongan-potongan daging itu. Pada hari itulah TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: "Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat: yakni tanah orang Keni, orang Kenas, orang Kadmon, orang Het, orang Feris, orang Refaim, orang Amori, orang Kanaan, orang Girgasi dan orang Yebus itu kepadanya: "Ambillah bagi-Ku seekor lembu betina berumur tiga tahun, seekor kambing betina berumur tiga tahun, seekor domba jantan berumur tiga tahun, seekor burung tekukur dan seekor anak burung merpati." Diambilnyalah semuanya itu bagi ."


Jika kita perhatikan terjemahan di atas, sejumlah kata-kata khas muncul, “Allah”, “ALLAH”, “Tuhan ALLAH”, TUHAN”. Jika seorang pengkhotbah membacakan terjemahan tersebut dan jemaat mendengarkannya, dapatkah para pendengar (silahkan Anda mengidentifikasikan diri sebagai pendengar) membedakan sebutan-sebutan di atas, meskipun dibedakan dengan huruf kapitalisasinya? Jika pengkhotbah menyebut “Tuhan ALLAH”, dapatkah pendengar membedakan dengan ketika Sang Pengkhotbah menyebut “TUHAN” (dengan huruf kapital semua) dan “ALLAH” (dengan huruf kapital semua) serta “Allah” (huruf depan saja yang kapital). Saya sangat yakin, Anda akan kesulitan untuk membedakannya, terkecuali Anda membaca sendiri terjemahan atau teks yang dibaca tersebut.

Apakah perbedaan antara sebutan “Allah”, “ALLAH”, “TUHAN”, “Tuhan ALLAH” dalam terjemahan di atas. Istilah-istilah tersebut tersebar merata dalam keseluruhan terjemahan TaNaKh oleh Lembaga Alkitab Indonesia dari Kitab Kejadian hingga Maleakhi. Dan Untuk Kitab Perjanjian Baru, dari Kitab Matius sampai Wahyu, hanya muncul kata “Allah” dan “Tuhan”. Kenyataan di atas saya namakan “kerancuan nama dan terminologi Ketuhanan”. Dalam hal ini, Lembaga Alkitab Indonesia tidak bisa membedakan nama diri (personal name) dan nama umum (generic name).

PEMAHAMAN TERMINOLOGIS TENTANG KETUHANAN

Untuk mendapatkan pemahaman yang tepat mengenai nama dan terminologi Ketuhanan, maka kita harus merujuk pada teks sumber yang berbahasa Ibrani dan Yunani serta Aramaik. Dalam bahasa Ibrani, ada beberapa istilah Ketuhanan sbb:

אלהים (Elohim) Jika dieja dari kanan ke kiri, “alef”, “lamed”, “heh”, “yod” dan “mem sofit”. Elohim adalah istilah Ibrani untuk menunjukkan sesuatu yang disembah dan dianggap berkuasa. Padanan bahasa Inggrisnya, “God” dan padanan Arabnya, “Ilah” dan padanan Indonesianya, “Tuhan”. Kitab Septuaginta menerjemahkan Elohim dengan sebutan θεὸς (Theos). Langkah ini diteruskan oleh naskah Greek Perjanjian Baru, yang menerjemahkan Elohim dengan Theos. Dalam Kitab Suci, istilah Elohim, menunjuk pada Tuhan yang benar (Ulangan 10:17) namun juga menunjuk pada tuhan asing (1 Tawarikh 16:26). Dalam Kitab Suci berbahasa Ibrani, istilah Elohim muncul sekitar 6000 kali dan dalam Kitab Suci terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia diterjemahkan dengan Allah (huruf depan menggunakan kapital, Kejadian 1:1) dan allah (huruf kecil semua, Keluaran 20:3). Penerjemahan Elohim menjadi Allah adalah tidak tepat, karena Allah adalah nama tuhan orang Muslim (Qs 20:14, Qs 19:28).

אדני (Adonai) Jika dieja dari kanan ke kiri, “alef”, “dalet”, “nun”, “yod”. Istilah Ibrani Adonai, dapat disetarakan dengan “Tuan”, “Majikan”, “Penguasa”. Padanan bahasa Inggrisnya, “Lord” dan padanan bahasa Arabnya, Rabb. Septuaginta menerjemahkan Adonai dengan κυρίου (Kurios). Kitab Perjanjian Baru versi Greek mengikuti langkah ini, untuk menyebut Yahweh dengan sebutan pengganti “Kurios” dan untuk Yahshua (Yesus) Sang Mesias. Sementara padanan Indonesianya, “Tuan”. Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkan istilah “Adonai”, dengan “Tuhan”. Istilah “Adonai”, dapat dikenakan pada Tuhan (Maleakhi 1:6) maupun manusia (Kejadian 45:9).

יהוה (Yahweh) Dieja dari kanan ke kiri, “yod”, “heh”, “waw”, “heh”. Nama Tuhan Yang Esa (Ulangan 6:4), Tuhan Abraham, Yitskhaq dan Yaaqov (Keluaran 3:15), Tuhan Pencipta Langit dan Bumi (Yesaya 40:28), Bapa Surgawi (Yesaya 64:8). Nama Tuhan tidak dapat diterjemahkan ke dalam bahasa apapun. Namun kenyataannya, hampir keseluruhan terjemahan Kitab Suci tidak Mencantumkan nama-Nya, melainkan menggantinya menjadi “LORD” (Inggris), “HERR” (Belanda), “SENIOR” (Spanyol), “DOMINI” (Latin), “RABB” (Arab) dan terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia, dituliskan dengan “TUHAN” (huruf kapital semua, Yesaya 42:8). Asal usul terlupakannya nama Yahweh dimulai sejak orang Yahudi pulang dari pembuangan Babilonia pada tahun 586 SM. Sejak itu mereka enggan menyebut nama Yahweh dan mengganti dengan mengucapkan Adonai, saat membaca nama Yahweh dalam Kitab Suci atau menyebutkan dalam pertemuan umum. Kemudian pada Abad III SM, orang-orang Yahudi di Alexandria yang tidak bisa berbahasa Ibrani, membutuhkan suatu terjemahan Kitab Suci berbahasa Yunani. Akhirnya, atas donatur Kaisar Ptolemaus Filadhelphus, diterjemahkanlah TaNaKh (Torah, Neviim, Kethuvim) dalam bahasa Yunani. Nama Yahweh diterjemahkan dengan KURIOS, yang sepadan dengan ADONAI. Nama kitab hasil terjemahan ini adalah Septuaginta. Ketika Agama Kristen menyebar sampai ke Eropa, Asia, Amerika, Afrika dll. Diperlukanlah suatu terjemahan Kitab Suci dalam berbagai bahasa. Demikianlah nama Yahweh kemudian diterjemahkan dengan mengikuti tradisi Septuaginta. Hasilnya, sebagaimana kita lihat di atas, nama Yahweh berubah menjadi istilah-istilah spt., RABB, LORD, HERR, DOMINI, TUHAN. Benarkah nama Yahweh tidak boleh dipanggil? Boleh! Bahkan diperintahkan. Kitab 1 Tawarikh 16:8 mengatakan, “hodu la Yahweh qiru bi shemo” yang artinya, “bersyukurlah kepada Yahweh, panggilah nama-Nya”.

Dari penjelasan di atas, kita telah melihat bahwa LAI telah menerjemahkan dengan pola sbb:
Elohim diterjemahkan menjadi Allah (Kej 1:1) dan allah (1 Taw 16:26)
Adonai diterjemahkan menjadi Tuhan (Mzm 16:2)
Yahweh dituliskan TUHAN (Yes 42:8) dan ALLAH (Yekh 37:12)
Adonai Yahweh diterjemahkan menjadi “Tuhan ALLAH” (Yes 61:1)
AKIBAT KERANCUAN TERMINOLOGI

Ketidakmengertian terhadap sejumlah terminologi Ibrani dan kekeliruan penerjemahan atas terminologi-terminologi tersebut, mengakibatkan kekacauan yang serius dalam konsep Ketuhanan Iman Kristen. Kekacauan tersebut dapat kita lihat dalam berbagai tulisan para agamana ataupun teolog Kristen ketika menerjemahkan teks-teks teologi dari bahasa Inggris. Elmer L. Town melalui bukunya, “Nama-nama Allah” mengatakan bahwa ada tiga nama Allah yang utama, yaitu “Elohim”, “Yehovah” dan “Adonai”2. Demikian pula dengan tulisan Pdt. Purwanta Rahmat, STh., yang menyatakan bahwa nama-nama TUHAN ALLAH yaitu “YAHWE” atau “YEHOWAH”, “Elohim” dan “Bapa”3. Kemudian DR. Peter Wongso menyatakan bahwa nama-nama ALLAH dalam bahasa Ibrani adalah “Elohim”, “Yahweh”, “El Shaday”. Sedangkan dalam bahasa Yunani, “Theos”, “Kurios”, “Despotis”, “Huspitos”, “Pantokrator”4. Pendapat terakhir dari DR. Dieter Becker, “Menurut Perjanjian Lama, Allah pada dasarnya Tuhan, menurut Perjanjian Baru pada dasarnya adalah Bapa”5.

Kekacauan yang sama terjadi ketika menerjemahkan beberapa terks al., Kejadian 33:20. Kalimat, “Dia mendirikan mezbah di situ dan dinamainya itu: Allahnya Israel ialah Allah”, dalam teks Ibraninya, “wayatsev sham mizbekh wayiqra lo El, Elohe Yisrael”. Perhatikan bagaimana dalam kalimat Ibrani, ada dua bentuk penyebutan yang berbeda, yaitu El dan Elohe, namun Lembaga Alkitab Indonesia menyamakan begitu saja menjadi “Allah”. Sekarang kita fokuskan pada pengkajian kata El. Istilah El, secara gramatikal memiliki makna “Kekuatan” atau “Yang Kuat”. Dalam Keluaran 15:2 dikatakan “zeh Eli weanwehu Elohe avi…” (Dialah Kekuatanku dan aku memuji Sesembahan/Tuhan bapaku…). Kemudian dalam Ulangan 10:17 dikatakan, “ki YHWH Elohe ha Elohim, wa Adoney ha Adonim, ha El, ha Gadol, Ha Gibor we ha Nora…” (sebab YHWH adalah Sesembahan/Tuhan diatas segala sesembahan/tuhan, Tuan diatas segala tuan, Yang Kuat, Yang Besar, Yang Perkasa, Yang Luar Biasa…). Dengan demikian, sebaiknya kalimat, “El, Elohe Yisrael” dalam Kejadian 33:20 selayaknya diterjemahkan, “Yang Kuat, Sesembahan/Tuhan Yisrael” atau “El adalah Sesembahan Yisrael”. Kata El sendiri bukanlah menunjuk nama Sang Pencipta, melainkan sebutan yang menjelaskan mengenai sifat Ketuhanan yang mengatasi segala sesuatu. Kata “El”, sepadan dengan bahasa Arab “Il”. Allah, sudah menunjuk nama Ilah (Qs 20:14, 98)

Kemudian teks Kejadian 46:3. Kalimat, “lalu firman-Nya: Akulah Allah, Allahnya ayahmu, janganlah takut pergi ke Mesir…” dalam teks Ibrani, “wayomer, Anoki ha El, Elohe avika, al tira merda Mitshrayma…” . Istilah ha El muncul kembali, sebagaimana dalam Kejadian 33:20. Istilah yang setara untuk El, dalam bahasa Arab adalah Il. Dari kata ini menjadi Ilah. Allah, sudah menunjuk nama Ilah sebagaimana dikatakan:

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku” (Qs 20:40)

“Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah Allah, yang tidak ada Tuhan selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu." (Qs 20:98)

Sungguh mengerikan dan memprihatinkan melihat kerancuan terminologi yang bermuara pada kekacauan nama dan istilah dalam Ketuhanan. Kekristenan Indonesia sedang dalam krisis orientasi Ketuhanan.

Sebelum saya memperdalam kajian mengenai irelevansi penggunaan nama “Allah” dalam terjemahan Kitab Suci TaNaKh dan Kitab Perjanjian Baru, saya akan mengulas mengenai aneka ragam pandangan tentang siapakah Allah tersebut.

KETIDAKJELASAN AKAR KATA DAN ASAL USUL NAMA ALLAH

Mengenai asal-usul nama Allah itu sendiri, masih menjadi bahan perdebatan baik dikalangan Kristen maupun Islam. Kita akan melihat sekilas pemetaan silang pendapat mengenai asal-usul nama Allah dibawah ini.

Pandangan Islam: اللهُ (Allah) berasal dari kata Al (definite article, The) dan Ilah (generic name, God). Penyingkatan dari kata Al dan Ilah menjadi Allah, untuk menandai sesuatu yang telah dikenal. Dalam perkembangannya, untuk mempermudah hamzat yang berada diantara dua lam (huruf ‘LL’), huruf ‘I’ tidak diucapkan sehingga berbunyi Allah dan menjadi suatu nama yang khusus dan tidak berakar6. Ada pula yang berpendapat bahwa Allah berasal dari Al Ilahah, Al Uluhah dan Al Uluhiyah yang bermakna ibadah atau penyembahan7. Yang lain mengajukan bahwa Allah berasal dari kata Alaha yang berarti menakjubkan atau mengherankan karena segala perbuatannya8. Sementara ada yang berargumentasi bahwa Allah berasal dari kata, Aliha ya’lahu yang bermakna tenang9. Kelompok pemikir dari Kufah mengatakan bahwa Allah, berasal dari Al-Lah, yang diambil dari verba noun lah yang berasal dari kata lahaya yang bermakna menjadi tinggi10. Sedangkan Ibn Al Arabi menyatakan bahwa Tuhan itu tidak bernama, tetapi Dzat yang dinamakan oleh umatNya. Penamaan terhadap Tuhan, berarti melimitasi eksistensi Tuhan11.

Pandangan Kristen : Ada yang beranggapan bahwa Allah adalah berasal dari sumber Syriac, Alaha12. Sementara yang lain berpendapat bahwa Allah berasal dari akar kata rumpun semitis El, Eloah dan Elohim serta Alaha. Bentuk Arabnya Ilah, lalu mendapat imbuhan Al yang berfungsi sebagai definite article (The God- Al Ilah-Allah)13. Kata Allah berasal dari Al dan Ilah. Akar kata ini terdapat dalam semua bahasa semitis, yaitu dua konsonan alif dan lam serta ucapan yang lengkap dengan huruf hidup adalah sesuai dengan phonetik masing-masing14. George Fry dan James R. King menyampaikan, “the name by which God is known to muslim, Allah is generally thought to be the proper noun form of the Arabic word for God, Ilah. Al, meaning The ini Arabic word. This word is related to the Hebrew from El and Elohim”15. J. Blau menjelaskan bahwa kata Allah adalah murni dari konteks Arab dan bukan dari sumber Syriac16.

Pada bagian sebelumnya, telah dipaparkan kajian asal-usul nama Allah dari perspektif historis maupun etimologis. Pada bagian ini akan kami perdalam dengan menyaksikan tinjauan kritis mengenai akar kata nama Allah yang dihubungkan dengan ungkapan semitik El, Eloah, Elohim (Ibr), Elah (Aram), Ilanu (Akkadian).

PENILAIAN TERHADAP AKAR NAMA ALLAH

Allah, bukan bentukan atau kontraksi dari Al dan Ilah. Jika benar Allah adalah kontraksi dari Al dan Ilah, mengapa logika ini tidak berlaku untuk kata Arab lainnya seperti, Al dan Iman, mengapa tidak menjadi Alman? Al dan Ilmu mengapa tidak menjadi Almu? Bambang Noorsena pernah membantah dengan menyatakan bahwa kasus penyingkatan Al dan Ilah, hanya terjadi dalam bahasa Arab17. Renungkan: mengapa penyingkatan ini menjadi sangat istimewa pada kata Al dan Ilah?

Allah, bukan berasal dari rumpun kata semitis El, Eloah dan Elohim. Jika Allah adalah rumpun semitis dengan istilah Ibrani, El, Eloah dan Elohim, maka bentuk gramatika jamak untuk Allah itu apa? Dalam terminologi Hebraik, penjamakan kata benda, selalu digunakan akhiran im (jika gendernya maskulin) atau ot dan ah, (jika gendernya feminin)18. Kata khaykhayim (kehidupan). Kata Eloah, bentuk jamaknya Elohim. Demikian pula dalam bahasa Arab, istilah Ilah (yang sepadan dengan Eloah), bentuk jamaknya adalah Alihah (Ilah-ilah). Adakah bentuk jamak dari Allah?19 Renungkan: Adakah tata bahasa yang membenarkan bahwa nama diri ditulis dalam bentuk jamak? (hidup) bentuk jamaknya adalah

Dalam Kitab Suci TaNaKh, tidak ada ditemui kata Allah dalam konotasi nama diri. Dalam naskah TaNaKh berbahasa Ibrani, ada sejumlah kata yang berkonotasi dengan Allah, namun sesungguhnya bukan. Contoh:
אלה (Ala) huruf ‘h’ diakhir kata tidak diucapkan karena tidak ada titik pengeras atau dagesh forte. Artinya, “sumpah” (1 Raj 8:31)
האלה (ha Ala) huruf ‘h’ akhir tidak diucapkan. Artinya, “pohon besar” (Yos 24:26)
אלה (Ela) huruf ‘h’ diakhir kalimat tidak diucapkan. Artinya, “nama suatu kaum” (Kej 34:41) dan “nama raja di Israel” (1 Raj 16:6-8)
אלהא (Elaha, Dan 5:21), אלה (Elah, Dan 2;47a), אלהין (Elahin, Dan 2:47b), adalah varian bahasa Aram yang artinya sama dengan Eloah dalam bahasa Ibrani. Baik Elah, Elaha atau Elahakhon dapat menunjuk pada terminologi Sesembahan Israel Yang Sejati atau terminologi umum untuk sesembahan diluar Israel
אלוה (Eloah, Hab 3:3), אלהים (Elohim, Kej 1:1), artinya Tuhan. Dalam bahasa Inggris diterjemahkan God dan dalam bahasa Yunani diterjemahkan Theos.
אל (El, Kej 33:20) artinya Yang Maha Kuat
Dalam Kitab Perjanjian Baru, tidak ditemui kata-kata yang menunjuk pada nama diri Allah. Ketika Yesus berteriak di kayu salib saat kematianNya, Dia berseru: “Eli-Eli Lama Shabakhtani?” (Mat 27:46). Kata Eli, merupakan bentuk singkat dari Elohim dan AnokhiAni (Aku). Kebiasaan menyingkat kalimat seperti ini biasa terjadi dalam tradisi Israel. Perhatikan dalam Keluaran 15:2 yang selengkapnya dalam naskah Hebraik: “ze Eli, weanwehu Elohei abi waaromenhu”. Kata Eli dalam ayat tersebut diartikan “Tuhanku”. Seruan “Eli-Eli lama sabakhtani” dalam Matius 27:46 dalam Kitab Suci berbahasa Arab dituliskan, إِيلِي إِيلِي لَمَا شَبَقْتَنِي (Ilahi-Ilahi limadza taroktani) dan bukan “Allahi-Allahi limadza taroktani?”. atau

KRONOLOGI HISTORIS PENGGUNAAN NAMA ALLAH DALAM TERJEMAHAN KITAB SUCI KRISTIANI

Dalam buku, Hidup Bersama di Bumi Pancasila, diterangkan bagaimana kronologi masuknya agama Islam dan Kristen di Nusantara20. Dijelaskan dalam buku tersebut bagaimana Islam telah lebih dahulu masuk ke Nusantara dalam dua tahap. Tahap pertama (tidak terlalu signifikan pengaruhnya) pada Abad VII-VIII oleh pedagang Arab menuju Sumatera. Tahap kedua (signifikan pengaruhnya) pada Abad XIII dibawa oleh pedagang Gujarat yang dipengaruhi mistik Persia.

Selanjutnya Portugis yang beragama Katholik, masuk nusantara pada tahun 1512. Kemudian berturut-turut masuk armada Belanda pada tahun 1596, yang kemudian membentuk kongsi dagang VOC, pada tahun 1602. Karena kebangkrutan VOC, maka sekitar tahun 1800-an, pemerintah Hindia Belanda mulai mengambil alih kepemimpinan, termasuk masalah misi dan keagamaan. Pada masa ini, mulailah muncul lembaga misi dan proses penerjemahan Kitab Suci pun dimulai.

Merujuk pada makalah DR. P.D. Latuihamalo yang dibacakan oleh DR. Katopo dalam Sarasehan Terjemahan Alkitab mengenai kata TUHAN dan ALLAH yang diselenggarakan di Bandung, Tgl 5 Juni 2001, kita mendapatkan informasi sbb:21 Tahun 1629, Albert Corneliz Ruyl, seorang pegawai tinggi VOC berpangkat Onderkoftman, menerjemahkan Kitab Injil Matius dari bahasa Yunani kebahasa Melayu dan bahasa Belanda. Adapun transkripsi terjemahan mengenai konsep Ketuhanan sbb:
Theos diterjemahkan menjadi Allah (Mat 4:4)
Iesous diterjemahkan menjadi Yesus (Mat 1:1)
Christos diterjemahkan menjadi Christus (Mat 16:16)
Abraam menjadi Ibrahim (Mat 1:1)
Pada tahun 1733, Melchior Lejdecker dan H.G. Klinkert pada tahun 1879 menerjemahkan dengan pola sbb:
Theos diterjemahkan menjadi Allah (Mat 4:4)
Iesous diterjemahkan menjadi Isa (Mat 1:1)
Christos diterjemahkan menjadi Al Masih (Mat 16:16)
Sementara Bode menolak menggunakan nama Isa dan Al Masih, namun beliau tetap menggunakan nama Allah sebagai ganti Theos atau Elohim. Dikarenakan dari sejak Ruyl, Lejdecker sampai Bode, tetap menggunakan nama Allah sebagai translasi dari Theos dan Elohim, maka Lembaga Alkitab Indonesia berketetapan bahwa penggunaan nama Allah tetap sah dan relevan sebagai terjemahan untuk Theos dan Elohim. Lembaga Alkitab Indonesia, yang berdiri sejak tahun 1954, tetap mempertahankan nama Allah yang sudah tercantum dalam teks terjemahan kuno diatas dengan dua pertimbangan yaitu:
Sudah lama diterima oleh umum
Allah, bukan dipahami sebagai nama diri tetapi sebagai nama jenis, sebagaimana Elohim, Theos, God, Deo
Selanjutnya beliau mengatakan bahwa sejak diterjemahkannya Kitab Suci dalam bahasa Portugis 1748-1753), sudah dipergunakan nama JEHOVAH. Pada tahun 1839, P.Janz menerjemahkan dalam bahasa Jawa dengan transliterasi JEHUWAH. Zendeling Rinsje di tanah Batak menggunakan Djahoba. Demikian pula di Nias, digunakan Jehofa. Sementara Lejdecker menggunakan HUWA untuk YAHWEH dan Klinkert menggunakan HOEWA dan JEHOEWA, TOEHAN HOEWA dan Tuhan HOEWA.

Dalam Konferensi para penerjemah Alkitab pada tahun 1952 di Jakarta, ditetapkanlah supaya nama HUWA ditiadakan dan diganti menjadi TUHAN. Alasan terhadap persoalan tersebut adalah mengacu pada disertasi doktoral DR. H. Rosin, dosen STT Jakarta, tahun 1955 di Geneva Universiteit, bahwa empat huruf (tetragrammaton) YHWH, tidak dapat diucapkan (unpronounceable). Karena tidak dapat diucapkan, maka petunjuk terarah adalah dengan menggunakan huruf kapital semua, TUHAN. Renungkan: LAI tetap mempertahankan penggunaan nama Allah dengan alasan nama itu telah dipakai sejak Ruyl, Lejdecker, Klinkert serta Bode. Anehnya, mengapa nama Yahweh yang telah dituliskan sejak masuknya Portugis ke Indonesia, tidak dapat dipertahankan? Jika empat huruf YHWH tidak dapat diucapkan, mengapa para penerjemah diatas, bahkan penerjemah dalam bahasa daerah sudah menggunakan nama Jehovah, Jehowa, Hoewa atau Huwa? Logiskah jika Musa, Ishak dan Yakub serta leluhur Israel tidak dapat mengucapkan nama Yahweh, padahal mereka berkomunikasi dengan Sang Pencipta secara audible? Jika naskah Kitab Suci berbahasa Ibrani dapat diterjemahkan dalam berbagai bahasa, mengapa nama Yahweh tidak dapat dituliskan? Bagaimana mungkin ada bahasa yang tidak dapat diterjemahkan dan ditransliterasikan? Dengan alasan apa Sang Pencipta memberitakan namaNya yang abstrak?

MEMPERTIMBANGKAN DOKUMEN 193922

Tahun 1896, telah beredar Injil dalam bahasa Melayu dengan judul WASIYAT YANG BEHAROE: ijaitoe Segala Kitab Perdjanjian Jang Beharoe ataw Indjil Toehan kita ISA AL MASIH. Kitab ini dicetak di Amsterdam, Belanda.

Tahun 1940, akhirnya dimunculkan revisi kitab dengan jududl muka, KITAB PERDJANJIAN BAHAROE, diterjemahkan dari bahasa Grika kepada bahasa Melayoe, dikeloearkan oleh Belandja British and Foreign Bible Society, London-National Bible Society of Scotland Edinburg-Nederlandsch Bijbel genootschap, Amsterdam. Kitab ini dicetak di Semarang, Jawa Tengah, Indonesia. Pada kata pengantar kitab terbitan tahun 1940, terlampir pandangan komite penyalin yang menuliskan pandagannya pada tahun 1939 di Sukabumi. Dalam kata pengantar tersebut, ada empat hal yang menarik untuk dicermati.

Keterlibatan asisten Melayu Islam dalam Komite Penyalin (dok, hal 1)

“Maka bagi maksud itoe, sedia ditetapkanja pada akhir tahoen 1930 soetaoe Comite Penjalin di Soekaboemi, yang sedang mengerdjakan salinan baharoe itoe dibawah pimpinan…dan berganti-ganti doea oerang assistant Melajoe djati dari tanah Melajoe…”

Kesukaran dalam penerjemahan dan kebutuhan untuk koreksi tanpa batas (dok, hal 2)

“Maka ta’dapaat tiada pembatja telah paham akan kesoekaran Comite Penjalin itoe mengadakan persatoean bahasa bagi pengertian yang am. Oleh sebab itoe djoega dipinta kepada pembatja yang insaf akan mengingatkan segala toentoetan terdjemahan yang sukar itu”.

Allah, nama Tuhan (dok. Hal 3)

“Karena ma’na Toehan menoeroet perasaan orang Arab dan orang Melajoe djati ialah Allah. Demikian djuga menurut djalan bahasa Arab dan logat Melajoe djati, adalah perkataan Allah itoe boekanja sedjenis nama yang dinamakan, seperti pada perasaan disebelah barat tentang perkataan God. Oleh jand demikian maka perkataan Allah yang bersamboeng dengan koe, moe, nja, dengan toedjoean poenja, itoe bersalahan dengan perasaan orang Melajoe yang diloear golongan Keristen”

Ketergantungan pada bahasa Arab Melayu (dok. Hal 5)

“Kadang-kadang penjalin terpaksa menggoenakan bahasa Melajoe, sebab tiada ada kata Melajoe djati yang boleh mensifatkan pengertian ataw toedjoean nas asli dengn sebetul-betulnya”

Dari eksposisi historis diatas, dapat kita menyimpulkan bahwa penggunaan nama Allah yang tercantum dalam Kitab Suci TaNaKh maupun Kitab Perjanjian Baru, sebenarnya bermula dari proses penerjemahan dengan melalui suatu adopsi sesembahan orang Melayu yang beragama Islam. Proses adopsi tersebut, bukan didasarkan pada suatu pemahaman teologis yang mendalam, melainkan hanya didasarkan pada proses kontekstualisasi semata, tanpa mengkaji dan mempertimbangkan bahwa nama Allah bukanlah istilah pengganti yang tepat untuk Elohim, Theos atau God. Kita juga melihat bagaimana sejumlah perbendaharaan bahasa Indonesia masih sangat terbatas dan terus mengalami perkembangan sehingga mengalami kesukaran dalam penerjemahan yang mengakibatkan banyak meminjam unsur Arab. Berlandaskan kenyataan diatas, terjemahan Kitab Suci yang ada bukanlah hasil karya yang harus dikeramatkan, melainkan karya terjemahan yang harus terus diselaraskan secara relevan dengan perubahan zaman.
End Notes:
1 Alkitab Elektronik 2.0.0, ALKITAB TERJEMAHAN BARU, 1974
2 Yogyakarta, ANDI Offset 1995, hal 9
3 Katekismus Baru, Yogyakarta: TPK Gunung Mulia, 1992, hal 51
4 Doktrin Tentang Allah, Malang: Sekolah Alkitab Asia Tenggara, 1991, hal 9-13
5 Pedoman Dogmatika, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993, hal 53
6 DR. Quraish Shihab, Menyingkap Tabir Ilahi, Lentera Hati, 1998, hal 3-9
7 Ibid
8 Ibid
9 Ibid
10 DR. Djaka Soetapa, Penterjemahan Kata Yahweh dan Elohim menjadi TUHAN dan Allah dalam Perspektif Teologi Islam, hal 2 (Makalah disampaikan pada Sarasehan Terjemahan Alkitab Mengenai Kata TUHAN dan ALLAH, PGPK, Bandung, 5 Juni 2001)
11 DR. Kautzar Azhari Noer, Tuhan Kepercayaan [Artikel Koran Jawa Pos, 23 September 2001
12 Arthur Jefrey, The Foreign Vocabulary of the Qur’an, Baroda:Oriental Institute, 1938, p.66
13 Bambang Noorsena, Mengenai Kata Allah, Institute for Syriac Christian Studies, Malang, 2001, hal 9
14 Olaf Schumman, Keluar dari Benteng Pertahanan, Rasindo, hal 172-174
15 George Fry and James R. King, Islam: A Survey of The Muslim Faith, Baker Book House, 1982, p.487
16 Arabic Lexicographical, Miscelani, 1972, p. 173-190
17 Op.Cit., Mengenai Kata Allah, hal 16-17
18 DR. D.L. Baker, Pengantar Bahasa Ibrani, BPK 1992, hal 89
19 Teguh Hindarto, STh., Kritik dan Jawab Terhadap Efraim Bambang Noorsena, SH.BAHANA No 09, 2001, hal 13) (Artikel di Majalah
20 Bambang Ruseno Oetomo, PSAK, 1993, hal 33-35
21 Latar Belakang Historis Terjemahan LAI Mengenai Nama: YHWH=TUHAN;Elohim=Allah, PGPK, hal 1-3
22 Redefinisi dan Rekonsepsi Nama Allah dan Urgensi Penggunaan Nama Yahweh Dalam Komunitas Kristen, Disampaikan pada Forum Panel Diskusi Di Auditorium Duta Wacana-Yogyakarta, Tgl 20 Oktober 2003


Re-posted with permission from:  http://messianic-indonesia.com/index.php?option=com_content&view=article&id=235:meninjau-ulang-penggunaan-nama-allah-dalam-terjemahan-versi-lembaga-alkitab-indonesia&catid=34:mesianik&Itemid=53



Finally I want to say:
"YHWH ELOHEINU WE AVOTENU YEVAREK ETKEM BE SHEM YAHSHUA MOSHIENU. AMN.”





YAHSHUA, YAHUDI, DAN YUDAISME (3)

YAHSHUA, YAHUDI, DAN YUDAISME (3)


( PDT. TEGUH HINDARTO, MTH)


Eksistensi Talmud, mendapat tentangan, baik dari kalangan Yahudi sendiri, maupun Islam serta Kekristenan. Kaum Saduki menolak keberadaan Talmud, demikian pula dengan kaum Karaites serta Haskalah. Mereka beranggapan bahwa Talmud mengekang atau mencegah seseorang memperoleh kesadaran pencerahan[f26]. Sementara kalangan Islam menerbitkan buku berjudul, “Talmud: Kitab Hitam Yahudi Yang Menggemparkan”[f27]. Kekristenan Romawi dan khususnya era Reformasi Luther, memberikan penilaian negatif terhadp eksistensi Talmud dan menyebutnya sebagai “penyembahan berhala”, “kutukan”, “ajaran yang menghujat” [f28]

Sejauh mana Talmud memiliki signifikasi bagi Pengikut Mesias [baik itu Mesianik, Kristen, Katholik, Orthodox, Protestan, Advent, Baptis, Pentakosta, Kharismatik, dll]? Pertama, Talmud memberikan informasi mengenai latar belakang sejarah keyahudian dan Yudaisme pra Mesias. Shmuel Safrai menjelaskan mengenai peranan Talmud:


“There are no complete historical books in the talmudic tradition, but there is a wealth of varied information from all facets of public and private social life and spiritual life in the Temple, the synagogue and the house of study. Likewise we can glean facts from talmudic literature regarding trade and economics, agriculture, craftmanship, the life of the sages and of the common man, urban-rural relations and relations between Eretz Israel and the Diaspora. The hakahot, aggadot, dialogues and debates reflect both the home and the marketplace, the wealthy and the poor, weekdays, sabbaths and festivals-in fact every aspects of human life in all its variety and formas of expression”[f29]
Artinya, “Tidak ada buku sejarah yang lengkap dalam tradisi Talmudik namun di dalamnya ada berbagai informasi yang melimpah dari berbagai bentuk kehidupan sosial dan spiritual masyarakat di Bait Suci, Sinagog-sinagog dan rumah belajar. Agaknya kita dapat mengumpulkan fakta-fakta dari literatur Talmudik mengenai jual beli dan perekonomian, ketrampilan, kehidupan para kaum bijaksana, dan orang biasa, hubungan kota dan desa serta hubungan Tanah Yishrael dan Diaspora”. Dengan membaca Talmud, kita dapat memetakan dan merekonstruksi latar belakang sejarah Yudaisme pra Mesias dan bagaimana para rabbi mengapresiasi TaNaKh dalam zamannya.

Kedua, Talmud memberikan keterangan mengenai aplikasi suatu ayat dalam TaNaKh yang tidak dimengerti oleh pembaca TaNaKh Abad XXI. Contoh, Keluaran 20:10 memerintahkan, "Lo taasheh kal melaka, Atta ubeneka ubiteka avdeka waamateka ubehemteka wegerka asher bishareka". Orang beriman tidak diperbolehkan bekerja di hari Shabat. Kata "Bekerja" dalam ayat ini diterjemahkan dari kata "Melakha". Bukan sekedar bekerja biasa namun, "suatu pekerjaan yang bersifat menciptakan atau menguasai terhadap sesuatu"[f30]. Kata ini berhubungan dengan kata "Melekh" [Raja]. Yudaisme mengatur mengenai "Melakha" yang tidak boleh dikerjakan, dalam MISNAH SHABAT 7:2, sbb: [f31]

Sowing [menabur benih]
Plowing [membajak]
Reaping [memungut tuaian]
Binding sheaves [mengikat berkas]
Threshing [mengirik]
Winnowing [menampi]
Selecting [menyeleksi]
Grinding [menggiling]
Sifting [mengayak, menampi]
Kneading [membuat adonan]
Baking [membakar]
Shearing wool [mencukur wool]
Washing wool [mencuci wool]
Beating wool [memukul /menumbuk wool]
Dyeing wool [mencelup wool]
Spinning [memintal]
Weaving [menenun, menganyam]
Making two loops [membuat dua potongan]
Weaving two threads [menganyam dua benang]
Separating two threads [memisahkan dua benang]
Tying [mengikat]
Untying [membuka]
Sewing two stitches [menjahit dua jahitan]
Tearing [menyobek]
Trapping [menjerat binatang]
Slaughtering [menyembelih]
Flaying [menguliti]
Salting meat [mengasini makanan]
Curing hide [merawat kulit]
Scraping hide [memarut kulit]
Cutting hide up [memotong kulit]
Writing two letters [menulis dua surat]
Erasing two letters [menghapus dua surat]
Building [membangun]
Tearing a building down [membongkar bangunan]
Extinguishing a fire [memadamkan api]
Kindling a fire [mengumpulkan kayu untuk perapian]
Hitting with a hammer [memukul dengan palu]
Taking an object from the private domain to the public, or transporting an object in the public domain. [menggunakan benda /alat transportasi yang digunakan untuk kepentingan umum

Kategorisasi diatas, menolong kita untuk mengenali berbagai aktivitas yang dikategorikan dengan "melakha". Halakha rabinik diatas merupakan penafsiran para rabbi Yahudi untuk menolong umat dalam mengklasifikasikan apa yang tidak boleh dikerjakan. Walapun demikian, kategorisasi di atas dapat mengesankan legalistik dan menjadi kuk, jika tidak disertai pemahaman yang benar mengenai hakikat Torah dan hakikat Kasih Karunia Yahweh.

Torah sendiri tidak memberikan kategorisasi yang spesifik. Agar tidak terjebak praktek yang bersifat legalistik [ketaatan pada hukum yang berlebihan, sehingga mengabaikan essensi hukum itu sendiri], kita harus memperhatikan apa yang diajarkan Mesias, "Sabat untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat" [Mrk 2:27]. Apa artinya? Sabat hendaklah bukan menjadi beban atau kuk yang memenjarakaan kehidupan orang beriman karena Sabat diperuntukkan bagi manusia untuk beristirahat dan beribadah secara personal dan komunal kepada Yahweh. Bahaya melakukan berbagai kategorisasi secara kaku dan mutlak tanpa memperhatikan konteks waktu dan tempat, dapat menimbulkan bahaya legalistik.

Ketiga, memberikan informasi mengenai pararelisasi antara Yudaisme dengan ajaran Yahshua dalam Kitab Perjanjian Baru, dlam batas-batas tertentu. DR. David Stern menerbitkan Jewish New Testament Commentary yang berusaha mensinergikan sumber-sumber literatur Yahudi kuno dan kontemporer, untuk mendapatkan pemahaman yang utuh mengenai latar belakang dan kesamaan ucapan Yahshua dengan beberapa ajaran para rabbi. Dalam bukunya, Stern menjelaskan:
“My own purpose in these notes that draw on Jewish writings is neither to prove that the New Testament copied rabbinic Judaism nor the opposite, but simply to present a sampling of the many parallels” [f32]
Artinya, “Tujuan saya dengan menyertakan tulisan-tulisan Yahudi, bukanlah untuk membuktikan bahwa Kitab Perjanjian Baru meniru rabinik Yudaisme bukan pula menentangnya, namun sebenarnya untuk menunjukkan contoh mengenai banyaknya kesamaan-kesamaan”. Beberapa contoh kesamaan tersebut dalapat dilihat dalam beberapa perkataan Yahshua. Dalam MatitYahu/Matius 6:7 Yahshua mengatakan: Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan Goyim. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.
Pernyataan ini setara dengan apa yang pernah diucapkan rabi-rabi Yahudi dalam Mishnah Avot 2:1-3 sbb: “Rabbi Shim’on berkata, ‘…Ketika kamu berdoa, janganlah membuat doamu kaku [berulang-ulang, mekanis] namun naikkanlah dengan kerendahan hati dan keindahan di hadapan Yang Maha Ada, diberkatilah Dia”. [f33]
Demikian pula dengan Berakhot 61a sbb: “Ketika kamu menghampiri Yang Maha Kudus, diberkatilah Dia, biarlah kata-katamu sedikit” [f34]

bahkan ucapan Yahshua yang dikenal oleh “Kekristenan” dengan sebutan “Golden Rule” atau “Hukum Emas” ternyata memiliki paralelisasi dengan tulisan-tulisan Apokripha Yahudi seperti Tobit 4:15 sbb: “Apa yang tidak kausukai sendiri, janganlah kauperbuat kepada siapapun. Jangan minum anggur sampai mabuk dan kemabukan jangan menyertai dirimu di jalan” [f35]
Talmud melaporkan sebuah peristiwa pertemuan antara seorang kafir Romawi dengan Hillel dan Shamai dalam Mishnah Shabat 31a] sbb: “Seorang penyembah berhala mendatangi Shamai dan berkata kepadanya, ‘Buatlah aku menjadi seorang Proselite [orang yang mengikut agama Yudaisme], namun dengan syarat bahwa engkau mengajarkan kepadaku keseluruhan Torah, sementara Aku berdiri pada salah satu kaki! Shammai mengusirnya dengan tongkat pengukur bangunan di tangannya. Ketika penyembah berhala tersebut menemui Hillel, dan mengucapkan perkataan yang sama, maka Hillel menjawabnya, ‘Apa yang kamu benci, janganlah kamu melakukannya pada sesamamu. Inilah keseluruhan Torah. Sisanya hanyalah penjelasan. Pergi dan lakukanlah!” [f36]
Perbedaan antara ucapan Yahshua dengan Hillel, bahwasanya Yahshua mengucapkan dalam bentuk positip, “apa yang orang lain ingin lakukan kepadamu, lakukanlah demikian”, sementara Hillel mengucapkan dalam bentuk negatif, “Apa yang kamu tidak ingin orang lain lakukan terhadap dirimu, maka kamupun jangan melakukan demikian”.

Keempat, memberikan informasi dn keterangan yang menguatkan historitas Yahshua Sang Mesias. Meskipun Talmud memberikan kesaksian negatif terhadap Yahshua Sang Mesias, namun kita dapat memperoleh informasi mengenai sikap-sikap orang Yahudi pada saat itu mengenai tokoh Yahshua sebagai tokoh historis. Dalam Mishnah Sotah 47a dikatakan: “Para rabi telah mengajarkan: Hendaklah tangan kiri kita menerima dan tangan kanan kita mengembalikan. Jangan seperti Elisha yang membiarkan Gehazi, menerima dengan kedua tangannya [dan jangan seperti Yahshua ben Peraiah yang menerima murid-muridnya dengan kedua tangannya”. [f37]
Dalam catatan kaki editor diberikan komentar sbb: “Dalam edisi lampau dibaca Yesus dari nazarene. R.T. Herford melmandang bahwa nama Gehazi merupakan petunjuk tersembunyi mengenai Paul murid Yahshua, Band dalam tulisannya yang berjudul, : his Christianity in Talmud and Midrash, pp. 97ff”. [f38]
Dalam Talmud, Yahshua disebut dengan nama ejekan “Yahshua ben Peraiah”. Dan dalam beberapa beberapa tempat, Yahshua disebut dengan “Yeshu ha Notsri”, sebagai bentuk ejekan dan tuduhan bahwa dia tidak memperkenan hati Tuhan, sehingga namanya disingkat dari Yahshua menjadi Yeshu[f39].

Kelima, memberikan suatu pemecahan permasalahan mengenai suatu ayat yang samar dalam TaNaKh dan dibahas dari berbagai sudut pandang beberapa rabbi. Contoh mengenai kalimat “Kemudian kamu harus menghitung, mulai dari hari sesudah sabat itu, yaitu waktu kamu membawa berkas persembahan unjukan [omer] , harus ada genap tujuh minggu;…” [Im 23:15] mengenai penetapan jatuhnya Hari Raya Shavuot atau pentakosta. Frasa “mimakhorat ha shabat [mulai dari hari sesudah shabat] menimbulkan ketidak jelasan. Sebab ada dua Shabat. Yang satu Sabat Pekanan yang jatuh tiap hari Sabtu dan yang kedua Shabat Moedim atau Shabat hari raya yang dapat jatuh hari apa saja, yang penting saat hari raya dimulai, itulah Shabat hari raya.

Terhadap ayat tersebut, Yudaisme terbagi dua. Kaum Farisi menganggap “hari sesudah Shabat” sebagai satu hari setelah Pesakh [14 Nisan] yang jatuh pada tanggal 15 Nisan. Sementara kaum Saduki, memaknainya sebagai Hari Pertama [Minggu]. Akibat perbedaan penafsiran ini, maka akan membuat perbedaan mengenai jatuhnya Hari Raya Shavuot atau Pentakosta. Setiap tahun mesti terjadi selisih kurang lebih 7 hari antara mazhab Farisi dan mazhab Saduki dalam merayakan Hari Raya Shavuot. Talmud membicarakan persoalan itu secara panjang lebar dalam Seder Mo’ed Traktat Shabat.


KESIMPULAN

Dari pengkajian teks dan konteks ZakharYahu 8:23 dengan dilengkapi pengkajian teks-teks Kitab Perjanjian Baru beserta bukti-bukti sejarah, semakin menguatkan bahwa Yahshua Sang Juruslamat secara historis anthropologis adalah “Ish ha Yahudi” – seorang Yahudi. Namun dikarenakan Qahal Mesianik [Gereja] telah tercerabut dari Akar Ibrani [Hebraic Root] maka sosok historis Yahshua mengalami berbagai distorsi, khususnya dalam dunia seni rupa Kristen. Pembuktian bahwa Yahshua adalah seorang Yahudi, memberikan implikasi-implikasi teologis yang serius terhadap “Kekristenan” yang berakar dari Barat [Western Root] yang telah mendistorsi Semitisme Yahshua menjadi sosok manusia yang bersifat Yunani dan Eropa. Salah satu dari implikasi serius tersebut adalah dekonstruksi terhadap sikap Anti-Semitisme atau Anti Yahudi dan mulai melihat dengan jujur teks-teks TaNaKh dan Brit Khadasha, dengan melibatkan literatur-literatur Yahudi seperti Talmud, Midrash, dll, untuk mendapatkan gambaran yang utuh mengenai pengajaran Yahshua yang berlatar belakang Semitik-Hebraik. Marilah kita memegang dengan kuat Tsit-tsit Orang Yahudi itu, karena Elohim beserta dengan-Nya!


Footnote:
[f27] : Jakarta: SAHARA Publishers, 2004, hal 239-243
[f28] : Anti-Semitism of the Church Father http://www.yashanet.com/library/fathers.htm
[f29] : Talmudic Literature as an Historical Source for the Second Temple Period, Jerusalem School of Synoptic Studies, MISHKAN ISSUES No 17/18, 1992-1993
[f30] : Tracey R. Rich, Shabat, 1995-2005, www.jewfaq.org
[f31] : Ibid.,
[f32] : Jewish New Testament, Clarksville, Maryland: Jewish New Testament Publications, 1992, p.xii
[f33] : Ibid., p.31
[f34] : Ibid.,
[f35] : Deuterokanonika Terjemahan Baru, Lembaga Biblika Indonesia, 1976, Alkitab Elektronik Indonesia Seri 2.0.0
[f36] : Ibid., p. 33
[f37] : DR. James D. Price, Yehoshua, Yeshua or Yeshu: Which one is the name of Jesus in Hebrew? www.direct-ca-trinity.yehoshua.html
[f38] : Ibid.,
[f39] : Ibid.,




PDT. TEGUH HINDARTO, MTH
NAFIRI YAHSHUA MINISTRY



Finally I want to say:
"YHWH ELOHEINU WE AVOTENU YEVAREK ETKEM BE SHEM YAHSHUA MOSHIENU. AMN.”








YAHSHUA, YAHUDI, DAN YUDAISME (2)

YAHSHUA, YAHUDI, DAN YUDAISME (2)


( PDT. TEGUH HINDARTO, MTH)

KONSEKWENSI LOGIS PEMAHAMAN BAHWA YAHSHUA SANG MESIAS ADALAH ISH YEHUDI


Pertama, Pengikut Mesias [baik itu Mesianik, Kristen, Katholik, Orthodox, Protestan, Advent, Baptis, Pentakosta, Kharismatik, dll] tidak melibatkan diri dalam kebencian terhadap berbagai hal yang berbau Yahudi atau Anti Semitisme. Anti Semitisme didefinisikan sbb:
“Antisemitism (alternatively spelled anti-semitism or anti-Semitism) is discrimination, hostility or prejudice directed at Jews. While the term's etymology may imply that antisemitism is directed against all Semitic peoples, it is in practice used exclusively to refer to hostility towards Jews as a religious, racial, or ethnic group” [f5].
Artinya, Anti Semitisme {alternatif pengucapan, anti-semitism atau anti-Semitism} merupakan pendiskriminasian, permusuhan atau prasangka yang diarahkan pada orang-orang Yahudi. Meskipun akar istilah ini berdampak bahwa antisemitisme diarahkan pada semua masyarakat Semitik, namun secara praktis digunakan secara ekslusif untuk menunjukkan suatu kebencian terhadap orang-orang Yahudi sebagai sebuah agama, ras atau kelompok etnik.




Ada dua bentuk Anti Semitisme, yaitu Anti Semitisme Keagamaan dan Anti Semitisme Ras[f6]. Berbicara mengenai Anti Semitisme Keagamaan, Kekristenan maupun Islam – sekalipun agama yang berakar Semit – menunjukkan sikap-sikap Anti Semit. Bentuk Anti Semitisme dalam “Kekristenan”, telah berakar sejak tahun 313 Ms ketika Pengikut Mesias non Yahudi yang disebut “Christianoi” semakin memiliki pengaruh di luar Yerusalem [kelompok Pengikut Mesias di Yerusalem disebut “Netsarim” atau “Nazarene”]. Status mereka yang semula dijuluki “Religio Illicita” [agama yang tidak sah] menjadi “Religio Licitta” [agama sah], setelah Kontantin menjadi kaisar. Dan pada tahun 313 Kaisar Konstantin menetapkan “Kekristenan” menjadi agama negara Romawi. Dan semenjak itulah hal-hal yang berkaitan dengan Keyahudian berusaha dipangkas al., Shabat, Sunat, Sheva Moedim, Torah, dll. Sejarawan David Rausch menjelaskan:
“The Gentile Church claimed to be the true Israel and tried to disassociate itself from the Jewish people early in its history” [f7] [Gereja non Yahudi mengklaim menjadi Israel yang benar dan mencoba untuk memutus dirinya dari masyarakat Yahudi dalam sejarahnya]
Sikap-sikap Anti Semitisme oleh “Kekristenan” dan “Gereja”, masih terus terbawa hingga kini. Siap-sikap tersebut terpantul dari pemahaman terhadap Torah yang dimaknai sebagai “Hukum” yang bersifat legalistik. DR. David Stern, seorang Mesianik Yahudi yang telah menaruh kepercayaan pada Yahshua sebagai Mesias, mengakui kesenjangan pemahaman antara Kekristenan dan Yudaisme, ketika membicarakan mengenai Torah. Menurut beliau, jika memperbandingkan buku-buku teologia baik Kristen maupun Yudaisme, akan diperoleh fakta bahwa kedua belah akan bersebrangan pemahaman mengenai topik Torah. Dalam penelusuran berbagai buku teologi Kristen mengenai Torah, al., Augustus Strong’s Systematic Theology, hanya membahas mengenai topik Torah, sebanyak 28 halaman dari 1056 halaman [kurang dari 3%]. Sementara L. Berkhof dalam bukunya Systematic Theology, hanya mengulas sebanyak 3 halaman dari 745 halaman [kurang dari1/2%]. Berbeda dengan buku-buku teologi dikalangan Yudaisme,al., Isidor Epstein’s yaitu the Faith of Judaism,mengulas mengenao Torah sebanyak 57 halaman dari 386 halaman [15%] dan Solomon Schetcher dalam Aspects of Rabbinic Theology mengulas sebanyak 69 halaman dari 343 halaman [20%]. Stern berkesimpulan, ”In short, Torah is the great unexplored territory, the terra incognita of Christian Theology” [f8] [singkatnya, Torah merupakan wilayah yang belum sama sekali digali, suatu wilayah tidak dikenal dalam Teologi Kristen].

Pemahaman yang keliru terhadap Torah masih mengakar dalam bentuk Teologi Dispensasional dan Teologi Covenant. Dispensasionalisme merupakan pokok Teologi yang mendasarkan pada sejumlah penafsiran teks Kitab Perjanjian Baru dengan pemahaman bahwa Yahweh memili 2 program yaang berbeda, yaitu untuk Israel dan untuk Gereja. Apa yang menjadi janji milik Israel, tidak dapat dilakukan oleh Gereja. Jika Israel memelihara Sabat [Kel 20:8-11], maka Gereja memelihara Hari Tuhan [1 Kor 16:2]. Jika Israel adalah istri dari Yahweh [Hos 3:1] maka Gereja adalah Tubuh Mesias [Kol 1:27] [f9]. Covenant merupakan pokok Teologia yang berkeyakinan bahwa Yahweh membuat 2 perjanjian, yaitu Perjanjian Perbuatan yang dibangun sejak Adam sampai zaman Israel. Perjanjian ini gagal dilakukan oleh Adam. Lalu Yahweh memberikan Perjanjian kedua yaitu Perjanjian Anugrah, melalui Yahshua, yang dengan sempurna melaksanakan perjanjian tersebut.

Membenci berbagai hal yang berbau Yahudi, berarti membenci Mesias, karena Mesias kita adalah orang Yahudi. Hans Ucko menggambarkan sikap-sikap Kekristenan terhadap kenyataan bahwa Mesias adalah Yahudi sbb: “Gereja Kristen, teologi Kristen dan Kekristenan secara keseluruhan, tidak terpisahkan dengan umat Yahudi atau Yudaisme. Orang Yahudi dan Kristen memiliki Kitab Suci yang sama. Iman Kristen lahir dalam lingkungan Yahudi. Gereja masih saja ragu apakah kenyataan tersebut dinilai sebagai berkat atau kutuk. Sejumlah kecil orang Kristen melihat hubungan diatas sebagai suatu masalah dan berupaya memecahkannya dengan membatasi kitab Perjanjian Lama dan agama umat Israel di satu sisi dan Yudaisme di sisi lainnya. Dengan cara ini, seseorang sebenarnya ‘membebaskan’ orang Israel dari keyahudiannya. Pendekatan tersebut mencerminkan sebentuk rasa sulit [bagi orang Kristen atas hubungannya yang terlalu dekat dengan umat Yahudi dan dengan Yudaisme yang hidup saat ini. Seseorang memang tidak mudah mengakui akibat dari memilih ‘Tuhan Yahudi’ itu” [f10].
Memutuskan hubungan sejarah bahwa Yahshua adalah Bangsa Yahudi, bahwasnya “Kekristenan” berakar dari Yudaisme, menimbulkan konsekwensi teologis yang mendalam, berupa kehilangan orientasi dan kesatuan iman dan tata ibadat. Nelly Van Doorn-Harder, MA., menjelaskan kenyataan di atas sbb: “…proses melupakan warisan keyahudian ini berawal dari pengajaran mengenai amanat Kristen diluar tanah asalnya sendiri, tanah Palestina, yakni ketika pesan Kristen ini dikontekstualisasikan dengan cara menyerap budaya-budaya dan ide-ide lokal seperti ide-ide filsafat Yunani…Dalam kenyataan, yang terjadi adalah para reformator bahkan membawa gereja keluar jauh dari warisan aslinya karena mereka dipengaruhi oleh suatu budaya yang berorientasikan ilmu pengetahuan sebagai hasil dari Renaisance. Sehingga keaslian sikap Kristen Yahudi yang senantiasa berdialog secara konstan dengan [Elohim] yang penuh simbol dan misteri, sama sekali hilang dari kehidupan liturgi Protestan dan diganti oleh penekanan ala Protestan yakni doktrin…anti Yahudi telah memberi andil terhadap paham [ide] bahwa Kekristenan adalah sebuah agama yang betul-betul asli dan tidak menggunakan unsur Yudaisme apapun. Melupakan akar-akar keyahudian, memberikan konsekwensi-konsekwensi serius terhadap kehidupan liturgi Kristen. Bila orang-orang Kristen tidak lagi memahami arti sepenuhnya latar belakang keyahudian dalam kehidupan liturgi mereka, kontroversi-kontroversi seperti yang ada dalam interpretasi mengenai perjamuan kudus, mulai nampak diantara orang-orang Kristen. Akibat dari kontroversi-kontroversi ini adalah munculnya perpecahan-perpecahan dan aliran-aliran dalam gereja” [f11].
Mengenai Anti Semitisme dikalangan Islam, dapat terlihat dengan beredarnya berbagai buku al., “Talmud: Kitab Hitam Yahudi Yang Menggemparkan” [f12], “Menyingkap Tabir Orientalisme” [f13], “Kenapa Kita Tidak Berdamai Saja Dengan Yahudi” [f14], “Sejarah Islam Dicemari Zionis Dan Orientalis” [f15], “Yahudi Menggenggam Dunia” [f16], “Rahasia Gerakan Freemasonry Dan Rotary Club” [f17]. Berbagai buku di atas mengekspresikan suatu kebencian terhadap Yahudi yang dipicu oleh berbagai ketegangan di wilayah Palestina sejak tahun 1948. Para penulis tersebut tidak hanya merujuk pada tahun 1948 sebagai pemicu kebencian terhadap Yahudi, namun menarik lebih awal sampai pada tahun awal perkembangan Islam, di mana komunitas Yahudi selalu membuat pengkhianatan terhadap Islam. Inti buku-buku tersebut menegaskan bahwa Yahudi bertanggung jawab terhadap berbagai kebijakan politik dan ekonomi serta kebudayaan yang merusak dan menyengsarakan dunia ketiga khususnya dunia Islam. Berbagai kebijakkan tersebut menyelusup masuk secara rahasia dan konspiratif dengan berbagai organisasi-organisasi rahasiannya seperti Freemasonry dan Iluminasi dll.

Namun semangat berbagai tulisan di atas, tidak diamini oleh semua golongan Islam. Di antaranya Amin Rais menyatakan: “Kita tidak pernah tahu kebenaran teori konspirasi itu. Bukti-bukti ke arah sana tidak pernah ada yang meyakinkan, kecuali hanya dugaan-dugaan, perasaa-perasaan. Pertanyaannya, sampai kapan kita tersandera dalam dugaan-dugaan seperti itu? Bukankah hidup ini harus berjalan dan tidak perlu seluruh waktu kita dihabiskan untuk menjawab sesuatu yang tidak jelas?” [f18]
Pengikut Mesias [baik itu Mesianik, Kristen, Katholik, Orthodox, Protestan, Advent, Baptis, Pentakosta, Kharismatik, dll] tidak perlu melibatkan diri dalam sikap penuh prasangka dan kebencian terhadap Yahudi. Akar-akar kebencian tersebut telah terlacak dalam sejarah dan dimulai oleh prasangka-prasangka teologis yang tidak berdasar sama sekali.

Meskipun kita tidak melibatkan dalam sikap-sikap yang penuh kebencian terhadap Yahudi, namun bukan berarti kita menyetujui berbagai aktifitas atau tindakan Yahudi sebagai negara yang dapat saja terjatuh dalam berbagai kebijakkan yang keliru dalam panggung politik dunia, khususnya dalam hal menangani konflik dengan Palestina. Hans Ucko mengingatkan sbb: “Disaat tentara Israel membom rumah-rumah orang Palestina dan menutup kegiatan di sekolah-sekolah anak Palestina itu, ada saja orang Kristen [yang terlibat dalam dialog Yahudi-Kristen] mengatakan tanpa pertimbangan apapun bahwa negara Israel adalah tanda kemurahan Elohim kepada umatNya. Dan tidak ada sedikitpun disinggung soal hak asasi manusia. Namun, sebagaimana kita ketahui, etika dan janji Elohim mesti selalu dijalankan beriringan. Bisa saja banyak orang Kristen yang ragu untuk mengkritik negara Israel, karena sikap itu seolah menghidupkan kembali sejarah yang buruk yang ditempuh antara orang Kristen dan Yahudi dimasa lalu. Ketakutan itupun bisa muncul karena keengganan mereka dicap sebagai anti-semitisme.Namun, apakah memang mengkritik kebijakan negara Israel akan selalu berarti bersikap anti semitisme? Kami yakin bahwa kritik terhadap kebijakan-kebijakan pemerintahan Israel tidak dengan sendirinya menjadi sikap anti yahudi. Demi mencari keadilan, kritik yang berkelanjutan perlu dilancarkan terhadap negara-negara dan gerakan-gerakan politik, yang tentu saja tidak harus berarti mencemarkan penduduknya dan lebih lagi persekutuan iman yang ada di negeri itu. Pernyataan-pernyataan yaang menyangkut tindakan negara Israel bukanlah pernyataan yang diarahkan kepada umat Yahudi atau Yudaisme, karena pernayataan itu menjadi bagian resmi dari perdebatan dalam masyarakat dunia. Sikap-sikap kritis yang sama pun akan muncul dari dalam atau dari luar, terhadap negara-negara dan gerakan-gerakan politik yang mengklaim nilai-nili kekristenan sebagai dasarnya” [f19]
Dengan penjelasan di atas, kita benar-benar berusaha obyektif dan mengambil jarak terhadap persoalan yang kita hadapi, yaitu memandang Israel sebagai sebuah wilayah geopolitik dan memandang Israel sebagai sumber agama-agama Semitik, sehingga kita tidak terjebak pada fanatisme buta sekaligus menjaga dari sikap Anti Semitik.

Kedua, Pengikut Mesias [baik itu Mesianik, Kristen, Katholik, Orthodox, Protestan, Advent, Baptis, Pentakosta, Kharismatik, dll] tidak perlu malu dan mengingkari ekspresi Keyahudian dalam ungkapan iman dan ekspresi ibadah. penggunaan Tallit, Tsit-tsit, Kippah, Shofar, Megillot [gulungan kitab], Ta’amaei ha Miqra [melantunkan Torah], penggunaan bahasa Ibrani dalam pembacaan Kitab Suci serta midrashim [pengajaran], sekalipun itu merupakan produk kebudayaan Yahudi, namun semua mengekspresikan suatu sikap penghormatan terhadap Firman Yahweh. Pengikut Mesias tidak perlu membuang ekspresi ibadah-ibadah tersebut, karena dengan menyertakan ornamen-ornamen ibadah tersebut, justru memperkaya jati diri keagamaan yang berakar pada nilai-nilai Hebraik Yudaik.

Ketiga, Pengikut Mesias [baik itu Mesianik, Kristen, Katholik, Orthodox, Protestan, Advent, Baptis, Pentakosta, Kharismatik, dll] harus memahami cara berpikir Yahudi untuk memahami sejumlah idiom dan kebudayaan Yahudi dalam teks Kitab Suci. Apa yang dimaksudkan dengan “cara berpikir Yahudi/Ibrani?” Tim Hegg menjelaskan sbb: “To think Hebraically means to think like a Hebrew did in ancients times. Why would this be important? Because the Scriptures, for the most part, were written by Hebrews [Jews]. In fact, only Luke of all the writers of Scriptures was not a Jew by birth [at least by modern scholarly opinion]. Thus, if we’re going to understand the manner of speech, the way words are used, and the way important issues of life are described by someone in the Hebrew culture, we must understand, in general terms, how the Hebrew people thought-how they looked at life-their world view” [f20]
Artinya, “Berpikir secara Ibrani berarti berpikir sebagaimana orang Ibrani berpikir pada zaman lampau. Mengapa hal ini demikian penting? Karena sebagain besar isi Kitab Suci, dituliskan oleh orang-orang Ibrani. Sebenarnya, hanya Lukas dari keseluruhan penulis Kitab Suci yang bukan seorang Yahudi berdasarkan kelahirannya [setidaknya menurut pendapat sarjana modern]. Agar kita dapat memahami yaitu cara berbicara, mengenai kata-kata yang dipergunakan serta pentingnya persoalan-persoalan kehidupan yang digambarkan oleh seseorang dalam kebudayaan Ibrani, maka kita harus memahami dengan istilah umum, mengenai bagaimana orang Ibrani berpikir, bagaimana mereka melihat kehidupan – pandangan dunia yang mereka miliki”.

Jika kita meneliti setiap peristiwa dan ungkapan, pernyataan Yahshua dan para rasul-Nya dalam Kitab Perjanjian Baru [Brit Khadasha], sarat dengan berbagai latar belakang dan idiom Ibrani. Contoh: “menggenapkan dan membatalkan Torah” [Mat 5:17], “mata baik mata buruk” [Mat 6:22], “mengambil roti dan mengucap syukur” [Mrk 14:22], “Yahshua mengambil roti dan memberikan kepada para murid-murid-Nya” [Yoh 21:13] “memecah-memecah roti di rumah masing-masing” [Kis 2:46], “rumah ibadat” [Mrk 6:2], “melakukan kewajiban agamamu” [Mat 6:1] “Terpujilah Engkau Yahweh [Why 19:5]”, dll. Pernyataan-pernyataan di atas tidak akan dipahami oleh pembaca modern yang tidak berlatar belakang Ibrani, sehingga menimbulkan persepsi yang salah yang berkembang dalam berbagai rangkaian doktrin yang berbeda-beda dalam “Kekristenan”.

Mari kita mengkaji beberapa di antaranya. Doktrin mengenai Perjamuan Kudus, merupakan misinterpretasi terhadap suatu ritual yang dilakukan Yahshua dan para murid-murid-Nya menjelang penangkapan dan penyaliban-Nya. Jika kita meneliti latar belakang Yudaisme pada Abad Pertama Masehi, maka apa yang dilakukan Yahshua bukanlah suatu ritual yang terlepas dari konteksnya. Apa yang dilakukan Yahshua merupakan suatu ritual Seder Pesakh, di mana setiap jatuh Tgl 14 Nisan saat orang-orang Yahudi merayakan Pesakh, maka ditiap-tiap rumah keluarga Yahudi, dilangsungkan Seder Pesakh yang mengikuti liturgi tertentu. Dalam Seder Pesakh ada ritual memakan “Matsah” atau Roti Tidak Beragi serta meminum anggur sebanyak lima kali. Dalam Seder Pesakh, ada tradisi mencari “Afikomen” yaitu belahan Matsah yang dibungkus dalam kain putih dan disembunyikan dan pada ujung ritual akan dicari dan ditemukan oleh anak-anak.Apa yang dilakukan Yahshua beberapa jam sebelum penangkapan-Nya adalah pelaksanaan Seder Pesakh. Namun Yahshua memberikan makna baru dan menghubungkan isi dari Seder Pesakh itu kepada diri-Nya. Roti dan anggur yang diminum, menunjuk pada tubuh dan darah-Nya yang akan dikorbankan bagi keselamatan banyak orang[f21].

Berbeda dengan arti memecah roti dalam Seder Pesakh, maka pengertian “memecah roti” dalam Markus 14:22 dan Kisah Rasul 2:46, hanyalah ucapan birkat saat hendak makan harian dengan diiringi ungkapan, “Baruk Attah Yahweh Eloheinu Hu Melek ha O’lam ha motsi lekhem min ha arets” [Diberkatilah Engkau Yahweh Elohim Raja Semesta Alam yang memberikan roti dari bumi]. Namun ayat-ayat ini dipahami oleh mayoritas “Kekristenan” sebagai perjamuan kudus harian.

Studi yang lebih mendalam mengenai sujumlah pernyataan yang mengandung idiom Hebraik, dapat mengkaji karya-karya berikut:

DR. David Bivin & Roy Blizard, Understanding the Dificults Words of Jesus” , Destiny Image Publishers, 1994 atau dapat diakses di www.JCStudies.com
Robert H. Stein, Difficult Pasages in the Gospels, baker Book House, 1986

Selain kajian di atas, kita dapat memperdalam berbagai penjelasan dan idiom-idiom Hebraik, dalam sejumlah terjemahan Kitab Suci yang mengangkat tema Hebraik dengan disertai komentar-komentar ilmiah al.,
DR. James Trimm, The Hebraic Root Scriptures, Society for Advancement Nazarene Judaism, 2001
The Scriptures, The Institute for Scripture Research, Northriding, Republic of South Africa, 2000
Orthodox Jewish Brit Khadasha, Artist for Israel International, New York, 1996 [www.beittikvahsynagogue.org],
Rabbi Yoseph Moshe Koniuchowsky, Restoration Scriptures, Your Arms to Yisrael Publishing, 2005

Keempat, Pengikut Mesias [baik itu Mesianik, Kristen, Katholik, Orthodox, Protestan, Advent, Baptis, Pentakosta, Kharismatik, dll] harus mendefinisikan ulang sosok pencitraan Yahshua dalam ekspresi seni, khususnya seni rupa. Berbagai ekspresi seni rupa atau seni lukis “Kekristenan”, cenderung menampilkan sosok Yahshua yang tidak bercirikan Yahudi sama sekali melainkan lebih mencirikan seorang Yunani dan Eropa. Berkaitan dengan kenyataan di atas, Hans Ucko memberikan ulasan sbb:
“Adalah menarik mengamati bagaimana orang-orang Kristen di banyak tempat berupaya menjadikan [Yahshua] sebagai salah seorang dari kelompok mereka, seolah [Yahshua] hidup dalam kebudayaan dan keprihatinan yang sama dengan mereka. [Yahshua] menjadi [Yahshua] orang Afrika, [Yahshua] orang palestina, [Yahshua] orang Amerika Latin. Hal seperti ini memang perlu, sebab upaya tadi memperkaya kekristenan. Namun akibatnya terkadang orang lupa siapa [Yahshua] yang sesungguhnya. Baru akhir-akhir inilah ada upaya mengembalikan [Yahshua] ke dalam keyahudian-Nya…Seni rupa Kristen memang bercermin pada gagasan Kristen. Akibatnya, ada keraguan untuk melukiskan-Nya sebagai seorang Yahudi. Hanya Marc Chagall, pelukis Yahudi ini, yang senantiasa melukis wajah [Yahshua] orang Nazaret yang disalibkan itu dengan muka seorang Yahudi yang letih, disertai dengan syal doa-Nya yang berwarna hitam-putih yang menutupi pinggul-Nya sampai ke bawah” [f22]
Untuk memvisualisasikan perbedaan penggambaran mengenai sosok Yahshua, mari kita melihat gambar di bawah ini:






Gambaran di atas memberikan suatu visualisasi mengenai Yahshua yang lebih bercorak Yunani daripada seorang Yahudi. Bandingkan dengan gambar di bawah ini yang menampilkan sosok Yahshua yang lebih mendekati keyahudian-Nya.





Bukanlah suatu kesalahan ataupun kejahatan melukiskan Yahshua dengan corak yang disesuaikan dengan kultur bangsa-bangsa yang menerima Dia sebagai Mesias. Persoalannya adalah bahwa secara kultural Yahshua adalah seorang Yahudi, maka diperlukan suatu “kejujuran estetis” dalam menuangkan sosok Yahshua yang historis sebagai seorang Yahudi, agar tidak menimbulkan “distorsi historis “dan “distorsi genealogis” terhadap pribadi Yahshua Sang Mesias.

Kelima, Pengikut Mesias [baik itu Mesianik, Kristen, Katholik, Orthodox, Protestan, Advent, Baptis, Pentakosta, Kharismatik, dll] perlu memberikan perhatian pada pengkajian literatur keagamaan Yudaisme pra Mesias khususnya Talmud, untuk mendapatkan gambaran mengenai latar belakang ucapan dan ajaran Yahshua. Talmud didefinisikan sebagai:
The Talmud is a record of rabbinic discussions pertaining to Jewish law, ethics, customs and history. The Talmud has two components: the Mishnah (c. 200 CE), the first written compendium of Judaism's Oral Law; and the Gemara (c. 500 CE), a discussion of the Mishnah and related Tannaitic writings that often ventures onto other subjects and expounds broadly on the Tanakh. The terms Talmud and Gemara are often used interchangeably. The Gemara is the basis for all codes of rabbinic law and is much quoted in other rabbinic literature. The whole Talmud is also traditionally referred to as Shas (a Hebrew abbreviation of shisha sedarim, the "six orders" of the Mishnah) [f23].
Artinya, “Talmud merupakan kumpulan diskusi-diskusi rabinik yang menyinggung mengenai hukum Yahudi, etika, kebiasaan dan sejarah. Talmud terdiri dari dua susunan: Misnah [200 Ms] kumpulan tulisan pertama dari Hukum Lisan Yahudi dan Gemara [500 Ms] sebuah diskusi mengenai Mishnah dan berhubungan dengan tulisan-tulisan Tannaitik yang terkadang melibatkan suatu spekulasi mengenai topik lain dan memperluas kajian dalam TaNaKh. Istilah Talmud dan Gemara dapat dipakai secara bergantian. Gemara adalah dasar bagi keseluruhan pemecahan masalah hukum Yahudi dan banyak dikutip dalam literatur rabinik. Keseluruhan Talmud terkadang disebut dengan Shas [singkatan Ibrani dari shisha sedarim “enam urutan” dari Mishnah].

Talmud memiliki dua versi. Versi Babilonia dan versi Yerusalem. Talmud Babilonia lebih lengkap dan tebal. Misnah terdiri atas enam pokok bahasan [sedarim] yaitu “Zeraim” [mengenai benih tanaman], “Moed” [mengenai perayaan], “Nashim” [mengenai wanita], “Nezikin” [mengenai persoalan yang dilarang], “Kodashim” [mengenai perkara yang kudus], “Toharot” [mengenai ritual penyucian diri]. Disetiap topik bahasan [sedarim] terdiri dari banyak sub bahasan [masekhot]. Keseluruhannya ada 63 masekhot dalam Misnah[f24]. Susunan Talmud sebagaimana dijelaskan di atas sbb: [f25] SEDER ZERA‘IM
• Tractate Berakoth
SEDER MO‘ED
• Tractate Shabbath
SEDER NASHIM
• Tractate Yebamoth
• Tractate Kethuboth
• Tractate Nedarim
• Tractate Nazir
• Tractate Sotah
• Tractate Gittin
II. SEDER NEZIKIN
• Tractate Baba Kamma
• Tractate Baba Mezi‘a
• Tractate Baba Bathra
• Tractate Sanhedrin
• Tractate ‘Abodah Zarah
• Tractate Horayoth
SEDER KODASHIM
SEDER TOHOROTH
• Tractate Niddah
• Tractate Tohoroth



Footnote:
[f5] : "http://en.wikipedia.org/wiki/Antisemitism"
[f6] : Ibid.,
[f7] : Messianic Judaism: Its History, Theology and Polity, Lewiston, New York: Edwin Mellen Press, 1982, p.13]
[f8] : Messianic Jewish Manifesto, Jewish New Testament Publications, 1991, p.126
[f9] : Band. Paul Enns, The Moody Hand Book of Theology, Literatur SAAT, 2004.
[f10] : Akar Bersama: Belajar tentang Iman Kristen dari Dialog Kristen-Yahudi, Jakarta: BPK, 1999, hal 5
[f11] : Akar-akar Keyahudian dalam Liturgi Kristen, dalam : Jurnal Teologi GEMA Duta Wacana, no 53, Yogyakarta: 1998, hal 72-73
[f12] : Jakarta: SAHARA Publishers, 2004, hal 239-243
[f13] : DR. Ahmad Abdul Hamid Ghurab, Jakarta: Pustaka Al Kautsar, 1993
[f14] : Muhsin Anbataani, Jakarta: Gema Insani Press, 1993
[f15] : DR. Jamal Abdul Hadi Muhamad Mas’oud dan DR. Wafa Muhamad Rif’at Huj’ah, Jakarta: Gema Insani Press, 1993
[f16] : William G. Carr, Jakarta: Pustaka Al Kautsar, 1993
[f17] : Muhamad Fahim Amin, Jakarta: Pustaka Al Kautsar, 1992
[f18] : Tajuk KOMPAS 13 Juni 2002
[f19] : Op.Cit., Akar Bersama,: Belajar tentang Iman Kristen dari Dialog Kristen-Yahudi, hal 15
[f20] : Interpreting the Bible: An Introduction to Hermeneutics, TorahResources.com Distance Learning Yeshiva, 2000, p. 20
[f21] : Band. Buletin Nafiri Yahshua Vol 27/2006 hal 32-39
[f22] : Op.Cit., Akar Bersama, hal 6-7
[f23] : http://en.wikipedia.org/wiki/Talmud
[f24] : Tracey R. Rich, Torah, 1995-1999, www.jewfaq.org
[f25] : by Rabbi Dr. Isidore Epstein of Jews’ College, London, http://www.come-and-hear.com/talmud
[f26] : Rachmiel Frydland, When Talmud is Right, http://www.menorah.org/whentlir.html




PDT. TEGUH HINDARTO, MTH
NAFIRI YAHSHUA MINISTRY



Finally I want to say:
"YHWH ELOHEINU WE AVOTENU YEVAREK ETKEM BE SHEM YAHSHUA MOSHIENU. AMN.”